Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar salat Jumat pada Jumat, 1 Mei 2026, dengan khutbah disampaikan oleh Ustaz Husein Shahab. Dalam khutbahnya, beliau membahas tentang kemuliaan Imam Ali bin Musa ar-Ridha as, kedudukan Ahlul Bait dalam ajaran Islam, pentingnya ziarah dan tawasul kepada para imam Ahlul Bait as, hingga kondisi dunia Islam dan pentingnya menjaga persatuan kaum muslimin di tengah berbagai upaya perpecahan.
Pada khutbah pertama, Ustaz Husein Shahab membuka pembahasan dengan mengingatkan bahwa beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 11 Zulqaidah, kaum muslimin memperingati hari wiladah Imam Ali bin Musa ar-Ridha as. Beliau menjelaskan bahwa Imam Ridha as adalah imam kedelapan dari dua belas imam Ahlul Bait yang maksum, putra Imam Musa al-Kadzim as dan ayah Imam Muhammad al-Jawad as.
Beliau menjelaskan bahwa dalam berbagai riwayat dan ungkapan para ulama, Imam Ridha as dikenal dengan gelar “Al-Imam ar-Rauf”, yaitu imam yang penuh kasih sayang dan kelembutan terhadap para pecintanya serta orang-orang yang bertawasul kepadanya. Menurut beliau, kasih sayang Imam Ridha as sangat terkenal dalam sejarah dan terus dirasakan oleh para peziarah hingga masa sekarang.
Selain itu, Imam Ridha as juga dikenal dengan gelar “Gharibul Ghuraba”, yaitu imam yang terasing di antara orang-orang asing. Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa Imam Ridha as merupakan satu-satunya imam Ahlul Bait yang dimakamkan jauh dari keluarga beliau. Rasulullah saw, Sayidah Fatimah az-Zahra as, Imam Hasan as, Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad al-Baqir as, dan Imam Ja‘far ash-Shadiq as dimakamkan di Madinah. Sementara Imam Ali as dimakamkan di Najaf, Imam Husain as di Karbala, Imam Musa al-Kadzim as dan Imam Muhammad al-Jawad as di Kazhimain Baghdad, serta Imam Ali al-Hadi as dan Imam Hasan al-Askari as di Samarra. Adapun Imam Ridha as dimakamkan jauh di Khurasan yang kini dikenal sebagai kota Mashhad.
Menurut beliau, karena itulah Imam Ridha as disebut “gharib”, karena dimakamkan jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya. Beliau juga menceritakan bahwa Sayidah Fatimah al-Ma’shumah as pernah berangkat dari Madinah menuju Khurasan ketika mendengar Imam Ridha as berada dalam keadaan sakit dan sendirian. Namun dalam perjalanan menuju Khurasan, Sayidah Fatimah al-Ma’shumah as jatuh sakit di kota Qum dan wafat di sana sebelum sempat bertemu dengan Imam Ridha as.
Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa hingga hari ini makam Imam Ridha as menjadi tempat ziarah kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, baik dari kalangan Syiah maupun Ahlusunah. Menurut beliau, meskipun mayoritas peziarah berasal dari kalangan Syiah Ahlul Bait as, banyak pula pengikut tarekat-tarekat tasawuf dari kalangan Ahlusunah yang datang berziarah, bertawasul, dan menyampaikan hajat mereka kepada Allah swt melalui keberkahan Imam Ridha as.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa banyak tarekat besar Ahlusunah yang sanad spiritualnya bersambung kepada Imam Ridha as. Dalam kesempatan itu, beliau mencontohkan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang berkembang di Jawa Barat dan pernah dipimpin almarhum Abah Anom di Tasikmalaya. Menurut beliau, silsilah tarekat tersebut bersambung kepada Imam Ali bin Musa ar-Ridha as, kemudian kepada Imam Musa al-Kadzim as, Imam Ja‘far ash-Shadiq as, Imam Ali as, hingga Rasulullah saw. Karena itu, menurut beliau, pengakuan atas kemuliaan dan kewalian Imam Ridha as sesungguhnya sangat masyhur di kalangan kaum muslimin.
Beliau kemudian membacakan beberapa pernyataan ulama Ahlusunah tentang Imam Ridha as. Salah satunya adalah Ibnu al-Atsir yang mengatakan:
“Intahat imāmatus syī‘ah fī zamānihi wa faḍluhu aktsaru min an tuḥṣā.”
