Skip to main content

Majelis Tahlil untuk syahadah Ayatullah Ali Khamenei diselenggarakan di Islamic Cultural Center Jakarta pada Minggu malam, 1 Maret 2026. Acara ini dihadiri oleh para jamaah dari berbagai kalangan yang datang untuk mendoakan serta mengenang perjuangan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran tersebut. Syahadah Ayatullah Ali Khamenei sendiri terjadi di tengah serangan militer besar yang mengguncang Iran dan menewaskan banyak korban, termasuk tokoh-tokoh penting negara itu.

Acara diawali dengan sambutan dari Ustaz Umar Shahab yang menekankan bahwa berkumpulnya kaum muslimin dalam majelis tersebut merupakan bentuk kesetiaan dan kecintaan kepada Ayatullah Ali Khamenei serta jalan perjuangan yang diwakilinya. Menurut Ustaz Umar Shahab, kehadiran para jamaah bukan sekadar untuk menyampaikan duka, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa perjuangan para pemimpin umat tidak berhenti dengan wafatnya mereka.

Dalam sambutannya, Ustaz Umar Shahab menyinggung besarnya musibah yang menimpa Iran akibat serangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa bukan hanya para pemimpin militer dan ulama yang gugur, tetapi juga masyarakat sipil, termasuk anak-anak. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi duka yang dirasakan oleh kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Ustaz Umar Shahab kemudian menjelaskan bahwa wafatnya seorang alim merupakan kehilangan besar bagi umat Islam. Ia mengutip riwayat yang menyatakan bahwa kematian seorang alim merupakan celah dalam agama yang tidak mudah tertutup. Terlebih lagi jika yang wafat adalah seorang pemimpin besar yang mengabdikan hidupnya untuk membela Islam dan kaum tertindas.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa setiap peristiwa berada dalam kehendak Allah swt. Ia mengajak jamaah untuk memandang peristiwa tersebut dalam kerangka keimanan dan tawakal kepada Allah swt. Menurutnya, meskipun musuh-musuh Islam merencanakan berbagai tipu daya, pada akhirnya kehendak Allah swt tetap berada di atas segala rencana manusia.

Ia kemudian membacakan firman Allah swt:

Wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn
Mereka membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 54)

Ayat tersebut, menurut Ustaz Umar Shahab, mengajarkan bahwa orang-orang zalim mungkin merencanakan kejahatan terhadap para pemimpin dan pejuang Islam, tetapi Allah swt memiliki rencana yang lebih besar. Karena itu, kaum muslimin tidak boleh berputus asa ataupun kehilangan harapan.

Ustaz Umar Shahab juga menggambarkan keberanian Ayatullah Ali Khamenei yang tetap tegar menghadapi ancaman hingga akhir hayatnya. Ia menyebut bahwa meskipun telah lanjut usia, Ayatullah Ali Khamenei tetap menunjukkan keteguhan dalam memimpin dan membela umat Islam. Menurutnya, keberanian tersebut lahir dari keyakinan yang kuat kepada Allah swt dan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Ia juga menyinggung bahwa Ayatullah Ali Khamenei dikenal sering memohon kepada Allah agar dianugerahi kesyahidan. Doa-doa tersebut, menurutnya, menunjukkan kerinduan seorang mukmin kepada perjumpaan dengan Allah swt dalam keadaan membawa pengorbanan di jalan-Nya.

Dalam bagian lain sambutannya, Ustaz Umar Shahab mengajak jamaah untuk menyampaikan takziah kepada Imam Zaman serta kepada seluruh kaum muslimin yang berduka. Ia menekankan bahwa meskipun seorang pemimpin besar telah gugur, perjuangan tidak akan berhenti.

Menurutnya, salah satu pelajaran penting dari sejarah Islam adalah bahwa kesyahidan sering kali justru menghidupkan kembali semangat perjuangan umat. Ia mencontohkan bagaimana setelah gugurnya para pemimpin besar dalam sejarah Islam, selalu muncul generasi baru yang melanjutkan perjuangan mereka.

Ia juga mengingatkan bahwa Iran memiliki banyak ulama dan tokoh yang akan melanjutkan perjuangan tersebut. Karena itu, kaum muslimin tidak perlu merasa putus asa atau kehilangan harapan.

Di akhir sambutannya, Ustaz Umar Shahab mengajak jamaah untuk memaknai ucapan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn bukan hanya sebagai ungkapan duka, tetapi sebagai pernyataan penghambaan kepada Allah swt. Menurutnya, kalimat tersebut mengingatkan bahwa manusia adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan di jalan kebenaran.