Acara Ihya’ Lailatul Qadr pada malam ke-19 Ramadan yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Minggu, 8 Maret 2026, juga menjadi momentum untuk memperingati syahadah Imam Ali AS. Ceramah pada malam tersebut disampaikan oleh Ustaz Umar Shahab yang mengangkat tema tentang jihad di jalan Allah, sebuah tema yang dipilih karena berkaitan langsung dengan peristiwa ditikamnya Amirul Mukminin pada malam 19 Ramadan.
Dalam pembukaannya, Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa terdapat banyak amalan yang dianjurkan pada malam-malam Lailatul Qadr. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan, bahkan oleh sebagian ulama dipandang sebagai amalan yang paling utama, adalah menghidupkan majelis ilmu. Oleh karena itu di ICC Jakarta maupun di berbagai tempat lain sering diselenggarakan ceramah, diskusi, dan kajian keagamaan untuk menghidupkan majelis ilmu pada malam-malam tersebut.
Menurut beliau, tema jihad dipilih pada malam ini karena malam ke-19 Ramadan merupakan malam ketika Imam Ali AS ditikam oleh Ibnu Muljam. Peristiwa itu terjadi karena kebencian, kedengkian, dan sakit hati yang ada dalam diri Ibnu Muljam. Padahal Ibnu Muljam mengetahui dengan sangat jelas kedudukan Amirul Mukminin sebagai sosok suci yang dihormati dan bahkan dikaguminya. Namun karena persoalan dunia, ia memilih jalan yang sangat tragis dengan membunuh Imam Ali AS.
Ustaz Umar menegaskan bahwa Imam Ali AS wafat sebagai seorang syahid. Dalam ajaran Islam, syahid merupakan derajat yang diberikan kepada orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa para syuhada tidak boleh dianggap sebagai orang yang telah mati.
Wa lâ taqûlû limay yuqtalu fî sabîlillâhi amwât, bal aḥyâ’uw wa lâkin lâ tasy‘urûn
“Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah telah mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 154)
Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman:
Wa lâ taḥsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḥyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan memperoleh rezeki.” (Ali Imran: 169)
Ustaz Umar menjelaskan bahwa para syuhada hidup di sisi Allah SWT, mendapatkan rezeki dari-Nya, serta merasakan kegembiraan atas karunia yang diberikan kepada mereka. Bahkan mereka memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih hidup.
Fariḥîna bimâ âtâhumullâhu min faḍlihî wa yastabsyirûna billadzîna lam yal-ḥaqû bihim min khalfihim allâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḥzanûn
“Mereka bergembira atas karunia yang diberikan Allah kepada mereka dan mereka menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Ali Imran: 170)
Menurut beliau, syahadah diperoleh melalui jihad di jalan Allah. Namun jihad tidak selalu berarti perang bersenjata. Jihad dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang. Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW memang melakukan peperangan selama sepuluh tahun di Madinah, dan hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Ali AS, Imam Hasan AS, serta Imam Husain AS ketika situasi menuntut demikian. Namun jihad juga dapat dilakukan dalam bentuk lain selama memiliki semangat untuk berjuang di jalan Allah.
Tu’minûna billâhi wa rasûlihî wa tujâhidûna fî sabîlillâhi bi-amwâlikum wa anfusikum dzâlikum khairul lakum in kuntum ta‘lamûn
“Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff: 11)
Ustaz Umar menegaskan bahwa inti jihad adalah membela kebenaran dan melawan kebatilan. Siapa pun yang bergerak dalam kerangka tersebut, dengan cara apa pun yang benar, dapat dikategorikan sebagai jihad. Pada dasarnya kehidupan manusia sendiri adalah perjuangan. Manusia harus berusaha keras untuk mencapai tujuan dan mempertahankan kebenaran.
Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya cenderung memilih kenyamanan dan mempertahankan keadaan yang sudah ada. Karena itu ketika diperintahkan berjuang, sering kali manusia merasa berat. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
Kutiba ‘alaikumul-qitâlu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asâ an takrahû syai’an wa huwa khairul lakum, wa ‘asâ an tuḥibbû syai’an wa huwa syarrul lakum, wallâhu ya‘lamu wa antum lâ ta‘lamûn
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Perang memang tidak disukai oleh manusia karena konsekuensinya sangat berat, seperti kematian dan penderitaan. Namun ketika seseorang diserang, ia tidak dibenarkan untuk menyerahkan diri kepada musuh. Ia harus melakukan perlawanan.
Dalam logika Al-Qur’an, seorang mukmin sebenarnya tidak pernah mengalami kekalahan. Jika ia menang maka itu adalah kemenangan. Jika ia gugur maka ia memperoleh syahadah.