“Imamah Syiah di zamannya berpuncak kepada Imam Ridha as dan keutamaannya lebih banyak daripada yang dapat dihitung.”
Menurut Ustaz Husein Shahab, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Imam Ridha as diakui sebagai sosok yang sangat agung, baik dari sisi ilmu, spiritualitas, kedermawanan, maupun kemuliaan akhlaknya.
Beliau juga mengutip perkataan Asy-Syabrawi yang menyebut Imam Ridha as sebagai sosok yang “karim”, “jalil”, “muhib”, dan “muwaqqar”, yaitu sangat dermawan, agung, penuh wibawa, dan dihormati manusia.
Dalam penjelasannya, Ustaz Husein Shahab menegaskan bahwa salah satu sifat paling terkenal dari Imam Ridha as adalah kemurahan hati dan kasih sayangnya kepada orang-orang yang datang bertawasul kepadanya. Menurut beliau, banyak sekali kisah nyata tentang orang-orang yang mendapatkan pertolongan Allah swt melalui keberkahan tawasul kepada Imam Ridha as.
Beliau kemudian menceritakan sebuah pengalaman yang disampaikan langsung kepadanya oleh Syekh al-Hakim, salah seorang mantan direktur ICC Jakarta. Menurut cerita tersebut, keponakan Syekh al-Hakim pernah mengalami penyakit sangat parah hingga virus sudah menyerang otaknya dan dokter memvonis bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Dalam keadaan lumpuh dan hampir putus asa, orang tuanya membawa anak tersebut berziarah ke makam Imam Ridha as di Mashhad.
Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa anak tersebut didudukkan di dekat area yang dapat melihat makam Imam Ridha as karena ia sudah tidak mampu berjalan. Ketika kedua orang tuanya sedang bertawasul di dekat makam, tiba-tiba datang seorang sayid menghampiri anak tersebut lalu memukulkan sorbannya sambil berkata agar ia berdiri dan berjalan. Awalnya anak itu mengatakan dirinya lumpuh dan tidak mampu berjalan. Namun orang tersebut terus memintanya berdiri.
Beliau menceritakan bahwa secara tiba-tiba anak itu mampu berdiri dan berjalan kembali. Ketika orang tuanya kembali, mereka mendapati anak mereka sudah dapat berjalan dengan normal. Menurut Ustaz Husein Shahab, kisah-kisah seperti itu sangat banyak terjadi dan menjadi bukti kasih sayang Imam Ridha as kepada para pecintanya.
Dalam khutbahnya, beliau juga menjelaskan kedudukan spiritual para imam Ahlul Bait as. Menurut beliau, dalam istilah tasawuf Imam Ridha as dapat disebut sebagai “Qutbul Aqthab” pada zamannya, yaitu wali tertinggi di antara para wali Allah swt. Beliau kemudian mengutip hadis qudsi tentang para wali Allah:
“Kuntu sam‘ahulladzī yasma‘u bihī wa basharahulladzī yubṣiru bihī wa yaduhullatī yabṭisyu bihā.”
“Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia bertindak.”
Menurut beliau, hadis tersebut menunjukkan betapa dekatnya para wali Allah swt dengan-Nya. Imam Ridha as, menurut beliau, memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi sehingga keberkahannya dirasakan oleh banyak manusia.
Ustaz Husein Shahab kemudian menegaskan bahwa salah satu kewajiban pecinta Ahlul Bait adalah menziarahi para imam Ahlul Bait as apabila memiliki kemampuan. Menurut beliau, orang-orang yang berziarah kepada para imam akan dikenal oleh imam mereka pada hari kiamat dan termasuk golongan yang mendapatkan syafaat.
Beliau menjelaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait merupakan bagian mendasar dari keimanan seorang muslim. Dalam penjelasannya, beliau mengutip sabda Rasulullah saw:
“Hubbuhu īmān wa bughḍuhu nifāq.”
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah kemunafikan.”
Menurut beliau, yang dimaksud bukan hanya Imam Ali as semata, tetapi juga seluruh imam Ahlul Bait as. Beliau juga menjelaskan bahwa para ulama Ahlusunah maupun Syiah sepakat bahwa membenci Ahlul Bait Nabi saw termasuk penyimpangan yang sangat berbahaya.
