Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan Webinar Internasional bertema “Haji dan Peradaban Islam: Dari Transformasi Personal Menuju Harmoni Sosial dan Persatuan Umat” pada Selasa, 26 Mei 2026. Dalam pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah lainnya. Menurut beliau, selain sebagai ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah swt, haji juga memiliki dimensi spiritual, pendidikan, sosial, historis, dan peradaban yang sangat luas sehingga menjadikannya sebagai salah satu manifestasi paling sempurna dari ajaran Islam.
Pada awal pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa haji merupakan ibadah samawi yang memiliki karakteristik unik dibandingkan salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Beliau menerangkan bahwa haji memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi eksklusif dan dimensi inklusif. Haji bersifat eksklusif karena memiliki aturan, syarat, tempat, dan waktu pelaksanaan yang khusus. Namun pada saat yang sama, haji juga bersifat sangat inklusif karena mengandung pelajaran yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari pendidikan spiritual, sejarah, akhlak, hubungan sosial, hingga pembangunan peradaban umat manusia.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa sebagaimana manusia dalam kehidupan sehari-hari memiliki berbagai gelar dan identitas yang melekat pada dirinya, ibadah haji juga memiliki sejumlah sematan dan kedudukan istimewa yang diberikan oleh Allah swt kepada para pelakunya. Karena keterbatasan waktu, beliau hanya menyebutkan beberapa di antaranya. Menurut beliau, jamaah haji berada dalam jaminan dan perlindungan Allah swt, berada dalam pertolongan-Nya, serta memperoleh kehormatan sebagai tamu Allah swt. Kedudukan sebagai tamu Allah merupakan kemuliaan yang sangat tinggi karena menunjukkan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa sejak seseorang meniatkan diri untuk menunaikan ibadah haji, pada saat itu pula ia telah memasuki lingkaran rahmat dan perhatian Allah swt. Ia berada dalam perlindungan-Nya, mendapatkan pertolongan-Nya, serta memperoleh kehormatan sebagai tamu yang dipanggil secara khusus untuk mendatangi rumah Allah. Karena itu, menurut beliau, tidak ada kehormatan yang lebih besar bagi seorang mukmin selain menjadi tamu Allah swt dan memenuhi panggilan-Nya di Tanah Suci.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa haji merupakan ibadah yang sangat sarat dengan ilmu pengetahuan dan pelajaran sejarah. Menurut beliau, di antara seluruh ibadah yang ada dalam Islam, haji merupakan salah satu ibadah yang paling historis karena hampir seluruh rangkaian manasiknya berkaitan dengan sejarah para nabi, orang-orang saleh, dan peristiwa-peristiwa penting yang menjadi bagian dari perjalanan panjang agama tauhid. Melalui haji, seorang muslim tidak hanya melaksanakan ritual ibadah, tetapi juga mempelajari sejarah perjuangan para nabi dan memahami kembali akar peradaban Islam.
Beliau menambahkan bahwa selain menjadi pelajaran sejarah, haji juga merupakan pelajaran Al-Qur’an yang diwujudkan dalam bentuk praktik kehidupan. Segala gerakan dan aktivitas yang dilakukan selama manasik haji memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Menurut beliau, Al-Qur’an berbicara tentang haji dalam dua bentuk. Sebagian ayat membahas haji secara langsung, sementara sebagian lainnya menyinggung nilai-nilai dan pelajaran haji secara tidak langsung. Beliau mencontohkan bahwa Surah Al-Baqarah memuat sejumlah ayat yang berkaitan dengan haji, sementara terdapat pula satu surah khusus yang dinamakan Surah Al-Hajj, yang menunjukkan betapa pentingnya ibadah tersebut dalam ajaran Islam.
Dalam pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani juga menyoroti dimensi tarbiah atau pendidikan yang terkandung dalam ibadah haji. Menurut beliau, seluruh rangkaian amalan haji seperti ihram, wukuf di Arafah, sa’i antara Safa dan Marwah, serta berbagai ritual lainnya merupakan sarana pendidikan yang dirancang untuk membentuk karakter manusia. Melalui proses tersebut, seorang muslim dilatih menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, santun, sabar, mampu hidup bersama masyarakat, serta memiliki kepribadian yang bercorak ilahiah.
