Syaikh Mohammad Sharifani membahas faktor psikologis yang dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam dosa dalam Khutbah Jumat di ICC Jakarta, Jumat, 11 September 2026. Setelah pada khutbah-khutbah sebelumnya menguraikan faktor budaya, ekonomi, sosial, dan keluarga, kali ini beliau menjelaskan bahwa kondisi kejiwaan seseorang juga dapat menjadi pintu masuk menuju dosa. Ada tiga faktor psikologis yang beliau bahas, yaitu ketidaktahuan seseorang terhadap nilai dirinya, tekanan ekonomi yang berkembang menjadi tekanan psikologis, dan angan-angan palsu.
Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pembahasan dengan menjelaskan bahwa seseorang yang tidak menyadari siapa dirinya dan seberapa tinggi nilai dirinya sebagai manusia dapat lebih mudah tergelincir ke dalam dosa. Al-Qur’an telah menjelaskan kemuliaan manusia melalui firman Allah swt:
Wa laqad karramnā banī Ādam.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra [17]: 70)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kemuliaan. Namun, kemuliaan manusia terdiri atas dua jenis. Pertama adalah kemuliaan esensial, yakni kemuliaan yang melekat pada diri manusia sebagai manusia. Kemuliaan tersebut ada tanpa melihat terlebih dahulu apa yang dilakukan seseorang.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk yang menunjukkan kemuliaan esensial manusia. Pertama, manusia merupakan makhluk yang berhak menyandang kedudukan sebagai khalifatullah di muka bumi. Ketika Allah swt menyampaikan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menciptakan khalifah di bumi, yang dimaksud adalah manusia.
Kedua, manusia merupakan makhluk yang menerima amanat dari Allah swt. Beliau mengingatkan firman Allah swt tentang amanat yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya. Manusia kemudian menerima amanat tersebut.
Ketiga, Allah swt menciptakan berbagai hal di dunia dan memberikannya kepada manusia. Syaikh Mohammad Sharifani mengaitkannya dengan lanjutan ayat tentang kemuliaan Bani Adam yang menyebutkan bahwa manusia diberi kemampuan untuk menguasai daratan dan lautan serta diberikan rezeki yang baik. Semua itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kehormatan dan kemuliaan secara esensial.
Namun, selain kemuliaan yang melekat pada dirinya, manusia juga dapat memperoleh kemuliaan melalui usaha dan kerja keras. Semakin besar usaha yang dilakukan untuk memperoleh kemuliaan tersebut, semakin tinggi pula kedudukannya di tengah masyarakat.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan lima hal yang dapat membuat seseorang memperoleh kemuliaan melalui usaha. Pertama adalah kerja keras. Manusia akan mendapatkan hasil dari apa yang diusahakannya.
Wa an laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
Kedua adalah ketakwaan. Semakin tinggi takwa seseorang, semakin tinggi pula kemuliaannya di sisi Allah swt.
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Ketiga adalah ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang dan semakin besar penguasaannya terhadap ilmu, semakin terhormat pula dirinya di tengah masyarakat. Keempat adalah jihad, yaitu perjuangan di jalan Allah swt. Orang yang berjihad di jalan Allah memperoleh kemuliaan karena perjuangannya. Kelima adalah iman. Orang yang beriman diangkat derajatnya oleh Allah swt.
Yarfa‘illāhulladzīna āmanū minkum.
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Menurut beliau, kelima hal tersebut dapat diperoleh dengan usaha dan menjadi sumber kemuliaan manusia. Orang yang memiliki kemuliaan karena takwa, iman, ilmu, kerja keras, dan jihad akan hidup dengan terhormat dan memiliki kedudukan yang baik di tengah masyarakat.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa nilai manusia sedemikian tinggi sehingga dalam sebuah riwayat disebutkan, “Tsamanukum al-jannah,” yang beliau maknai bahwa nilai setiap manusia adalah surga. Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa jika nilai diri seseorang adalah surga, jangan menjual diri kecuali dengan harga surga.
