Skip to main content

Kajian hikmah Ramadan malam ke-17 di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 6 Maret 2026, disampaikan oleh Habib Hasan Dalil Alaydrus. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan kembali makna perjuangan dalam Islam serta pentingnya membangun kekuatan umat agar mampu menghadirkan kejayaan yang telah dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an. Setelah doa iftitah, beliau mengajak jamaah bertahlil untuk mengenang seorang tokoh yang sepanjang hidupnya bersungguh-sungguh memberdayakan diri, membina diri, membangun diri, serta mengembangkan diri demi kemaslahatan umat. Kehidupan tokoh tersebut, menurut beliau, mencerminkan hadis Nabi bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Memberikan manfaat kecil saja sudah merupakan kebaikan, namun ada tokoh yang pengabdiannya jauh lebih besar karena mengawal perjuangan umat hingga memimpin negara selama delapan tahun dan kemudian memimpin sebagai rahbar selama tiga puluh tujuh tahun. Hampir setengah abad manfaatnya dirasakan umat, sementara kehidupan pribadinya tetap sederhana dengan rumah yang sederhana pula.

Habib Hasan Dalil Alaydrus kemudian mengajak jamaah bertanya tentang Islam seperti apa yang dapat mengantarkan umat kepada kejayaan. Menurut beliau, kejayaan Islam bukan sekadar harapan, melainkan janji Allah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: wa laqad katabnâ fiz-zabûri mim ba‘didz-dzikri annal-ardla yaritsuhâ ‘ibâdiyash-shâlihûn, “Sungguh, Kami telah menuliskan di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Al-Anbiya: 105). Ayat ini menunjukkan bahwa pada akhirnya bumi akan diwarisi oleh orang-orang yang saleh. Allah juga menegaskan bahwa agama Islam akan dimenangkan di atas seluruh agama melalui firman-Nya: huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-haqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullihî walau karihal-musyrikûn, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (Ash-Shaff: 9). Selain itu Allah juga menjanjikan kekuasaan kepada orang-orang beriman yang beramal saleh sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: wa‘adallâhulladzîna âmanû mingkum wa ‘amilush-shâlihâti layastakhlifannahum fil-ardli, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (An-Nur: 55).

Namun Habib Hasan Dalil Alaydrus menegaskan bahwa janji tersebut tidak akan terwujud jika umat Islam hanya menjalankan agama secara minimal. Dalam kenyataan, ada orang Islam yang hanya menjalankan salat dan puasa, ada pula yang sekadar menghadiri majelis zikir, tahlil, atau qasidah lalu merasa telah cukup. Menurut beliau, jika umat berhenti pada tingkat seperti itu, maka kejayaan Islam tidak akan terwujud. Al-Qur’an justru menekankan pentingnya barisan yang kuat, kesiapan berkorban, serta kesungguhan dalam perjuangan. Dalam hadis disebutkan bahwa perjuangan di jalan Allah menuntut pengorbanan hingga keringat dan darah. Keringat melambangkan kerja keras seperti belajar, membangun silaturahmi, melakukan amar makruf nahi mungkar, serta berbagai usaha memperbaiki masyarakat. Sementara darah melambangkan pengorbanan yang lebih besar ketika menghadapi kezaliman yang tidak berhenti hanya dengan nasihat.

Dalam penjelasannya, Habib Hasan Dalil Alaydrus menyinggung garis perjuangan yang diwariskan oleh Imam Khomeini dan dilanjutkan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Garis perjuangan tersebut menurut beliau merupakan salah satu sebab yang membuat musuh-musuh Islam gentar. Jika umat Islam hanya menjalankan agama secara santai tanpa persiapan dan kekuatan, maka musuh tidak akan merasa takut. Bahkan negara dengan jumlah Muslim yang sangat besar pun bisa dianggap kecil jika tidak memiliki kekuatan nyata. Karena itu beliau menekankan pentingnya membangun kekuatan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, kedokteran, teknologi, pertanian, perikanan, hingga kemampuan pertahanan negara. Hal ini sesuai dengan perintah Al-Qur’an untuk mempersiapkan kekuatan sebagaimana firman Allah: turhibûna bihî ‘aduwwallâhi wa ‘aduwwakum, “Dengannya kamu membuat gentar musuh Allah dan musuh kamu.” (Al-Anfal: 60). Kekuatan tersebut bukan untuk melakukan ekspansi atau menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri, karena dalam kenyataannya umat Islam sering kali diserang meskipun tidak melakukan apa-apa.

Beliau juga mengingatkan bahwa kelemahan umat sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan Islam, termasuk melalui budaya yang membuat masyarakat semakin lemah dan tidak siap berjuang. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka sejarah dapat terulang sebagaimana terjadi di beberapa wilayah dunia di mana Islam yang dahulu kuat kemudian menjadi lemah. Karena itu umat Islam harus belajar dari pengalaman sejarah dan tidak membiarkan kondisi serupa terjadi di masa depan.

Dalam ceramah tersebut Habib Hasan Dalil Alaydrus juga menjelaskan beberapa garis perjuangan yang perlu diperhatikan oleh umat. Pertama adalah membangun persatuan dan kekuatan di dalam negeri agar umat mampu membangun masyarakat yang kuat. Kedua adalah memberikan perhatian terhadap perjuangan Palestina melalui doa, dukungan, aksi solidaritas, serta berbagai bentuk bantuan. Ketiga adalah mempersiapkan masa depan umat, termasuk dalam keyakinan tentang kedatangan Imam Mahdi, dengan membangun masyarakat yang kuat, berilmu, dan bersatu. Beliau juga menyinggung bagaimana sebagian masyarakat di berbagai negara telah menunjukkan keseriusan dalam mendukung perjuangan umat dan mempersiapkan masa depan Islam.

Menjelang malam-malam penting Ramadan seperti malam ke-19, ke-21, dan ke-23, Habib Hasan Dalil Alaydrus mengingatkan bahwa malam-malam tersebut memiliki kedudukan yang sangat agung. Malam ke-21 dikenal sebagai malam syahadah Imam Ali, sementara malam ke-23 diyakini sebagai salah satu puncak Lailatul Qadar. Karena itu beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya mengenang tokoh-tokoh besar Islam dengan emosi semata, tetapi juga dengan melanjutkan garis perjuangan mereka dalam membangun umat yang kuat dan berdaya.

Di akhir ceramahnya, Habib Hasan Dalil Alaydrus menegaskan bahwa salat, puasa, dan ibadah lainnya merupakan fondasi penting dalam Islam, tetapi ibadah tersebut harus menjadi pengantar menuju kekuatan umat dan kejayaan Islam. Allah mencintai umat yang mampu bersatu dalam perjuangan sebagaimana firman-Nya: innallâha yuhibbulladzîna yuqâtilûna fî sabîlihî shaffang ka’annahum bunyânun marshûsh, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (Ash-Shaff: 4). Melalui ayat ini beliau menegaskan bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang membangun umat yang kuat, bersatu, berilmu, serta siap berjuang demi keadilan dan kemaslahatan manusia.