Khutbah Jumat ICC Jakarta pada Jumat, 4 September 2026 disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani dengan membahas dosa dan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan dosa. Dalam khutbah kali ini, beliau secara khusus menguraikan lisan sebagai salah satu sumber dosa yang paling mudah dilakukan, sekaligus menjelaskan sepuluh kaidah yang perlu diperhatikan agar manusia mampu menjaga lisannya. Pada khutbah kedua, beliau menekankan bahwa manusia tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari perkataan buruk orang lain, bahkan para nabi, para hujah Allah, dan orang-orang suci pun pernah menjadi sasaran tuduhan dan ucapan yang menyakitkan.
Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan riwayat dari Rasulullah saw bahwa dalam keadaan apa pun dan di mana pun seseorang berada, ia hendaknya senantiasa berpegang teguh kepada ketakwaan kepada Allah swt. Apabila seseorang melakukan kesalahan dan dosa, hendaknya kesalahan itu segera diikuti dengan perbuatan baik karena kebaikan tersebut dapat menghapus dosa.
Pembahasan mengenai dosa, beliau jelaskan, telah disampaikan dalam beberapa khutbah Jumat sebelumnya. Kali ini beliau mengajak jemaah melihat dosa dari sisi pembagiannya. Jika dosa ditinjau berdasarkan proses terjadinya, terdapat dosa yang membutuhkan persiapan dan ada pula dosa yang dapat dilakukan tanpa persiapan sama sekali.
Dosa jenis pertama memerlukan berbagai mukadimah atau persiapan. Ada waktu, tempat, alat, ataupun kondisi tertentu yang harus tersedia sebelum seseorang dapat melakukannya. Beliau memberikan contoh pembunuhan. Seseorang yang hendak melakukan pembunuhan biasanya harus merencanakan tindakannya, menyiapkan alat yang akan digunakan, serta mempersiapkan berbagai hal lainnya. Hal serupa juga berlaku pada perbuatan seperti zina atau meminum minuman keras yang memerlukan kondisi dan keadaan tertentu.
Namun, terdapat jenis dosa yang tidak memerlukan persiapan seperti itu. Dosa tersebut dapat dilakukan begitu saja tanpa modal dan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam keadaan apa pun. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, salah satu dosa tersebut adalah dosa yang bersumber dari lisan.
Karena itu, beliau mengajak jemaah memahami bahwa lisan bukan sekadar anggota tubuh yang tampak sederhana dan seolah tidak memiliki pengaruh besar. Lisan memiliki persoalan yang sangat besar karena kata-kata yang keluar darinya dapat mengubah kehidupan manusia.
Untuk menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan, beliau mengutip sejumlah riwayat. Salah satunya berasal dari Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as:
“Keimanan seorang hamba tidak akan menjadi lurus sampai hatinya lurus, dan hatinya tidak akan menjadi lurus sampai lisannya lurus.”
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia berkaitan dengan hati. Sementara itu, keadaan hati juga berkaitan erat dengan lisan. Karena itu, apabila di dalam hati seseorang terdapat kebaikan, hal tersebut akan tampak melalui lisannya. Sebaliknya, keburukan yang terdapat dalam hati juga dapat tercermin melalui ucapan.
Beliau kemudian mengutip riwayat lain yang mengajarkan bahwa manusia dapat dikenal melalui lisannya. Selama seseorang diam, orang lain mungkin tidak mengetahui siapa dirinya. Namun, ketika ia berbicara, dari kata-katanya dapat diketahui karakter dan kepribadiannya.
Dalam riwayat lain, Amirul Mukminin Imam Ali as menyatakan:
“Lisan adalah kunci segala kebaikan dan segala keburukan.”
Menurut penjelasan beliau, begitu banyak kebaikan dapat muncul karena lisan, tetapi begitu pula begitu banyak keburukan dapat terjadi hanya karena ucapan.
Karena itu, menjaga lisan juga berarti mengetahui kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa diam merupakan salah satu pintu hikmah atau kebijaksanaan. Seseorang yang ingin dicintai oleh masyarakat tidak seharusnya merasa perlu mengatakan segala sesuatu yang ada di dalam pikirannya. Dalam banyak keadaan, diam justru lebih baik.
