Skip to main content

Kegiatan Ihya’ Lailatul Qadar Malam ke-21 Ramadhan sekaligus peringatan syahadah Imam Ali bin Abi Thalib AS diselenggarakan di ICC Jakarta pada Senin, 8 Maret 2026 dengan penceramah Ustaz Muhsin Labib. Dalam ceramahnya, Ustaz Muhsin Labib mengajak jamaah merenungkan suasana batin yang berbeda pada malam-malam Lailatul Qadar tahun ini. Menurut beliau, ada perasaan yang mengguncang hati dan mengiris sanubari karena malam-malam penuh kemuliaan tersebut bertepatan dengan kenangan tentang wafatnya dua sosok bernama Ali. Ali yang pertama adalah cahaya yang memendar sepanjang sejarah, yakni Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib AS, sedangkan Ali yang kedua adalah salah satu pancaran dari cahaya tersebut, yaitu Ayatullah Uzma Sayyid Ali Khamenei yang wafat beberapa hari sebelumnya dan meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang.

Menurut Ustaz Muhsin Labib, kesyahidan Imam Ali bin Abi Thalib AS merupakan sebuah kemenangan besar yang dalam standar materialisme sering dipahami sebagai kekalahan. Dalam pandangan umum, seseorang yang terbunuh dianggap gagal. Namun Imam Ali AS justru melontarkan kalimat agung yang mengubah paradigma tentang makna kesuksesan, yaitu fuztu wa rabbil Ka’bah—“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah berhasil.” Melalui ungkapan tersebut, menurut beliau, umat diajak memahami bahwa jalan para wali Allah berbeda dengan jalan yang ditempuh kebanyakan manusia. Kesyahidan yang tampak tragis dan sering kali terabaikan dalam sejarah justru melahirkan sebuah fenomena yang menegaskan keberhasilan metafisik yang melampaui ukuran duniawi.

Beliau menjelaskan bahwa wafatnya Ayatullah Uzma Sayyid Ali Khamenei juga menghadirkan guncangan emosional bagi banyak orang karena kepergian tokoh tersebut terasa begitu mendadak dan sulit dipercaya. Namun dalam perspektif spiritual, peristiwa tersebut harus dipahami sebagai bagian dari jalan pengorbanan yang panjang dalam menegakkan nilai-nilai agama. Jalan perjuangan agama selalu terjal dan penuh ujian. Tidak ada kesuksesan besar yang diraih tanpa pengorbanan. Jika agama harus ditegakkan dengan darah, luka, air mata, dan keringat, maka umat harus siap menerima kenyataan tersebut. Bahkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling agung pun mengalami penderitaan dan ujian dalam perjuangannya, dan para penerus jalan beliau juga menghadapi realitas yang sama.

wa mâ muḥammadun illâ rasûl, qad khalat min qablihir-rusul, afa im mâta au qutila inqalabtum ‘alâ a‘qâbikum, wa may yanqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lan yaḍurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn
(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Ali ‘Imran · Ayat 144.

Melalui ayat tersebut, Ustaz Muhsin Labib menjelaskan bahwa perjuangan agama tidak bergantung pada satu individu. Tokoh-tokoh besar dapat wafat, tetapi nilai dan jalan perjuangan tetap berjalan karena memiliki fondasi yang lebih dalam daripada sekadar keberadaan seseorang.

Dalam ceramahnya, beliau kemudian menyinggung fenomena Republik Islam Iran, yang sering menimbulkan berbagai analisis dari pengamat dunia. Banyak orang mencoba menjelaskan Iran hanya dengan pendekatan ekonomi, geopolitik, atau kekuatan militer. Namun menurut Ustaz Muhsin Labib, pendekatan tersebut tidak cukup untuk memahami fenomena yang sebenarnya. Iran tidak dapat dilihat hanya sebagai sebuah negara di Timur Tengah. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar negara atau bangsa, yaitu universalitas nilai-nilai moral yang melampaui batas teritori, etnis, agama, dan mazhab.

Menurut beliau, hampir semua revolusi dalam sejarah dunia menjanjikan kemakmuran material. Revolusi industri di Inggris, revolusi Prancis, revolusi Bolshevik, hingga berbagai gerakan politik modern pada umumnya berbicara tentang kesejahteraan, distribusi ekonomi, dan kemakmuran bangsa. Namun Iran justru tampil sebagai sebuah anomali. Negara tersebut memiliki banyak potensi untuk menjadi sangat makmur, baik dari segi sumber daya alam maupun posisi strategis dalam ekonomi global. Akan tetapi mereka memilih jalan yang berbeda, yaitu mempertahankan prinsip meskipun harus menghadapi embargo, sanksi ekonomi, dan berbagai tekanan internasional.