Beliau kemudian memberikan contoh mengenai makna pendidikan yang terkandung dalam ihram. Menurut beliau, ketika seorang presiden, pejabat tinggi negara, tokoh masyarakat, atau orang kaya datang untuk menunaikan haji, seluruh simbol duniawi yang melekat pada dirinya harus ditanggalkan. Jabatan, pangkat, kekayaan, gelar, dan status sosial tidak lagi memiliki arti ketika seseorang mengenakan pakaian ihram. Semua manusia berdiri sejajar di hadapan Allah swt dengan pakaian yang sama dan tujuan yang sama. Menurut beliau, inilah salah satu pelajaran terbesar dari haji yang mengajarkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan ketundukan di hadapan Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani selanjutnya menjelaskan bahwa haji merupakan ibadah yang penuh dengan syiar dan simbol-simbol ketuhanan. Beliau menerangkan bahwa dalam Islam terdapat berbagai syiar seperti azan dan salat yang menjadi simbol penghambaan kepada Allah swt. Namun dalam ibadah haji, hampir seluruh gerakan dan aktivitas yang dilakukan merupakan syiar ilahi yang mengandung pesan-pesan Qurani dan Rabbani. Tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Safa dan Marwah, berdiri di Arafah, berhenti di Muzdalifah, melontar jumrah, berkurban, hingga berziarah ke tempat-tempat bersejarah merupakan rangkaian simbol yang sarat dengan makna spiritual.
Dalam konteks tersebut, beliau mengutip firman Allah swt:
Wa man yu‘azzhim sya‘ā’irallāhi fa innahā min taqwal qulūb
“Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap syiar-syiar Allah merupakan manifestasi ketakwaan yang lahir dari kedalaman iman seorang mukmin. Oleh karena itu, seluruh ritual haji harus dipahami bukan sekadar sebagai gerakan fisik, melainkan sebagai simbol-simbol ilahi yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Pada bagian berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa roh dan spirit terdalam dari ibadah haji adalah perjumpaan dan pertautan hati dengan imam, wali Allah, dan para kekasih-Nya. Beliau mengaitkan pembahasan tersebut dengan Hari Arafah yang pada saat itu sedang berlangsung. Menurut beliau, terdapat hadis yang sangat terkenal yang menyebut:
Al-hajju ‘Arafah
“Haji itu adalah Arafah.”
Beliau menjelaskan bahwa kata Arafah memiliki akar kata yang sama dengan makrifah atau pengetahuan. Karena itu, Hari Arafah merupakan momentum pencarian ilmu, peningkatan kesadaran spiritual, dan pengenalan yang lebih dalam kepada Allah swt. Dalam pandangan beliau, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan ruhani menuju makrifat dan pengenalan terhadap kebenaran.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ketika seorang jamaah melakukan tawaf dan berziarah ke Maqam Ibrahim, sesungguhnya ia sedang membangun hubungan spiritual dengan para nabi, para wali Allah, para hamba saleh, dan hujjah-hujjah Allah di muka bumi. Karena itu, haji merupakan sarana pertautan hati dengan para pembimbing ilahi yang telah menunjukkan jalan menuju Allah swt. Melalui proses tersebut, seorang hamba diajak untuk memperkuat hubungan spiritualnya dengan para teladan agama dan meneruskan jejak perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Pada penghujung pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa haji merupakan simbol besar persatuan umat Islam. Menurut beliau, jutaan manusia dari berbagai bangsa, ras, bahasa, budaya, dan latar belakang sosial berkumpul di satu tempat dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah swt. Perbedaan-perbedaan yang biasanya menjadi pembatas dalam kehidupan dunia menjadi hilang ketika seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama dan bergerak menuju satu tujuan yang sama.
Beliau menjelaskan bahwa haji mengajarkan proses pembangunan peradaban yang dimulai dari pembentukan individu. Melalui pendidikan spiritual yang terkandung dalam haji, seseorang dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Individu-individu yang baik kemudian akan membentuk masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik akan melahirkan umat yang kuat. Pada akhirnya, umat yang kuat akan mampu membangun peradaban Islam yang agung dan berkeadilan.
Menurut beliau, tidak ada ibadah lain yang memiliki potensi pembentukan pribadi, masyarakat, umat, dan peradaban seluas ibadah haji. Karena itu, umat Islam perlu memahami haji bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai sarana transformasi yang mampu melahirkan perubahan sosial yang besar. Beliau mengajak seluruh peserta webinar untuk menjadikan nilai-nilai haji sebagai landasan dalam membangun kehidupan pribadi, memperkuat harmoni sosial, memperkokoh persatuan umat, dan mewujudkan peradaban Islam yang maju dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
Di akhir pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa haji harus dipahami sebagai perjalanan transformasi yang dimulai dari perubahan diri, kemudian berkembang menjadi harmoni sosial, persatuan umat, dan akhirnya melahirkan peradaban Islam yang unggul. Dengan menjadikan nilai-nilai haji sebagai pedoman kehidupan, umat Islam diharapkan mampu membangun masyarakat yang bersatu, bermartabat, dan berorientasi kepada Allah swt.