Beliau juga mengutip ungkapan:
“Diam dapat mendatangkan kecintaan.”
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang yang membiarkan lisannya berbicara tanpa kendali dan mengatakan apa pun yang terlintas di kepalanya pada akhirnya akan dinilai sebagai orang yang tidak mampu menjaga ucapan. Karena itu, masyarakat pun dapat kehilangan rasa hormat dan kecintaan kepadanya. Sebaliknya, orang yang lebih banyak diam dan berbicara dengan penuh perhitungan akan dipandang sebagai orang yang tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata.
Menurut beliau, kata-kata juga dapat menentukan bagaimana seseorang dipandang oleh masyarakat. Dengan kata-kata, wajah seseorang seakan dapat bercahaya dan menjadi terhormat, disukai, serta dihargai. Namun, dengan kata-kata pula seseorang dapat dibenci dan kehilangan kehormatan. Karena itu, beliau memohon kepada Allah swt agar seluruh jemaah dilindungi dari lisan yang tidak mampu dijaga.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan setidaknya sepuluh kaidah dalam menjaga lisan. Kaidah pertama adalah seseorang tidak boleh berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Jika ingin berbicara, ia harus berbicara berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan sekadar mengulang apa yang didengar dari orang lain.
Beliau mengutip firman Allah swt:
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm.
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra [17]: 36)
Menurut beliau, seseorang tidak boleh hanya karena mendengar orang lain mengatakan sesuatu kemudian ikut mengulanginya, padahal ia sendiri tidak mengetahui apakah ucapan tersebut benar atau tidak. Begitu pula ketika hendak membantah suatu pernyataan, harus ada dalil dan argumentasi yang jelas.
Beliau juga mengingatkan bahwa orang-orang yang masuk neraka digambarkan sebagai mereka yang mendustakan sesuatu yang tidak mereka pahami ilmunya. Karena itu, manusia harus berhati-hati sebelum mengucapkan suatu penilaian atau kesimpulan.
Kaidah kedua adalah bahwa ucapan harus kuat, kokoh, dan memiliki dasar. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan makna sadid dalam Al-Qur’an dengan mengambil gambaran sebuah bendungan yang kokoh menahan air agar tidak keluar. Demikian pula kata-kata yang disampaikan hendaknya memiliki dasar yang kuat dan tidak mudah digoyahkan.
Allah swt berfirman:
Wa qūlū qaulan sadīdan.
“Ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70)
Menurut beliau, ketika seseorang menyampaikan perkataan yang kokoh dan memiliki landasan, Allah swt akan memberikan kebaikan pada ucapan tersebut. Allah swt kemudian berfirman:
Yusliḥ lakum a‘mālakum wa yaghfir lakum dzunūbakum.
“Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 71)
Dengan demikian, kata-kata yang benar dan kokoh bukan hanya menjadi ucapan yang baik, tetapi juga dapat menjadi jalan perbaikan amal dan pengampunan dosa.
Kaidah ketiga adalah bahwa ucapan tidak boleh merugikan, menyinggung, atau menjatuhkan orang lain. Allah swt berfirman:
Wa qūlū linnāsi ḥusnā.
“Ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memberikan contoh dari cara Rasulullah saw menghadapi seorang anak muda yang berbicara ketika salat berjemaah. Para sahabat marah dan menghardiknya. Rasulullah saw kemudian meminta mereka membiarkan anak muda tersebut dan beliau sendiri yang menanganinya.
Rasulullah saw menjelaskan kepada anak muda itu bahwa di dalam salat hanya terdapat tiga hal yang boleh diucapkan, yaitu zikir, doa, dan bacaan Al-Qur’an. Dengan cara tersebut, Rasulullah saw secara tidak langsung menjelaskan bahwa tindakan anak muda tersebut keliru, tetapi beliau menyampaikannya tanpa menusuk hati, mempermalukan, atau menyerang anak tersebut. Dari sini, Syaikh Mohammad Sharifani menunjukkan bagaimana ajaran tentang lisan juga harus diterapkan dengan kelembutan.
Kaidah keempat adalah keadilan dalam berbicara. Jangan sampai seseorang karena menyukai seseorang lalu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Sebaliknya, karena membenci seseorang, jangan pula mengucapkan sesuatu yang membuat Allah swt murka.