Menurut Ustaz Muhsin Labib, fenomena tersebut tidak dapat dipahami hanya dengan logika politik atau militer. Banyak orang mencoba menjelaskan perlawanan Iran dengan teori kekuatan senjata atau strategi geopolitik, padahal jika dibandingkan secara material, Iran tidak memiliki keunggulan yang menentukan. Hal yang sebenarnya mendasari sikap tersebut adalah sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cara pandang terhadap realitas atau worldview. Cara pandang inilah yang kemudian melahirkan definisi yang berbeda tentang kemenangan, kemerdekaan, kedaulatan, dan harga diri.

Dalam pandangan tersebut, tujuan perjuangan bukan semata-mata untuk menang secara material. Ada perbedaan mendasar antara logika kemenangan dan logika perlawanan. Seseorang yang berjuang hanya karena yakin akan menang akan berhenti ketika peluang kemenangan kecil. Namun seseorang yang berjuang karena keyakinan moral akan tetap melawan meskipun peluang kemenangan secara material sangat kecil. Inilah yang menurut Ustaz Muhsin Labib membedakan paradigma perjuangan yang lahir dari tradisi spiritual Islam dengan paradigma politik modern yang cenderung materialistik.

Akar dari cara pandang tersebut, menurut beliau, dapat ditelusuri pada peristiwa Karbala. Tragedi yang menimpa Imam Husain AS mengubah sistem nilai dunia dengan menempatkan kebenaran di atas kepentingan material. Dari peristiwa itulah lahir etos Karbala yang menegaskan bahwa mempertahankan kebenaran lebih penting daripada sekadar bertahan hidup. Cara pandang tersebut membentuk sebuah paradigma ketuhanan yang melihat realitas tidak hanya dari aspek material, tetapi dari dimensi spiritual yang lebih luas.

inna hâdzihî ummatukum ummataw wâḥidah wa anâ rabbukum fa‘budûn
Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka sembahlah Aku.
Al-Anbiya’ · Ayat 92.

Menurut Ustaz Muhsin Labib, ayat tersebut menegaskan bahwa sebelum manusia terbagi menjadi bangsa-bangsa, mereka pada hakikatnya merupakan satu umat yang disatukan oleh ketuhanan. Namun dalam realitas modern, banyak masyarakat yang memahami agama hanya sebagai wacana atau retorika, bukan sebagai fondasi moral yang benar-benar membentuk perilaku. Akibatnya, narasi tentang agama sering kali tidak sejalan dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Beliau menambahkan bahwa kecenderungan manusia modern adalah memahami realitas secara materialistik, yaitu hanya berdasarkan apa yang terlihat, terukur, dan dapat dihitung. Padahal dalam tradisi spiritual Islam terdapat dimensi realitas yang melampaui dunia material. Dalam perspektif ini, kesyahidan tidak dipandang sebagai kematian yang sia-sia.

wa lâ taḥsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ bal aḥyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.
Ali ‘Imran · Ayat 169.

Menurut Ustaz Muhsin Labib, ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam pandangan spiritual terdapat definisi kehidupan yang berbeda dengan logika material. Orang yang gugur di jalan kebenaran tidak dipandang sebagai orang yang kalah, melainkan sebagai orang yang mencapai kehidupan yang lebih tinggi.

Beliau juga menegaskan bahwa keberanian untuk melawan kezaliman hanya dapat lahir dari cara pandang yang benar terhadap realitas. Karena itu umat tidak boleh mereduksi ajaran mazhab hanya pada ritual atau narasi sejarah semata. Yang lebih penting adalah memahami fondasi intelektual dan spiritual yang melahirkan keberanian moral dalam menghadapi ketidakadilan.

wa lâ tahinû wa lâ taḥzanû wa antumul-a‘launa ing kuntum mu’minîn
Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.
Ali ‘Imran · Ayat 139.

Di bagian akhir ceramahnya, Ustaz Muhsin Labib mengingatkan bahwa umat Islam di Indonesia tetap harus menegaskan identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mengapresiasi perjuangan bangsa lain tidak berarti meninggalkan identitas nasional. Sebaliknya, nilai-nilai perlawanan terhadap kezaliman yang lahir dari berbagai pengalaman sejarah seharusnya menjadi inspirasi untuk memperkuat kontribusi dalam membangun masyarakat yang adil.

wa lâ tarkanû ilalladzîna ẓalamû fa tamassakumun-nâru wa mâ lakum min dûnillâhi min auliyâ’a tsumma lâ tunṣarûn
Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
Hud · Ayat 113.

Menutup ceramahnya, Ustaz Muhsin Labib mengajak jamaah untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing dalam menegakkan kebenaran dan melawan ketidakadilan. Setiap orang diminta berkontribusi dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa menunggu pujian atau pengakuan dari orang lain, karena pada akhirnya setiap kebaikan yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri.

in aḥsantum aḥsantum li’anfusikum
Jika kamu berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri.
Al-Isra’ · Ayat 7.