Ustaz Husein Shahab kemudian mengutip hadis Tsaqalain:
“Innī tārikun fīkumuṡ-tsaqalain kitāballāhi wa ‘itratī ahla baitī.”
“Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka besar: Kitab Allah dan Ahlul Baitku.”
Beliau juga membacakan hadis Safinah:
“Matsalu ahli baitī fīkum kamatsali safīnati Nūḥ, man rakibahā najā wa man takhallafa ‘anhā gharīqa wa hawā.”
“Perumpamaan Ahlul Baitku di tengah kalian seperti bahtera Nabi Nuh. Barang siapa menaikinya akan selamat dan barang siapa meninggalkannya akan tenggelam.”
Menurut beliau, hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa mengikuti dan mencintai Ahlul Bait Nabi saw merupakan jalan keselamatan bagi kaum muslimin.
Pada khutbah kedua, Ustaz Husein Shahab kembali mengingatkan pentingnya meningkatkan iman, takwa, amal saleh, dan kecintaan kepada Rasulullah saw serta keluarga beliau. Menurut beliau, itulah bekal utama keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Beliau kemudian menyinggung kondisi dunia Islam dan berbagai upaya agresi terhadap Republik Islam Iran yang menurutnya telah berlangsung lebih dari enam puluh hari. Menurut beliau, Amerika Serikat, Israel, dan kekuatan-kekuatan dunia terus berusaha melemahkan Iran melalui jalur diplomasi maupun peperangan, namun hingga saat ini tidak berhasil.
Dalam khutbah tersebut, beliau mengajak jamaah untuk terus mendoakan kemenangan kaum muslimin dan kehancuran imperialisme serta zionisme Israel. Beliau mengutip sabda Rasulullah saw:
“Lā yuraddul qaḍā’u illā bid du‘ā.”
“Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.”
Beliau juga membacakan firman Allah swt:
Ud‘ūnī astajib lakum
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” (QS. Ghafir [40]: 60)
Menurut beliau, kaum muslimin tidak boleh meremehkan kekuatan doa. Sekalipun seseorang merasa doanya kecil, bisa jadi justru doa itulah yang dikabulkan Allah swt dan menjadi sebab perubahan besar.
Selain itu, Ustaz Husein Shahab juga mengingatkan tentang bahaya propaganda yang bertujuan memecah belah Sunni dan Syiah. Menurut beliau, berbagai media dan akun media sosial terus digunakan untuk menciptakan kebencian dan konflik antarkaum muslimin. Beliau mengaku beberapa kali menerima pesan ancaman terkait upayanya mengajak persatuan Sunni dan Syiah melalui media sosial dan podcast.
Namun menurut beliau, di tengah semua propaganda tersebut Allah swt tetap memiliki “tentara-tentara tersembunyi” yang membuka hati banyak manusia untuk sadar akan pentingnya persatuan umat Islam.
Beliau mengajak seluruh jamaah agar ikut aktif menyuarakan persatuan kaum muslimin, termasuk melalui media sosial. Menurut beliau, dukungan sederhana seperti menyebarkan pesan persatuan, memberikan komentar positif, dan menunjukkan solidaritas kepada kaum muslimin yang tertindas merupakan bagian penting dari perjuangan umat saat ini.
Dalam khutbahnya, beliau juga menyebut adanya pengakuan dari pihak Israel tentang penggunaan puluhan ribu akun palsu di media sosial untuk memecah belah Sunni dan Syiah di berbagai bahasa dan negara. Karena itu, menurut beliau, kaum muslimin tidak boleh menjadi “silent majority” atau mayoritas yang diam dan pasif.
Beliau kemudian mengutip sebuah hadis Nabi saw yang menjelaskan pentingnya kepedulian terhadap nasib kaum muslimin:
“Man aṣbaḥa wa lam yahtamma bi umūril muslimīn falaisa minhum.”
“Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin maka ia bukan bagian dari mereka.”
Di akhir khutbahnya, Ustaz Husein Shahab berharap agar Allah swt memberikan kekuatan kepada kaum muslimin untuk mempertahankan agama, menjaga persatuan umat, serta meneladani kecintaan dan pengabdian para imam Ahlul Bait as kepada Allah swt dan Rasul-Nya.



