Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta bersama Syaikh Mohammad Sharifani pada Kamis, 6 Agustus 2026 membahas makna tadaruk, yaitu sikap merendahkan diri di hadapan Allah swt dengan menyadari kelemahan dan ketergantungan manusia kepada-Nya. Dalam penjelasannya, beliau menguraikan bahwa sikap tersebut tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, tetapi membutuhkan sebab dan proses yang membuat manusia menyadari kelemahan dirinya, menerima perintah Allah swt, serta kembali kepada-Nya ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tadaruk berarti merendahkan diri di hadapan Allah swt dan menyadari kelemahan diri di hadapan-Nya. Menurut beliau, seseorang tidak dapat tiba-tiba menjadi manusia yang sepenuhnya taat, patuh, dan merasa membutuhkan Allah swt tanpa adanya sebab-sebab yang mendorong munculnya sikap tersebut dalam jiwa.
Karena itu, beliau mengajak jemaah memahami berbagai sebab yang dapat menumbuhkan tadaruk. Tujuannya adalah agar manusia dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang rendah hati di hadapan Allah swt dan bersedia menerima seluruh perintah-Nya.
Sebab pertama yang beliau jelaskan adalah memenuhi ajakan para nabi dan rasul. Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Allah swt mengutus para nabi kepada suatu masyarakat, kemudian masyarakat tersebut menghadapi berbagai kesulitan, persoalan, bahkan musibah. Kesulitan itu pada hakikatnya memiliki hikmah karena melalui kesulitan tersebut manusia diharapkan kembali menyadari keberadaan Allah swt dan hak-hak-Nya yang mungkin telah mereka lupakan atau langgar.
Menurut beliau, ketika manusia mengalami persoalan, seharusnya ia menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam dirinya. Kesulitan tersebut semestinya mendorong manusia kembali kepada utusan Allah swt untuk mendengarkan dan mengikuti petunjuk yang disampaikan.
Sebab kedua adalah kesulitan yang dihadapi manusia dalam kehidupan. Menurut beliau, berbagai kesulitan dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk merendahkan diri di hadapan Allah swt. Namun, tidak semua manusia mengambil pelajaran dari kesulitan yang dialaminya. Ada orang-orang yang tetap keras kepala dan sombong sehingga sekalipun telah mengalami berbagai kesulitan, mereka tidak mau kembali kepada Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip Surah Al-Mu’minun yang menggambarkan keadaan orang-orang yang telah diberikan azab atau kesulitan yang berat, tetapi mereka tidak juga merendahkan diri kepada Allah swt.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada mereka azab, tetapi mereka tidak juga tunduk kepada Tuhan mereka dan tidak merendahkan diri.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 76)
Dari ayat tersebut, beliau menjelaskan bahwa berbagai kesulitan dan persoalan yang diberikan Allah swt kepada manusia pada dasarnya bertujuan menunjukkan kelemahan dan kekurangan manusia. Dengan menyadari bahwa dirinya lemah, manusia diharapkan kembali kepada Allah swt dan memohon pertolongan-Nya.
Selain kesulitan, sebab lain yang dapat membuat manusia kembali kepada Allah swt adalah azab atau hukuman. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam Surah Al-Mu’minun ayat 64–65 terdapat gambaran mengenai orang-orang yang hidup berlebihan, gemar berfoya-foya, dan melakukan berbagai hal yang tidak bermanfaat. Ketika mereka mendapatkan azab, tujuan dari azab tersebut adalah agar mereka kembali kepada Allah swt dan menyadari bahwa perilaku berlebihan yang mereka lakukan sesungguhnya bertentangan dengan perintah-Nya.
Beliau menegaskan bahwa azab memiliki berbagai bentuk. Namun, dalam konteks yang dibahas, kesulitan yang menimpa orang-orang yang hidup berfoya-foya seharusnya menjadi sarana untuk mengembalikan mereka kepada Allah swt. Melalui kesulitan tersebut, mereka diharapkan menyadari kesalahan dan memahami bahwa kehidupan yang berlebihan merupakan bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah swt.
