Kajian tafsir Al-Qur’an di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali dilanjutkan pada Kamis, 5 Maret 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam pertemuan ini, pembahasan masih berkaitan dengan tafsir Surah Al-Fath yang menjelaskan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah serta sikap berbagai kelompok Muslim pada masa itu.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam peristiwa tersebut terdapat dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah mereka yang mengikuti perintah Rasulullah saw dengan penuh ketaatan. Sementara kelompok kedua adalah kelompok yang tidak mengikuti perintah Nabi, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai mukhallafun, yaitu orang-orang yang tertinggal atau sengaja tidak ikut bersama Rasulullah.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kemunculan kelompok mukhallafun ini pada hakikatnya berakar dari prasangka buruk terhadap ketentuan Allah swt. Mereka tidak sepenuhnya percaya kepada keputusan ilahi dan cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan kepentingan pribadi. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam kehidupan manusia memang ada sebagian orang yang selalu mencari celah atau kesempatan sempit demi keuntungan mereka sendiri.
Kelompok mukhallafun tersebut, lanjut Syaikh Mohammad Sharifani, pada dasarnya tidak mengikuti perintah Rasulullah dengan keikhlasan. Namun ketika muncul peluang untuk mendapatkan keuntungan duniawi, mereka tiba-tiba ingin ikut bergabung. Hal ini tampak ketika Rasulullah saw memperoleh ghanimah atau harta rampasan perang. Pada saat itulah mereka menyatakan keinginan untuk ikut serta bersama Nabi.
Al-Qur’an menggambarkan sikap ini dalam firman Allah:
sayaqûlul-mukhallafûna idzanthalaqtum ilâ maghânima lita’khudzûhâ dzarûnâ nattabi‘kum
“Apabila kamu nanti berangkat untuk mengambil rampasan perang, orang-orang Badui yang ditinggalkan itu akan berkata, ‘Biarkanlah kami mengikutimu.’” (QS. Al-Fath [48]: 15)
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa tawaran mereka untuk mengikuti Rasulullah bukanlah karena ketaatan atau semangat jihad, tetapi semata-mata karena ingin memperoleh bagian dari ghanimah.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan ciri lain dari kelompok mukhallafun. Mereka cenderung menghindari perjalanan atau perjuangan yang berat bersama Nabi. Ketika Rasulullah harus menempuh perjalanan jauh atau menghadapi kesulitan besar, mereka mencari berbagai alasan untuk tidak ikut. Sebaliknya, jika perjalanan tersebut mudah dan singkat, mereka dengan cepat ingin bergabung.
Sikap seperti ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an:
lawistatha‘nâ lakharajnâ ma‘akum
“Seandainya kami sanggup, niscaya kami berangkat bersamamu.” (QS. At-Taubah [9]: 42)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kalimat tersebut menggambarkan bagaimana mereka mencari alasan untuk menghindari kesulitan. Mereka hanya ingin ikut ketika kondisi menguntungkan dan tidak mengandung risiko besar.
Al-Qur’an kemudian memberikan jawaban tegas terhadap sikap tersebut. Allah swt menjelaskan bahwa mereka sebenarnya ingin mengubah ketentuan ilahi dan jalan perjuangan yang telah ditetapkan.
yurîdûna ay yubaddilû kalâmallâh, qul lan tattabi‘ûnâ kadzâlikum qâlallâhu ming qabl, fa sayaqûlûna bal taḥsudûnanâ, bal kânû lâ yafqahûna illâ qalîlâ
“Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.’ Maka mereka akan berkata, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami,’ padahal mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali.”
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa jalan Allah bukanlah jalan yang dapat dipilih-pilih sesuai kenyamanan manusia. Jalan kebenaran sering kali dipenuhi ujian dan kesulitan. Karena itu seseorang tidak bisa hanya mengikuti ketika keadaan mudah lalu meninggalkannya ketika menghadapi kesulitan.
Ketika Al-Qur’an memberikan larangan tersebut, kelompok mukhallafun justru kembali menuduh Rasulullah saw dengan tuduhan yang tidak pantas. Mereka menuduh bahwa Rasulullah tidak mengizinkan mereka ikut karena rasa dengki. Dengan kata lain, mereka seakan-akan menyalahkan Nabi atas keputusan tersebut.
Padahal, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa sikap mereka itu muncul karena kurangnya pemahaman terhadap hikmah keputusan Allah.
Setelah menjelaskan hal tersebut, Al-Qur’an juga memberikan ujian lain bagi mereka. Allah swt menyampaikan bahwa kelak mereka akan dipanggil untuk menghadapi kaum yang memiliki kekuatan besar.
qul lil-mukhallafîna minal-a‘râbi satud‘auna ilâ qaumin ulî ba’sin syadîdin tuqâtilûnahum au yuslimûn, fa in tuthî‘û yu’tikumullâhu ajran ḥasanâ, wa in tatawallau kamâ tawallaitum ming qablu yu‘adzdzibkum ‘adzâban alîmâ
“Katakanlah kepada orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan itu, ‘Kamu akan diajak untuk memerangi kaum yang mempunyai kekuatan besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah. Jika kamu mematuhi ajakan itu, Allah akan memberimu balasan yang baik. Tetapi jika kamu berpaling seperti sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.’” (QS. Al-Fath [48]: 16)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat ini menunjukkan bahwa Allah masih membuka kesempatan bagi mereka untuk membuktikan keikhlasan. Jika mereka benar-benar taat ketika menghadapi ujian yang berat, maka mereka akan memperoleh pahala dari Allah. Namun jika mereka kembali berpaling seperti sebelumnya, maka mereka akan menghadapi konsekuensi dari sikap tersebut.
Melalui penjelasan ayat-ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan sebuah prinsip penting dalam kehidupan beriman: kesetiaan kepada jalan Allah tidak boleh bergantung pada kemudahan atau keuntungan duniawi. Seorang mukmin harus tetap teguh mengikuti kebenaran, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, karena keikhlasan sejati justru terlihat ketika seseorang tetap setia di tengah ujian dan kesulitan.