Ada pula riwayat yang mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah orang yang mengetahui nilai dirinya. Manusia juga diperintahkan untuk hidup secara terhormat karena memang dirinya memiliki kehormatan dan tidak seharusnya menjalani kehidupan dengan cara yang hina.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, orang yang benar-benar memahami nilai dan kemuliaan dirinya tidak akan mudah melakukan perbuatan yang dapat mencoreng kehormatannya. Ia tidak akan berdusta, melakukan gibah, bersikap munafik, berkhianat, atau menyombongkan diri karena ia mengetahui nilai dirinya.
Sebaliknya, perilaku-perilaku buruk tersebut menunjukkan bahwa seseorang belum mengenali nilai dirinya. Beliau mengutip sebuah hadis:
Lā yakdzibu al-kadzdzābu illā min mahānati nafsih.
“Tidaklah seseorang berdusta kecuali karena kehinaan dirinya.”
Menurut beliau, kebohongan dapat muncul karena seseorang merasa rendah sehingga perlu membangun citra dirinya dengan cara yang tidak benar. Padahal, jika seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki kehormatan, ia tidak perlu berbohong.
Orang yang memiliki kemuliaan juga tidak akan merendahkan kemuliaan orang lain. Ia tidak akan dengan mudah melakukan gibah karena mengetahui bahwa orang yang sedang dibicarakannya juga memiliki kehormatan sebagai manusia. Demikian pula, ia tidak akan memilih kemunafikan atau tindakan buruk lainnya.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menilai banyak dosa sosial pada hakikatnya berkaitan dengan ketidaktahuan manusia terhadap siapa dirinya dan seberapa tinggi nilai dirinya.
Faktor psikologis kedua yang beliau bahas adalah tekanan ekonomi dan tekanan kejiwaan yang dapat muncul karenanya. Menurut beliau, seseorang sering kali melihat orang lain berhasil dalam kehidupan sementara dirinya mengalami kesulitan ekonomi. Perbandingan tersebut dapat menimbulkan ganjalan di dalam hati dan berkembang menjadi tekanan psikologis.
Allah swt, menurut beliau, ketika memberikan nikmat kepada seorang hamba juga memerintahkannya untuk memanfaatkan nikmat tersebut. Manusia tidak seharusnya membiarkan nikmat Allah swt tanpa dimanfaatkan dengan baik.
Beliau mengutip firman Allah swt:
Qul man ḥarrama zīnatallāhillatī akhraja li‘ibādihī waṭ-ṭayyibāti minar-rizq.
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’” (QS. Al-A’raf [7]: 32)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt adalah Zat Yang Mahindah dan menyukai keindahan. Karena itu, ketika Allah memberikan nikmat kepada manusia, nikmat tersebut hendaknya digunakan dengan baik. Kenikmatan tidak semestinya justru menjadi ganjalan di dalam hati karena tidak dinikmati atau tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Dalam sebuah riwayat, menurut beliau, apabila seseorang memiliki rezeki lebih, hendaknya ia memberikan nafkah yang lebih kepada keluarganya. Jangan sampai seorang ayah atau suami memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, tetapi keluarganya hanya diberikan sekadar memenuhi kebutuhan dasar hingga muncul ganjalan dalam hati ketika melihat kondisi ekonomi yang dimilikinya.
Jika seseorang mampu menyediakan rumah yang lebih baik, maka dapat diberikan rumah yang lebih baik. Jika mampu menyediakan fasilitas kehidupan yang lebih baik, maka dapat diberikan fasilitas yang lebih baik. Begitu pula apabila mampu membeli kendaraan yang lebih baik, maka hal tersebut dapat dilakukan. Pada intinya, menurut beliau, nikmat Allah swt boleh dinikmati.
Namun, semua itu harus diperoleh melalui jalan yang halal. Keinginan untuk memberikan kehidupan ekonomi yang baik kepada keluarga tidak boleh membuat seseorang mencari rezeki melalui cara-cara yang haram.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, hal tersebut penting agar tidak muncul ganjalan psikologis di dalam keluarga. Ganjalan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi tekanan batin dan pada akhirnya mendorong seseorang melakukan tindakan yang berujung pada dosa.
Faktor psikologis ketiga adalah angan-angan palsu. Beliau membedakan antara cita-cita yang dibangun bersama usaha dan angan-angan yang tidak disertai proses.
Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh seseorang yang membayangkan bahwa 20 tahun mendatang dirinya akan menjadi ilmuwan besar atau menjadi seorang miliarder. Menurut beliau, angan-angan semacam itu dapat menjadi angan-angan yang logis apabila dibarengi usaha dan kerja keras. Manusia memang membutuhkan mimpi dan harapan agar terdorong untuk bergerak.
Namun, ada orang yang menginginkan hasil besar dalam waktu yang sangat singkat tanpa melalui proses. Seseorang ingin menjadi miliarder hanya dalam hitungan hari atau bulan. Ada pula yang ingin menjadi alim, ulama besar, atau ilmuwan besar tetapi tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh.
Beliau juga mengaitkan persoalan tersebut dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, seseorang dapat menggunakan aplikasi berbasis AI untuk membantu memecahkan berbagai persoalan. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat manusia merasa tidak perlu lagi belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh.
Angan-angan tanpa proses itulah yang beliau sebut sebagai angan-angan palsu. Padahal, manusia hanya akan memperoleh sesuatu melalui usaha.
Beliau kemudian mengingatkan sebuah riwayat yang menekankan agar manusia tidak menginginkan hasil tanpa amal. Surga dijadikan sebagai contoh: seseorang yang menginginkan surga di akhirat harus beramal, beribadah, dan berusaha.
Prinsip tersebut, menurut beliau, juga berlaku untuk berbagai keberhasilan dan kenikmatan di dunia. Apa pun yang ingin dicapai manusia tetap membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh.
Al-Qur’an telah menegaskan:
Wa an laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa angan-angan yang tinggi tanpa usaha dapat mendorong seseorang mencari jalan yang tidak benar untuk mewujudkannya. Bahkan, orang tersebut dapat mulai menganggap orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua dan saudara-saudaranya, sebagai pihak yang menghalangi tercapainya keinginan tersebut. Dalam kondisi tertentu, menurut beliau, angan-angan palsu bahkan dapat menjadi salah satu penyebab seseorang melakukan kejahatan terhadap orang-orang terdekatnya.
Di akhir khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani merangkum tiga faktor psikologis yang telah dibahas. Pertama, ketidakmampuan atau ketidaktahuan seseorang dalam memahami nilai dirinya sebagai manusia. Kedua, tekanan ekonomi yang dapat berkembang menjadi tekanan psikologis. Ketiga, angan-angan palsu yang tidak dibarengi proses, usaha, dan kerja keras. Ketiga faktor tersebut, menurut beliau, dapat menjadi pendorong manusia untuk terjerumus ke dalam lumpur dosa.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan beberapa hal. Beliau mengingatkan peristiwa 11 September 2001 ketika dua menara World Trade Center runtuh dalam sebuah peristiwa yang menggemparkan dunia. Menurut beliau, peristiwa tersebut kemudian menjadi awal dari sebuah program besar yang dijalankan oleh apa yang beliau sebut sebagai arogansi dunia.
Sebagai seorang Mukmin, menurut beliau, manusia harus tanggap terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dunia dan tidak boleh lalai terhadap keadaan di sekitarnya.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada jamaah Islamic Cultural Center yang sering hadir dalam berbagai majelis serta ikut menjaga kebersihan aula tempat kegiatan berlangsung. Beliau mengatakan bahwa tidak lama lagi ICC juga akan menyediakan lokasi atau tempat yang dapat digunakan untuk bercengkerama, berbicara, dan bertemu di luar aula sehingga seluruh area Islamic Cultural Center dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Beliau kemudian menyampaikan informasi mengenai agenda ICC pada pekan berikutnya. Bertepatan dengan peringatan milad Imam Hasan Al-Askari as, Islamic Cultural Center akan mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad saw pada Sabtu berikutnya. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak ikhwan dan akhwat yang memiliki kemampuan dalam dekorasi atau bidang lainnya untuk ikut membantu mempersiapkan acara agar peringatan tersebut dapat berlangsung lebih meriah.
Beliau juga mengajak jamaah untuk menghadiri kegiatan tersebut bersama sanak keluarga. Kerja sama dan partisipasi jamaah, menurut beliau, akan disambut dengan baik agar peringatan Maulid Nabi saw dan milad Imam Hasan Al-Askari as dapat dilaksanakan dengan semeriah mungkin.