Allah swt berfirman:
Wa idzā qultum fa‘dilū.
“Apabila kamu berkata, hendaklah kamu berlaku adil.” (QS. Al-An‘am [6]: 152)
Menurut beliau, ukuran dalam berbicara haruslah keadilan, bukan rasa suka atau rasa benci kepada seseorang.
Kaidah kelima adalah bahwa apa yang dikatakan hendaknya diamalkan. Seseorang tidak sepatutnya hanya menyampaikan nasihat kepada orang lain tanpa menjalankannya sendiri.
Allah swt berfirman:
Kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf‘alūn.
“Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff [61]: 3)
Untuk menjelaskan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, Syaikh Mohammad Sharifani mengisahkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Dalam sebuah peperangan, beberapa sahabat gugur sebagai syuhada, sementara sebagian besar pasukan kembali ke Madinah.
Pada masa Perang Badar, seorang ayah dan anak datang menghadap Rasulullah saw dan menyampaikan keinginan mereka untuk sama-sama memperoleh kesyahidan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa hanya salah satu dari mereka yang akan maju karena keduanya tidak mungkin sama-sama syahid dalam keadaan tersebut. Kemudian dilakukan undian, dan anaknya yang maju ke medan perang sementara ayahnya kembali.
Anak tersebut kemudian gugur sebagai syahid. Sang ayah setelah itu datang kepada Rasulullah saw dan menanyakan kapan tiba gilirannya untuk menjadi syahid. Pada tahun berikutnya, ketika Perang Uhud terjadi, ia kembali datang kepada Rasulullah saw dan menanyakan apakah saatnya telah tiba baginya untuk menyusul putranya.
Rasulullah saw menjawab bahwa saatnya telah tiba dan mempersilakannya bergabung dengan pasukan. Orang tersebut kemudian maju dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
Peristiwa tersebut berkaitan dengan firman Allah swt:
Minal-mu’minīna rijālun ṣadaqū mā ‘āhadullāha ‘alaihi, fa minhum man qaḍā naḥbahū wa minhum may-yantaẓir, wa mā baddalū tabdīlā.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 23)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan sosok yang mengatakan sesuatu kemudian benar-benar bergerak untuk melaksanakannya. Ia tidak hanya berbicara mengenai kesyahidan, tetapi benar-benar mempersiapkan diri untuk menunaikannya.
Kaidah keenam adalah menjaga adab dan etika ketika berbicara. Menurut beliau, sebaik apa pun barang dagangan yang dimiliki seseorang, apabila barang itu ditawarkan dengan cara yang tidak sopan, pembeli pun tidak akan tertarik. Demikian pula dalam berbicara. Pesan yang baik tetap membutuhkan cara penyampaian yang baik.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia untuk menjaga adab ketika berbicara kepada kedua orang tua.
Wa qul lahumā qaulan karīman.
“Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23)
Menurut beliau, adab, tata krama, dan etika menjadi hiasan bagi seseorang di tengah masyarakat.
Kaidah ketujuh adalah bahwa apa yang dibicarakan harus dapat dipahami oleh orang lain. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa terkadang ada orang yang senang menggunakan istilah-istilah yang tidak dikenal oleh lawan bicaranya sehingga pesan yang sebenarnya ingin disampaikan justru tidak dimengerti.
Padahal, risalah Rasulullah saw sendiri merupakan risalah penyampaian. Allah swt berfirman:
Balligh mā unzila ilaik.
“Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Penyampaian tersebut tentu mengandung tujuan agar pesan dapat dipahami. Kalau pesan yang disampaikan tidak dapat dimengerti oleh orang yang menerimanya, maka tujuan penyampaian tersebut tidak tercapai. Karena itu, beliau menekankan pentingnya qaulan balighan, yakni perkataan yang sampai dan dapat dipahami.
Kaidah kedelapan adalah mengetahui kapan dan di mana harus berbicara. Seseorang harus memperhatikan momen dan keadaan. Jangan sampai seseorang menghadiri majelis duka atas wafatnya seorang perempuan, tetapi pembicaraan yang dibawakan justru sama sekali tidak berkaitan dengan keadaan yang sedang dihadapi. Dalam keadaan seperti itu, pembicaraan seharusnya disesuaikan dengan konteks, misalnya berbicara tentang musibah yang dialami Sayidah Fatimah Az-Zahra as atau Sayidah Zainab as.
