Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 21 Mei 2026 bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam kajian tersebut, beliau membahas tema tentang harapan, keinginan, dan angan-angan manusia dalam perspektif Al-Qur’an. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk memiliki harapan, tetapi harapan itu harus dibangun di atas ketentuan ilahi, amal saleh, dan hukum sebab-akibat yang Allah swt tetapkan di alam semesta.

Pada awal kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa secara bahasa harapan berarti sesuatu yang diinginkan manusia pada masa yang akan datang. Menurut beliau, Al-Qur’an tidak melarang manusia memiliki cita-cita dan harapan, namun manusia harus memahami bagaimana harapan itu dipandang dalam ajaran Islam. Karena itu, beliau menjelaskan bahwa pembahasan malam tersebut tidak hanya berkaitan dengan harapan, tetapi juga dengan putus asa dan angan-angan kosong yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa setiap harapan manusia terikat dengan ketentuan ilahi dan hukum sebab-akibat yang Allah swt tetapkan. Beliau memberikan contoh bahwa manusia mungkin saja berharap tiba-tiba mendapatkan satu ember penuh uang di hadapannya, tetapi harapan semacam itu tidak sesuai dengan sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Menurut beliau, harapan yang benar bukanlah sekadar angan-angan kosong, melainkan harapan yang disertai usaha, amal, dan berjalan sesuai ketentuan Allah swt.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah swt:

Falillāhil ākhiratu wal-ūlā

“Maka milik Allah-lah akhirat dan dunia.” (QS. An-Najm [53]: 25)

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan seluruh urusan dunia dan akhirat berada di bawah kehendak Allah swt. Karena itu, manusia tidak dapat berharap secara sembarangan tanpa memperhatikan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian membahas tentang bentuk harapan yang baik menurut Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa kebanyakan manusia berharap memiliki harta yang banyak dan keturunan yang banyak karena semua itu merupakan sesuatu yang tampak indah dalam kehidupan dunia. Dalam kesempatan tersebut, beliau membacakan firman Allah swt:

Al-mālu wal-banūna zīnatul-ḥayātid-dunyā wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawāban wa khairun amalā

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia sering menjadikan harta dan keturunan sebagai tujuan utama kehidupannya. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa amal saleh jauh lebih baik di sisi Allah swt dan itulah harapan terbaik yang seharusnya dimiliki seorang mukmin. Beliau menegaskan bahwa amal saleh merupakan bekal yang akan terus bersama manusia hingga akhirat, berbeda dengan harta dan berbagai kenikmatan dunia yang bersifat sementara.

Dalam pembahasan berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tidak semua keinginan manusia akan tercapai. Beliau mengutip firman Allah swt:

Am lil-insāni mā tamannā

“Ataukah manusia akan memperoleh segala yang ia cita-citakan?” (QS. An-Najm [53]: 24)

Menurut beliau, ayat tersebut merupakan penegasan bahwa manusia tidak otomatis mendapatkan semua yang diinginkannya. Jika harapan manusia bertentangan dengan kehendak Allah swt atau tidak sesuai dengan syarat dan hukum sebab-akibat yang telah ditetapkan-Nya, maka keinginan itu tidak akan tercapai. Karena itu, beliau menegaskan bahwa seorang mukmin harus memahami keterbatasan dirinya dan menyerahkan hasil akhir kepada Allah swt.

Untuk menjelaskan hubungan antara harapan dan amal, Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyampaikan riwayat tentang seorang sahabat Rasulullah saw bernama Rabiah. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah saw bertanya kepada Rabiah apakah ia memiliki keinginan. Rabiah kemudian menjawab bahwa ia berharap dapat bersama Rasulullah saw di surga. Mendengar hal itu, Rasulullah saw menjelaskan bahwa harapan tersebut dapat tercapai apabila Rabiah memperbaiki dan mengkhusyukkan salatnya.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, riwayat tersebut menunjukkan bahwa harapan dalam Islam tidak bersifat gratis atau sekadar angan-angan. Seseorang tidak mungkin berharap masuk surga tanpa melaksanakan salat, puasa, zakat, dan amal saleh lainnya. Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan bahwa setiap harapan harus diiringi dengan usaha spiritual dan pelaksanaan syariat secara benar.

Beliau kemudian melanjutkan pembahasan dengan menjelaskan bahwa pahala dan hukuman tidak ditentukan hanya oleh keinginan manusia semata. Dalam kesempatan tersebut, beliau membacakan firman Allah swt:

Laisa bi-amāniyyikum wa lā amāniyyi ahlil-kitāb. May ya‘mal sū’an yujza bihī wa lā yajid lahū min dūnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

“(Pahala itu) bukanlah menurut angan-anganmu dan bukan pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan dia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. An-Nisa [4]: 123)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa sebagian manusia mengira mereka akan memperoleh pahala dan keselamatan hanya karena memiliki keyakinan tertentu atau sekadar berharap mendapatkan rahmat Allah swt. Padahal, menurut Al-Qur’an, setiap amal memiliki konsekuensi dan perhitungan. Orang yang melakukan keburukan akan menerima balasannya dan tidak ada yang dapat menolongnya apabila ia tidak bertobat kepada Allah swt.

Dalam pembahasan tentang Hari Kiamat, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seluruh amal manusia akan diperlihatkan secara nyata di hadapan pelakunya. Beliau kemudian mengutip firman Allah swt:

Yauma tajidu kullu nafsim mā ‘amilat min khairim muḥḍaraw wa mā ‘amilat min sū’, tawaddu lau anna bainahā wa bainahū amadam ba‘īdā

“Pada hari ketika setiap orang menemukan segala kebajikan dihadapkan di hadapannya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya, dia ingin sekiranya antara dia dan hari itu ada jarak yang jauh.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 30)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan bahwa amal baik maupun buruk akan hadir di hadapan manusia pada Hari Kiamat. Beliau menjelaskan bahwa sebagian tafsir menyebut amal-amal itu dapat berwujud secara nyata di hadapan pelakunya. Karena itu, orang yang melakukan dosa akan berharap amal buruknya dijauhkan darinya. Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh seseorang yang melakukan pencurian di dunia, lalu pada Hari Kiamat perbuatan itu hadir di hadapannya sehingga ia berharap ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dan dosa tersebut.

Pada bagian akhir kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa setan juga memiliki “harapan” terhadap manusia, yaitu menyesatkan mereka agar jauh dari Allah swt. Beliau membacakan firman Allah swt:

Wa la-uḍillannahum wa la-umanniyannahum

“Dan sungguh akan aku sesatkan mereka, dan akan aku bangkitkan angan-angan kosong pada mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 119)

Beliau menjelaskan bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah dengan menyibukkan mereka dalam angan-angan kosong, harapan palsu, dan keinginan-keinginan buruk yang membuat manusia lalai dari Allah swt. Karena itu, menurut beliau, seorang mukmin harus berhati-hati agar harapannya tidak berubah menjadi tipu daya setan yang menjauhkan dirinya dari amal saleh dan ketakwaan.

Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara harapan dan amal. Seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah swt, tetapi juga tidak boleh hanya hidup dalam angan-angan kosong tanpa usaha dan ketaatan. Menurut beliau, harapan terbaik dalam pandangan Al-Qur’an adalah harapan yang mendorong manusia semakin dekat kepada Allah swt melalui amal saleh, ibadah, dan kehidupan yang sesuai dengan syariat-Nya.