Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 30 April 2026, dengan menghadirkan Ustaz Zaki Amami sebagai pemateri. Dalam kajiannya, beliau membahas tafsir Surah Ali Imran ayat 13 yang berkaitan dengan Perang Badar. Melalui penjelasan ayat tersebut, Ustaz Zaki Amami menguraikan berbagai pelajaran tentang pertolongan Allah swt kepada kaum mukmin, pentingnya keberanian membela kebenaran, konsep jihad dalam Islam, hingga relevansi peristiwa Perang Badar dengan kondisi dunia Islam dan konflik global pada masa kini.
Pada awal kajian, Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa pembahasan Surah Ali Imran ayat 13 sebenarnya telah dimulai pada pertemuan sebelumnya, namun belum selesai. Karena itu, pada kesempatan tersebut beliau melanjutkan sekaligus menyempurnakan penjelasan ayat tersebut. Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Qad kāna lakum āyatun fī fi’atainiltaqatā fi’atun tuqātilu fī sabīlillāhi wa ukhrā kāfiratun yarawnahum mitslaihim ra’yal ‘ain, wallāhu yu’ayyidu binaṣrihī may yasyā’, inna fī dzālika la‘ibratan li ulil abṣār
“Sungguh telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang bertemu (dalam peperangan). Satu golongan berperang di jalan Allah dan golongan yang lain kafir. Mereka melihat dengan mata kepala mereka bahwa orang-orang muslim dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. Ali Imran [3]: 13)
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan langsung dengan Perang Badar, yaitu ketika dua kelompok besar saling berhadapan: kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy. Menurut beliau, Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu bukan sekadar catatan sejarah, tetapi sebagai “ayat” atau tanda kekuasaan Allah swt yang harus direnungkan oleh orang-orang beriman.
Ustaz Zaki Amami kemudian menerangkan bagian ayat:
Fi’atun tuqātilu fī sabīlillāh wa ukhrā kāfirah
“Satu kelompok berperang di jalan Allah dan kelompok lainnya kafir.”
Menurut beliau, Al-Qur’an secara jelas membedakan tujuan dari kedua kelompok tersebut. Kaum muslimin berjuang demi mempertahankan agama Allah swt, sedangkan kelompok kafir bergerak demi hawa nafsu, kesombongan, dan kepentingan duniawi. Karena itu, beliau menegaskan bahwa nilai sebuah peperangan dalam Islam ditentukan oleh tujuan dan niatnya.
Dalam penjelasannya, beliau juga menguraikan bagian ayat:
Yarawnahum mitslaihim ra’yal ‘ain
“Mereka melihat kaum muslimin dua kali lipat jumlah mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 13)
Menurut beliau, Allah swt membuat kaum kafir melihat jumlah kaum muslimin jauh lebih besar daripada kenyataannya sehingga muncul rasa takut dan gentar dalam diri mereka. Padahal secara historis jumlah kaum muslimin dalam Perang Badar hanya sekitar 313 orang, sedangkan pasukan Quraisy mencapai sekitar 1.000 orang dengan persenjataan jauh lebih lengkap.
Ustaz Zaki Amami kemudian membacakan penjelasan para mufasir terkait asbabun nuzul ayat tersebut dari sejumlah kitab tafsir seperti Majma‘ al-Bayan, Tafsir al-Maraghi, dan tafsir Fakhruddin ar-Razi. Beliau menjelaskan bahwa kaum muslimin pada saat Perang Badar terdiri dari dua kelompok besar, yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Dari total 313 pasukan muslimin, sekitar 77 orang berasal dari Muhajirin dan 236 lainnya berasal dari Anshar.
Beliau menjelaskan bahwa panji pasukan Muhajirin saat itu dibawa oleh Imam Ali as, sedangkan panji kaum Anshar dibawa oleh Sa‘ad bin Ubadah. Menurut beliau, kondisi perlengkapan kaum muslimin ketika itu sangat minim. Kaum muslimin hanya memiliki sekitar 70 unta dan dua ekor kuda perang. Bahkan menurut riwayat yang beliau bacakan, hanya sedikit dari mereka yang memiliki baju besi dan pedang.
Ustaz Zaki Amami menggambarkan betapa timpangnya kekuatan kedua pihak. Di satu sisi, kaum muslimin memiliki perlengkapan sangat terbatas, sementara pasukan Quraisy memiliki sekitar 1.000 tentara dan ratusan penunggang kuda perang. Namun dalam kondisi yang tidak seimbang tersebut, kaum muslimin tetap memperoleh kemenangan besar.
Beliau menjelaskan bahwa dalam Perang Badar terdapat sekitar 20 syuhada dari pihak muslimin, terdiri dari Muhajirin dan Anshar, sedangkan dari pihak Quraisy sekitar 70 orang terbunuh dan 70 lainnya ditawan. Menurut beliau, fakta sejarah ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan ataupun kecanggihan persenjataan.
Dalam kajiannya, Ustaz Zaki Amami kemudian mengaitkan pelajaran Perang Badar dengan situasi geopolitik dunia Islam masa kini. Menurut beliau, saat ini jumlah umat Islam mencapai sekitar dua miliar jiwa, namun negara-negara yang benar-benar berani menentang agresi dan dominasi kekuatan besar dunia sangat sedikit. Beliau menyebut beberapa negara dan kelompok yang menurutnya secara nyata menunjukkan keberanian membela kaum tertindas dan menghadapi tekanan global.
Menurut beliau, fenomena tersebut mirip dengan situasi Perang Badar, ketika kelompok kecil yang memiliki keyakinan kuat mampu menghadapi kekuatan besar. Beliau menegaskan bahwa keberanian tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui pendidikan spiritual, pengorbanan panjang, dan keteladanan para nabi serta Ahlul Bait as.