Setelah menjelaskan sebab-sebab yang dapat membuat manusia merendahkan diri di hadapan Allah swt, Syaikh Mohammad Sharifani kemudian membahas manfaat yang diperoleh ketika seseorang telah menyadari kelemahannya, membutuhkan Allah swt, dan kembali kepada-Nya.
Beliau mengambil contoh dari kisah Nabi Nuh as. Dalam Surah Al-Anbiya, Nabi Nuh as digambarkan sebagai seorang nabi yang memohon kepada Allah swt ketika menghadapi perilaku umatnya yang penuh dosa dan kejahatan. Nabi Nuh as merendahkan diri dan berdoa kepada Allah swt, kemudian Allah mengabulkan doanya dan memberikan pertolongan dalam menghadapi kesulitan tersebut.
Menurut beliau, salah satu bentuk pertolongan Allah swt kepada Nabi Nuh as adalah ditenggelamkannya orang-orang yang mengingkari Allah swt. Kisah tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang benar-benar merendahkan diri di hadapan Allah swt, pertolongan-Nya dapat datang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi.
Manfaat kedua dari tadaruk, lanjut beliau, adalah Allah swt membantu manusia mengatasi berbagai kesulitan dalam kehidupannya. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengambil contoh dari kisah Nabi Yunus as yang disebut dalam Surah Al-Anbiya ayat 87–88.
La ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaz-zālimīn.
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87)
Beliau menjelaskan bahwa doa tersebut diucapkan Nabi Yunus as ketika berada di dalam perut ikan. Nabi Yunus as berada dalam keadaan sedih dan gelap, kemudian menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan apa pun selain berserah diri kepada Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pengakuan Nabi Yunus as dalam doa tersebut tidak berarti seorang nabi melakukan dosa. Menurut beliau, hal itu justru menjadi pelajaran mengenai bagaimana seorang nabi menunjukkan ketundukan dan penghambaan kepada Allah swt. Para nabi memiliki kemaksuman, tetapi mereka tetap menunjukkan kerendahan diri dan penghambaan yang sempurna kepada Allah swt.
Setelah Nabi Yunus as memohon kepada Allah swt, Allah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan.
Fastajabnā lahu wa najjaynāhu minal-ghammi wa kadzālika nunjil-mu’minīn.
“Maka Kami mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya [21]: 88)
Menurut beliau, kisah Nabi Yunus as menunjukkan bahwa manusia perlu memahami kelemahannya ketika menghadapi persoalan. Dalam keadaan sulit, manusia hendaknya datang kepada Allah swt dengan kesadaran bahwa dirinya membutuhkan pertolongan-Nya. Ketika manusia berdoa dengan ketulusan tersebut, Allah swt memberikan pertolongan dan mengeluarkannya dari kesedihan.
Manfaat berikutnya adalah seseorang yang merendahkan diri dan berdoa dengan tulus kepada Allah swt akan dibentuk menjadi pribadi yang sabar terhadap ketetapan-Nya. Syaikh Mohammad Sharifani mengaitkannya dengan Surah Al-Qalam ayat 48–50 yang berbicara tentang Nabi Yunus as.
Fasbir liḥukmi rabbika wa lā takun kaṣāḥibil-ḥūt…
“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam perut ikan…” (QS. Al-Qalam [68]: 48)
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut ditujukan kepada Rasulullah saw agar bersabar terhadap ketetapan Allah swt. Nabi Yunus as dijadikan sebagai pelajaran karena beliau pernah berada dalam kesulitan, kemudian berdoa kepada Allah swt dan diselamatkan dari kesedihan.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, inti dari ayat tersebut adalah agar manusia ketika berada dalam kesulitan memahami betapa lemahnya dirinya dan menyadari bahwa hanya Allah swt yang mampu menyelesaikan serta memberikan pertolongan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Dengan sikap tersebut, doa manusia diharapkan memperoleh ijabah dari Allah swt.



