Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar peringatan milad Imam Ali ar-Ridha as pada Selasa, 28 April 2026, dengan menghadirkan Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat sebagai penceramah. Dalam ceramahnya, beliau membahas berbagai tema yang saling berkaitan, mulai dari makna zikrullah dalam Al-Qur’an, pentingnya menghadiri majelis Ahlul Bait as, hak-hak persaudaraan dan silaturahmi, hingga konsep keadilan sosial dalam ajaran Imam Ali ar-Ridha as yang menurut beliau dapat melahirkan masyarakat dan bangsa yang mandiri serta bermartabat.

Pada awal ceramah, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat mengangkat pertanyaan seseorang yang mengaku banyak berzikir di bulan Ramadan tetapi belum merasakan ketenangan hati. Dari situ, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat mulai menjelaskan makna zikrullah dalam Al-Qur’an. Beliau membacakan firman Allah swt:

Alā bidzikrillāhi tathma’innul qulūb

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)

Menurut beliau, ayat tersebut tidak bisa dipahami secara dangkal hanya sebatas zikir lisan. Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah swt dalam Al-Qur’an memiliki makna yang sangat dalam. Beliau mencontohkan istilah baitullah, kitabullah, dan zikrullah. Menurut beliau, Ka’bah bukan berarti Allah swt, kitabullah juga bukan Allah swt secara zat, demikian pula zikrullah memiliki makna yang jauh lebih luas dan lebih mendalam daripada sekadar ucapan verbal manusia. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa bahasa Arab Al-Qur’an sendiri merupakan bagian dari hikmah ilahiah. Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:

Innā ja‘alnāhu qur’ānan ‘arabiyyan

“Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 3)

Beliau menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an bukan kebetulan sejarah, tetapi bagian dari perencanaan dan hikmah Allah swt. Karena itu, menurut beliau, terdapat banyak rahasia dan pola dalam susunan kata Al-Qur’an yang menunjukkan kedalaman maknanya.

Dalam ceramah tersebut, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat juga sempat menjelaskan isi buku terbarunya yang berjudul Daqaiqul Quran. Menurut beliau, buku tersebut membahas pola-pola dan pengulangan tertentu dalam Al-Qur’an yang menurutnya tidak terjadi secara kebetulan. Beliau mencontohkan adanya pengulangan angka tertentu serta kata-kata yang dinisbatkan kepada Allah swt. Dari pembahasan itu, beliau kemudian masuk pada penjelasan tentang istilah “zikr” dalam Al-Qur’an dengan mengutip Surah At-Talaq ayat 10–11:

Qad anzalallāhu ilaikum dzikrā. Rasūlan yatlū ‘alaikum āyātillāhi mubayyināt

“Sungguh Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (yaitu) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan.” (QS. At-Talaq [65]: 10–11)

Beliau menjelaskan bahwa pada ayat tersebut kata “dzikr” dijelaskan dengan kata “rasūlan”, sehingga menurut beliau Rasulullah saw sendiri adalah manifestasi zikrullah. Dari penjelasan tersebut, beliau kemudian mengaitkannya dengan firman Allah swt:

Fas’alū ahladz-dzikri in kuntum lā ta‘lamūn

“Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)

Menurut beliau, “ahludz dzikr” dalam ayat tersebut dipahami sebagai Ahlul Bait Nabi saw yang menjadi pewaris ilmu Rasulullah saw. Karena itu, beliau menegaskan bahwa mengenal, mencintai, dan mengikuti Ahlul Bait as merupakan bagian dari zikrullah yang sejati dan menjadi sebab ketenteraman hati manusia.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa majelis-majelis Ahlul Bait as seperti wiladah dan syahadah memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Menurut beliau, menghadiri majelis seperti ini bukan sekadar menghadiri acara seremonial, tetapi merupakan bagian dari zikrullah yang menghadirkan ketenangan hati dan keberkahan besar. Beliau mengutip penjelasan Allamah Thabathabai tentang pentingnya menghadiri majelis-majelis Ahlul Bait as karena di dalamnya terdapat zikrullah yang memberikan pengaruh spiritual mendalam kepada manusia. Dalam kesempatan itu, beliau juga menyinggung fenomena berkurangnya kehadiran fisik di majelis-majelis pasca pandemi COVID-19 karena masyarakat mulai terbiasa mengikuti siaran daring. Namun menurut beliau, tetap ada keberkahan tersendiri dalam pertemuan fisik antarsesama mukmin yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh media daring.

Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat kemudian menceritakan pengalaman pribadinya ketika berada di Haram Imam Ali ar-Ridha as di Mashhad. Menurut beliau, di sana sering diadakan kultum singkat antara salat Magrib dan Isya. Suatu ketika beliau mendengar seorang penceramah mengajak jamaah untuk mendoakan orang-orang yang sudah tidak lagi didoakan keluarganya, makam-makam yang telah dilupakan, dan orang-orang yang sudah tidak lagi diingat manusia. Menurut beliau, perkataan itu sangat menyentuh hatinya hingga membuatnya berhenti berjalan dan menangis. Dari pengalaman tersebut, beliau kemudian mulai mendalami hadis-hadis tentang silaturahmi dan hak sesama mukmin.

