Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 23 April 2026, bersama Ustaz Zaki Amami. Dalam kajian lanjutan tafsir Surah Ali Imran tersebut, beliau membahas ayat ke-12 yang menjelaskan janji Allah swt tentang kemenangan kaum mukmin dan kekalahan orang-orang kafir, sekaligus mengaitkannya dengan perjuangan para nabi hingga kondisi umat Islam pada masa kini.

Di awal kajian, Ustaz Zaki Amami mengulas kembali pembahasan sebelumnya mengenai Surah Ali Imran ayat ke-11 yang berbicara tentang kebiasaan kaum musyrik, keluarga Firaun, dan umat-umat terdahulu yang mengingkari ayat-ayat Allah swt. Menurut beliau, Al-Qur’an mengajarkan agar kaum mukmin mengambil pelajaran dari sejarah orang-orang yang menolak kebenaran.

Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa salah satu ciri utama kaum musyrik adalah kebiasaan melakukan kebohongan dan perbuatan dosa. Tidak hanya berbuat salah untuk diri sendiri, mereka juga mengajak orang lain menjauhi jalan ilahi serta mengingkari ayat-ayat Allah swt. Karena itulah, menurut beliau, mereka mendapatkan azab yang berat dari Allah swt.

Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa kaum musyrik sepanjang sejarah selalu berusaha menghalangi manusia dari jalan Allah swt. Menurut beliau, sejak zaman Nabi Musa as hingga Nabi Muhammad saw dan ahlul bait as, kelompok musyrikin tidak pernah rela manusia mengikuti petunjuk ilahi. Mereka akan berusaha dengan berbagai cara agar manusia jauh dari Allah swt dan lalai dari mengingat-Nya.

Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan Surah Ali Imran ayat ke-12.

Qul lilladzīna kafarū satughlabūna wa tuḥsyarūna ilā jahannama wa bi’sal-mihād.

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, ‘Kamu pasti akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam.’ Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali Imran [3]: 12)

Dalam penjelasannya, Ustaz Zaki Amami menyampaikan tafsir dari Ayatullah Qiraati yang mengaitkan ayat tersebut dengan Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Saat itu, menurut beliau, jumlah kaum muslimin hanya sekitar 300 orang, sedangkan pasukan musyrikin mencapai sekitar 1.000 orang. Namun dengan perlengkapan yang sederhana, kaum mukmin tetap memperoleh kemenangan.

Beliau menjelaskan bahwa kemenangan tersebut menjadi bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad saw, termasuk bagi kaum Yahudi pada masa itu. Dalam Taurat, kata beliau, telah disebutkan tanda-tanda nabi akhir zaman, di antaranya pemimpin yang mampu memenangkan peperangan meskipun jumlah pasukannya sedikit.

Menurut Ustaz Zaki Amami, sebagian kaum Yahudi sebenarnya mengetahui tanda tersebut dan menyadari bahwa kemenangan Rasulullah saw di Perang Badar sesuai dengan yang tertulis dalam Taurat. Akan tetapi, karena keras hati dan tidak ingin menerima kebenaran, mereka menolak mengikuti Nabi Muhammad saw dan menunggu kemungkinan kekalahan kaum muslimin di peperangan berikutnya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa pada tahun ketiga Hijriah, dalam Perang Uhud, kaum muslimin mengalami kekalahan. Kekalahan itu membuat sebagian orang Yahudi merasa keyakinannya benar. Namun Allah swt kemudian menurunkan ayat yang menegaskan bahwa kaum kafir tetap akan mengalami kekalahan pada akhirnya. Menurut beliau, hal tersebut terbukti dalam berbagai peperangan berikutnya hingga peristiwa Fathu Makkah, ketika kaum muslimin memperoleh kemenangan besar.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Zaki Amami menekankan bahwa salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah pemberitaan tentang masa depan yang kemudian benar-benar terjadi. Menurut beliau, kabar dalam Al-Qur’an bukan sekadar ramalan, melainkan janji ilahi yang pasti terwujud.

Beliau juga mengingatkan agar kaum muslim tidak silau oleh jumlah yang sedikit. Dalam sejarah para nabi, kata beliau, pihak yang benar sering kali berada dalam jumlah minoritas. Hal itu terjadi pada kaum Nabi Nuh as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, hingga Imam Husain as di Karbala.

Ustaz Zaki Amami kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan kondisi umat Islam saat ini. Menurut beliau, kelompok yang benar-benar membela Palestina dan berani menghadapi agresor tidak banyak jumlahnya. Beliau menilai umat Islam masih terpecah dan mudah diadu domba sehingga belum mampu menunjukkan persatuan yang kuat.

Dalam penjelasannya, beliau juga mengutip pernyataan Sayyid Hasan Nasrallah yang menggambarkan kekuatan musuh seperti rumah laba-laba yang tampak besar tetapi rapuh ketika dihadapi dengan keberanian dan keyakinan.

Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa para nabi dan para imam maksum as secara lahiriah terkadang tampak kalah atau terbunuh, tetapi pada hakikatnya merekalah yang menang. Menurut beliau, kemenangan hakiki bukan diukur dari jumlah korban atau kekuatan materi, melainkan dari keberhasilan mempertahankan kebenaran di jalan Allah swt.

Beliau menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, kesyahidan adalah kemuliaan. Karena itu, kaum muslim tidak menyembunyikan jumlah syuhada yang gugur di jalan Allah, sebab pengorbanan jiwa demi membela agama dan kaum tertindas merupakan bentuk muamalah tertinggi dengan Allah swt.

Sebaliknya, menurut beliau, kelompok yang hanya memandang kehidupan secara material akan menganggap kematian sebagai akhir dari segalanya sehingga berusaha menutupi kerugian dan korban di pihak mereka sendiri.

Di akhir kajian, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa perjuangan para syuhada tidak pernah berhenti dengan kematian mereka. Beliau menyampaikan bahwa darah para pejuang justru menjadi penggerak lahirnya keberanian baru dalam menyampaikan risalah kebenaran dan membela kaum mustadhafin.

Kajian ditutup dengan harapan agar pembahasan Surah Ali Imran ayat ke-12 tersebut semakin menambah kecintaan jamaah kepada Al-Qur’an dan menguatkan semangat untuk terus berada di jalan perjuangan yang diridai Allah swt.