Dalam ceramahnya, beliau juga menyinggung bagaimana berbagai peristiwa konflik modern membuat sebagian orang mulai tertarik mempelajari ajaran Ahlul Bait as. Menurut beliau, keberanian, pengorbanan, dan keteguhan para pejuang yang terinspirasi oleh Madrasah Karbala menjadi sebab terbukanya hati banyak orang untuk mengenal Ahlul Bait as lebih dekat.
Beliau kemudian mengajak jamaah mengirimkan doa dan Al-Fatihah bagi para syuhada serta para pemimpin perjuangan yang telah gugur. Menurut beliau, perjuangan dan pengorbanan mereka menjadi sebab terbukanya mata manusia terhadap nilai-nilai keadilan dan keberanian.
Setelah itu, Ustaz Zaki Amami mulai merinci pelajaran-pelajaran penting dari Surah Ali Imran ayat 13. Poin pertama yang beliau tekankan adalah bahwa kemenangan dapat diraih oleh kelompok yang secara jumlah lebih sedikit apabila mereka memiliki iman, strategi, dan pertolongan Allah swt.
Beliau menjelaskan bahwa peperangan modern tidak hanya berlangsung di medan tempur fisik, tetapi juga di media dan ruang informasi. Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa media sosial pada masa kini menjadi arena perjuangan untuk menyampaikan kebenaran. Karena itu, menurut beliau, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam “jihad tabyin”, yaitu perjuangan menjelaskan fakta dan melawan propaganda serta kebohongan.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
In tanṣurullāha yanṣurkum wa yutsabbit aqdāmakum
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa pertolongan Allah swt akan datang kepada orang-orang yang berjuang membela kebenaran dengan tulus. Karena itu, jihad tidak selalu berbentuk perang fisik, tetapi juga dapat berupa perjuangan melalui media, pemikiran, doa, maupun dukungan moral dan material.
Pada bagian berikutnya, Ustaz Zaki Amami menjelaskan kembali bagaimana Allah swt dapat melemahkan kekuatan musuh dengan cara-cara yang tidak disangka-sangka. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan bagian ayat:
Wallāhu yu’ayyidu binaṣrihī may yasyā’
“Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran [3]: 13)
Menurut beliau, pertolongan Allah dapat hadir melalui berbagai bentuk, termasuk melemahkan strategi lawan, menghancurkan sistem pertahanan mereka, ataupun menanamkan rasa takut dalam hati mereka. Dalam penjelasannya, beliau juga menyinggung perkembangan teknologi militer modern dan bagaimana kemampuan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk mempertahankan martabat bangsa dan umat.
Beliau menjelaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal penting dalam Islam. Namun menurut beliau, semua itu harus diarahkan untuk membela kehormatan manusia dan mempertahankan keadilan, bukan untuk penindasan dan agresi.
Pada bagian lain kajiannya, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa perang dalam Islam bukan sesuatu yang otomatis bernilai buruk. Menurut beliau, peperangan bersifat netral, sedangkan nilai moralnya ditentukan oleh tujuan dan niat pelakunya. Jika perang dilakukan demi mempertahankan agama, tanah air, kehormatan, dan melindungi masyarakat tertindas, maka perjuangan tersebut memiliki nilai ibadah.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Wa lā taḥsabannalladzīna qutilū fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā’un ‘inda rabbihim yurzaqūn
“Janganlah kalian mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa para syuhada memiliki kedudukan mulia di sisi Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang berjuang demi nilai ilahiah memiliki keberanian besar karena mereka meyakini kehidupan akhirat lebih abadi daripada kehidupan dunia.
Sebaliknya, menurut beliau, kelompok yang hanya berorientasi pada materi akan selalu dipenuhi ketakutan, perhitungan keuntungan duniawi, dan kecemasan terhadap kerugian ekonomi maupun politik. Dalam penjelasannya, beliau membandingkan cara berpikir materialistis dengan cara berpikir ilahiah. Menurut beliau, orang-orang yang yakin kepada akhirat akan rela berkorban demi mempertahankan kebenaran, sedangkan orang-orang yang hanya mengejar dunia akan selalu berhitung berdasarkan keuntungan materi.
Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam “menuhankan” materi, kekuasaan, ataupun hawa nafsu. Menurut beliau, ketakutan berlebihan terhadap tekanan ekonomi dan politik dapat membuat manusia kehilangan keberanian moral dalam membela kebenaran.
Menjelang akhir kajian, Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa setiap perjuangan pasti menuntut pengorbanan. Ada yang kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa. Namun menurut beliau, apabila semua pengorbanan tersebut dilakukan di jalan Allah swt, maka Allah akan menggantinya dengan kemuliaan dan pahala yang lebih baik.
Beliau menegaskan bahwa kehancuran justru akan menimpa orang-orang yang berjuang demi kesombongan dan kepentingan duniawi semata. Menurut beliau, Perang Badar menjadi bukti bahwa kekuatan material semata tidak menjamin kemenangan apabila tidak disertai nilai kebenaran dan pertolongan Allah swt.
Di akhir kajiannya, Ustaz Zaki Amami berharap agar para peserta mampu mengambil pelajaran dari Surah Ali Imran ayat 13 serta menjadikannya sebagai inspirasi untuk meningkatkan keimanan, keberanian, dan ketakwaan kepada Allah swt. Beliau juga berharap agar umat Islam mampu menjadi pribadi-pribadi yang membela kebenaran, menjaga kehormatan agama, serta berjuang dengan penuh kesadaran demi nilai-nilai ilahiah dan kemanusiaan.