Beliau lalu menyampaikan hadis qudsi tentang orang yang mengunjungi saudaranya tanpa kepentingan duniawi. Menurut beliau, Allah swt menyatakan bahwa siapa yang datang mengunjungi saudaranya hanya karena persaudaraan, tanpa hajat dan kepentingan pribadi, maka Allah sendiri yang akan menjadi tuan rumahnya. Dari situ beliau menjelaskan betapa besar nilai spiritual silaturahmi dalam Islam. Beliau kemudian mengutip hadis tentang pahala amal-amal sosial. Menurut beliau, sedekah berpahala sepuluh kali lipat, memberi pinjaman berpahala delapan belas kali lipat, sedangkan silaturahmi memiliki pahala dua puluh empat kali lipat. Karena itu, beliau menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, tetapi ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah swt dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada manusia.

Dalam ceramah tersebut, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat juga membahas pentingnya mengucapkan salam. Beliau menjelaskan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa dalam satu salam terdapat tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan bagi orang yang memulai salam dan satu bagi yang menjawab. Menurut beliau, karena besarnya pahala tersebut, Rasulullah saw dan para Imam Ahlul Bait as tidak pernah terdahului dalam mengucapkan salam. Beliau kemudian menceritakan kisah Abu Dzar yang bersembunyi di balik pohon kurma dengan harapan dapat mendahului Rasulullah saw mengucapkan salam. Namun sebelum Abu Dzar keluar dari persembunyiannya, Rasulullah saw justru lebih dahulu mengucapkan salam kepadanya. Menurut beliau, hal itu menunjukkan bahwa Rasulullah saw dan Ahlul Bait as tidak pernah terdahului dalam amal kebaikan.

Beliau juga menekankan pentingnya adab meminta maaf. Menurut beliau, seseorang seharusnya tidak meminta maaf dengan kalimat “kalau saya punya salah”, karena hal itu menunjukkan seolah dirinya tidak merasa bersalah. Beliau menjelaskan bahwa meminta maaf adalah bentuk kemuliaan dan kerendahan hati, bukan kehinaan. Karena itu, seseorang harus berani mengakui kesalahan secara jujur ketika meminta maaf kepada orang lain.

Pembahasan kemudian beralih pada tema keadilan sosial dan penghormatan terhadap pekerja. Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, pekerja bukan sekadar alat produksi, tetapi manusia yang memiliki kehormatan dan hak besar atas diri kita. Beliau mengutip hadis:

A‘thul ajīra ajrahu qabla an yajiffa ‘araqahu

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”

Menurut beliau, hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam menjaga hak-hak pekerja. Beliau mengaku sering merenungkan bagaimana hadis itu diterapkan dalam kehidupan modern ketika banyak pekerja baru menerima upah setelah waktu yang panjang, padahal tenaga dan keringat mereka telah lama diberikan. Menurut beliau, ajaran Islam menghendaki adanya penghormatan nyata terhadap pengorbanan dan kerja manusia.

Beliau juga mengutip hadis:

Ikhwānukum khawalukum

“Para pekerja kalian adalah saudara-saudara kalian.”

Menurut beliau, hadis tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara majikan dan pekerja dalam Islam dibangun di atas persaudaraan, bukan semata hubungan ekonomi. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa para Imam Ahlul Bait as memperlakukan para pelayan dan pekerja mereka dengan sangat manusiawi. Imam duduk bersama mereka, makan bersama mereka, dan tidak menunjukkan perbedaan status yang mencolok. Beliau lalu mencontohkan riwayat Imam Ali as yang membeli pakaian lebih mahal untuk pembantunya dibanding pakaian untuk dirinya sendiri karena beliau tidak ingin meninggikan dirinya di atas orang lain. Menurut beliau, nilai keadilan seperti inilah yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan sosial umat Islam.

Dalam ceramahnya, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat juga menceritakan pengalaman di lingkungan pendidikan ketika ada murid yang memprotes guru terlambat datang dengan alasan sudah membayar SPP. Menurut beliau, cara berpikir seperti itu kurang tepat karena ilmu, perhatian, kasih sayang, dan pengorbanan guru tidak dapat dibayar hanya dengan uang sekolah. Beliau menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu mengganti waktu, tenaga, perhatian, dan pengorbanan orang lain hanya dengan materi. Karena itu, menurut beliau, manusia harus belajar menghargai jasa dan pengorbanan orang lain, baik guru, pekerja, maupun siapa pun yang berkhidmat kepada masyarakat.

Pada bagian akhir ceramahnya, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat menghubungkan nilai keadilan sosial dengan kemandirian bangsa. Beliau menyampaikan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang memperhatikan hak-hak rakyatnya dan membangun hubungan sosial yang adil. Menurut beliau, pembicaraan masyarakat tentang Iran berkaitan dengan kemampuan suatu bangsa mempertahankan kemandirian dan harga dirinya di tengah tekanan global. Beliau menegaskan bahwa Iran bukan pihak yang memulai perang, tetapi berada dalam posisi mempertahankan diri dari tekanan dan agresi pihak lain. Menurut beliau, kemampuan suatu bangsa untuk bertahan sangat terkait dengan kemandirian ekonomi, solidaritas sosial, dan keberanian mempertahankan prinsip-prinsip keadilan.

Beliau menegaskan bahwa masyarakat yang dipenuhi rasa persaudaraan dan keadilan akan memiliki daya tahan yang kuat terhadap dominasi pihak luar. Karena itu, menurut beliau, keteladanan Imam Ali ar-Ridha as bukan hanya berkaitan dengan ibadah individual, tetapi juga mencakup keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pembentukan masyarakat yang bermartabat. Di akhir ceramahnya, beliau berharap agar kaum muslimin mampu membangun masyarakat yang dipenuhi kasih sayang, persaudaraan, penghormatan terhadap hak sesama, serta memiliki keberanian menjaga kehormatan dan kemandirian umat dengan meneladani Rasulullah saw dan Ahlul Bait as.