Begitu pula apabila sebuah majelis diselenggarakan untuk mengenang Ali Al-Asghar as, pembahasannya harus disesuaikan dengan tema tersebut, bukan justru beralih membahas tokoh lain yang tidak berkaitan dengan konteks majelis. Menurut beliau, seseorang harus mampu menempatkan dirinya sesuai waktu, tempat, dan momentum.
Kaidah kesembilan dan kesepuluh yang disampaikan dalam penjelasan tersebut bermuara pada pentingnya tidak berlebihan dalam berbicara. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa seseorang hendaknya tidak memperpanjang pembicaraan. Hal yang penting cukup disampaikan secara jelas tanpa membuat ucapan menjadi panjang dan bertele-tele.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani membawa jemaah kepada persoalan yang sering terjadi akibat lisan manusia, yaitu ucapan orang lain yang menyakitkan hati. Beliau mengisahkan seorang bernama Alqamah yang datang kepada Imam Ja’far Shadiq as untuk mengeluhkan perkataan orang-orang yang menurutnya sangat menusuk hati dan membuat kehidupannya terasa sempit.
Imam Ja’far Shadiq as kemudian menjelaskan bahwa apabila seseorang berharap seluruh manusia akan mengatakan sesuatu yang baik tentang dirinya dan ia dapat terbebas dari ucapan buruk semua orang, harapan tersebut tidak mungkin terwujud. Para rasul, para nabi, dan para hujah Allah pun menghadapi manusia yang perkataannya menyakitkan. Mereka juga mendengar tuduhan dan ucapan yang tidak menyenangkan.
Menurut beliau, lisan manusia bukan sesuatu yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh orang lain. Kepuasan seluruh manusia juga merupakan sesuatu yang mustahil diraih. Karena itu, seseorang tidak boleh menjadikan penilaian dan ucapan semua orang sebagai ukuran kehidupannya.
Imam Ja’far Shadiq as kemudian memberikan sejumlah contoh mengenai perkataan masyarakat yang menyakitkan para nabi dan orang-orang suci. Bahkan mereka yang memiliki kedudukan paling mulia pun tidak selamat dari lisan manusia.
Beliau mengingatkan bahwa Nabi Yusuf as, dengan segala kemuliaannya, pernah menjadi sasaran tuduhan masyarakat. Nabi Ayub as yang mendapatkan ujian berupa penyakit juga pernah dituduh menderita karena merupakan orang yang berdosa. Ketika sembuh dari sakitnya dan ditanya mengenai dosa terbesar, disebutkan bahwa beliau menjelaskan betapa menyakitkannya lisan manusia yang tidak dapat dijaga.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyebut tuduhan yang dialamatkan kepada Nabi Daud as, seakan-akan beliau melihat istri tetangganya, jatuh cinta kepadanya, lalu mengirim suaminya ke medan perang hingga tewas agar dapat menikahi wanita tersebut.
Nabi Musa as juga pernah dituduh membunuh saudaranya dan tidak memiliki keturunan. Nabi Isa putra Maryam as bahkan dituduh sebagai anak zina karena ibunya tidak pernah menikah. Rasulullah saw pun pernah dituduh sebagai orang gila dan seorang penyair. Amirul Mukminin Imam Ali as juga pernah dituduh sebagai orang yang haus kekuasaan.
Melalui contoh-contoh tersebut, Imam Ja’far Shadiq as mengingatkan Alqamah bahwa jika orang-orang suci yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah swt pun tidak terbebas dari ucapan dan tuduhan masyarakat, bagaimana mungkin seseorang berharap dirinya akan selamat sepenuhnya dari perkataan seluruh manusia?
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyampaikan ucapan selamat atas peringatan milad Rasulullah saw. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan peringatan Maulid Nabi saw di tanah air. Beliau menyampaikan bahwa dalam waktu tidak lama lagi Islamic Cultural Center juga akan mengadakan peringatan Maulid Nabi saw dengan menghadirkan tamu yang, insyaallah, akan datang dari Iran.
Khutbah kemudian ditutup dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas:
Qul huwallāhu aḥad. Allāhuṣ-ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1–4)