Qul hal tarabbashûna binâ illâ iḥdal-ḥusnayaîn
“Katakanlah: tidak ada yang kamu tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid).” (At-Taubah: 52)
Al-Qur’an juga mengecam orang-orang yang enggan berjuang dan lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat.
Yâ ayyuhalladzîna âmanû mâ lakum idzâ qîla lakumunfirû fî sabîlillâhits tsâqaltum ilal-arḍ, a raḍîtum bil-ḥayâtid-dun-yâ minal-âkhirah, famâ matâ‘ul-ḥayâtid-dun-yâ fil-âkhirati illâ qalîl
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu ‘berangkatlah di jalan Allah’ kamu merasa berat dan cenderung kepada kehidupan dunia? Padahal kenikmatan dunia dibandingkan akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)
Illâ tanfirû yu‘adzdzibkum ‘adzâban alîman wa yastabdil qauman ghairakum wa lâ taḍurrûhu syai’â wallâhu ‘alâ kulli syai’in qadîr
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berjuang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain.” (At-Taubah: 39)
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustaz Umar mengaitkan konsep jihad dengan situasi dunia kontemporer. Ia menyebut bahwa saat ini Iran sedang menghadapi tekanan dan serangan dari Amerika Serikat, Israel, serta sekutu-sekutunya. Menurut catatan seorang ahli militer yang ia sebutkan, terdapat puluhan negara yang terlibat dalam upaya menekan Iran, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun Ustaz Umar menjelaskan bahwa masyarakat Muslim di negara lain tidak selalu dapat terlibat langsung dalam peperangan modern yang menggunakan teknologi seperti rudal dan pesawat tempur jarak jauh. Oleh karena itu jihad juga dapat dilakukan dalam bentuk lain sesuai kemampuan masing-masing.
Salah satu bentuk jihad yang sangat penting pada masa sekarang adalah menjelaskan kebenaran. Ustaz Umar mengutip pandangan Ayatullah Uzma Ali Khamenei yang mendorong umat Islam untuk melakukan jihad melalui penjelasan dan penyebaran informasi yang benar. Dalam era media sosial, perang tidak hanya terjadi di medan militer tetapi juga dalam bentuk perang informasi.
Ia memberikan contoh bagaimana beberapa narasi di media sosial mencoba menyesatkan opini publik, misalnya dengan mengangkat riwayat yang menyebutkan bahwa akan ada 70.000 orang Yahudi dari kota Isfahan yang bergabung dengan Dajjal. Narasi tersebut sering digunakan untuk memberikan kesan negatif terhadap Iran. Padahal jika dibaca secara jujur, riwayat tersebut hanya menyebutkan bahwa pengikut Dajjal berasal dari kalangan Yahudi dan tidak memiliki hubungan dengan Islam.
Di sisi lain terdapat riwayat lain yang juga terdapat dalam kitab-kitab Ahlusunnah yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi akan muncul dari wilayah Khurasan dengan membawa panji-panji hitam. Riwayat-riwayat seperti ini sering digunakan oleh berbagai kelompok untuk kepentingan propaganda.
Karena itu umat Islam harus berhati-hati dalam menerima informasi serta memiliki keberanian untuk menjelaskan kebenaran. Menurut Ustaz Umar, kewajiban umat adalah bersuara sesuai kemampuan masing-masing. Masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki kepekaan moral dan mampu membedakan kezaliman serta ketidakadilan yang terjadi di dunia.
Dalam menghadapi ancaman dan tekanan, seorang mukmin tidak boleh takut kepada manusia. Al-Qur’an menggambarkan sikap orang-orang beriman yang tetap teguh ketika dihadapkan pada ancaman musuh.
Alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama‘û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânan wa qâlû ḥasbunallâhu wa ni‘mal-wakîl
“Orang-orang yang ketika diberitahu bahwa musuh telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang mereka, justru keimanan mereka bertambah dan mereka berkata: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.’” (Ali Imran: 173)
Pada bagian akhir ceramahnya, Ustaz Umar mengingatkan bahwa perjuangan selalu disertai ujian. Namun pertolongan Allah pasti akan datang kepada orang-orang yang bersabar dan tetap berpegang pada kebenaran.
Am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammâ ya’tikum matsalulladzîna khalau ming qablikum, massat-humul-ba’sâ’u wad-dlarrâ’u wa zulzilû ḥattâ yaqûlar-rasûlu walladzîna âmanû ma‘ahû matâ naṣrullâh, alâ inna naṣrallâhi qarîb
“Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan seperti orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kesulitan dan penderitaan hingga Rasul dan orang-orang beriman bersamanya berkata: ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)



