Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026, disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan mengangkat hikmah peristiwa Asyura dan pentingnya menyucikan jiwa agar manusia mampu mengenal alam malakut. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan ungkapan dukacita kepada seluruh jemaah bertepatan dengan hari Asyura yang jatuh pada hari Jumat. Beliau juga mengingatkan bahwa sebaik-baik pakaian adalah takwa serta mengajak seluruh jemaah memperhatikan dengan saksama pelajaran besar yang dapat dipetik dari tragedi Karbala untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Allah swt menciptakan dua jenis alam. Pertama adalah alam zahir, yaitu alam yang dapat disaksikan oleh mata dan dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kedua adalah alam batiniah atau alam malakut, yaitu alam yang tidak dapat dilihat oleh mata lahiriah, tetapi benar-benar ada dalam kekuasaan Allah swt. Menurut beliau, alam malakut hanya diperlihatkan kepada hamba-hamba yang mampu menyucikan dirinya sehingga memiliki kelayakan untuk memahaminya.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Wa każālika nurī Ibrāhīma malakūtas-samāwāti wal-arḍi wa liyakūna minal-mūqinīn.
“Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan (langit dan bumi) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An’am [6]: 75)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim as diberikan kemampuan untuk memahami alam malakut karena telah mencapai derajat kesucian jiwa. Dengan kesucian tersebut, mata batin beliau terbuka sehingga mampu menyaksikan hakikat yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra.
Beliau menegaskan bahwa keberadaan alam malakut mengajarkan manusia bahwa terdapat kekuatan dan ketentuan Allah swt yang bekerja di luar perhitungan fisik. Sebagai contoh, beliau menjelaskan tentang pernikahan. Secara perhitungan ekonomi, seseorang yang menikah akan memiliki tanggungan yang lebih besar sehingga secara logika harta yang dimiliki akan berkurang. Namun, Allah swt justru menjanjikan keluasan rezeki bagi orang yang menikah. Menurut beliau, inilah salah satu bentuk pengaruh alam malakut yang tidak dapat dipahami hanya dengan ukuran matematis.
Contoh lain yang beliau sampaikan adalah sedekah. Secara lahiriah, sedekah mengurangi jumlah harta seseorang, tetapi dalam hakikat alam malakut justru menjadi sebab datangnya rezeki yang lebih besar. Beliau mengutip sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa manusia diperintahkan menarik turunnya rezeki melalui sedekah. Dengan demikian, harta yang dikeluarkan di jalan Allah swt tidak akan berkurang, bahkan akan diganti dengan balasan yang berlipat ganda.
Untuk memperjelas penjelasan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan pengalaman seorang talabah yang hidup dalam kondisi sangat miskin dan memiliki banyak utang. Ketika meminta nasihat untuk memperbaiki keadaan ekonominya, talabah tersebut diarahkan menemui Imam Ayatullah Behjad. Setelah mendengar seluruh persoalan yang dihadapinya, Ayatullah Behjad justru menasihatinya agar memberi makan orang-orang miskin.
Nasihat itu sempat membuat talabah tersebut terkejut karena dirinya sendiri berada dalam keadaan kekurangan. Namun karena yakin terhadap petunjuk gurunya, ia tetap berusaha meminjam uang untuk menyediakan makanan bagi kaum duafa. Menurut penuturan Syaikh Mohammad Sharifani, sebelum waktu Zuhur pada hari yang sama, talabah tersebut memperoleh rezeki berkali-kali lipat dibandingkan apa yang telah ia keluarkan. Beliau menegaskan bahwa kisah tersebut menjadi bukti bagaimana sedekah membuka pintu-pintu rezeki melalui mekanisme yang berada di luar penglihatan manusia.
Memasuki pembahasan tentang peristiwa Karbala, Syaikh Mohammad Sharifani mengisahkan saat Imam Husain as meminta para sahabatnya meninggalkan beliau agar tidak ikut menghadapi kesyahidan. Namun para sahabat dengan penuh keikhlasan menolak meninggalkan imam mereka dan menyatakan akan tetap mendampingi beliau hingga akhir hayat.
Setelah mendengar ketulusan para sahabatnya, Imam Husain as, menurut penjelasan beliau, membuka tabir alam malakut di hadapan mereka. Ketika hijab itu tersingkap, para sahabat dapat melihat kedudukan dan tempat mereka di surga. Karena telah menyaksikan hakikat tersebut, mereka berlomba-lomba meminta izin kepada Imam Husain as untuk maju ke medan perang demi meraih kesyahidan.
Beliau juga mengisahkan berbagai peristiwa luar biasa yang diriwayatkan terjadi pada hari Asyura. Ketika Imam Husain as gugur sebagai syahid, langit memerah, matahari mengalami gerhana, darah tampak muncul di bawah bebatuan, serta seluruh makhluk menangis, termasuk burung-burung dan hewan-hewan di lautan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, meskipun manusia pada masa sekarang tidak dapat menyaksikannya secara lahiriah, seluruh peristiwa tersebut benar-benar terjadi dalam hakikat alam malakut.
Beliau kemudian menyampaikan bahwa apabila seseorang hadir di majelis Imam Husain as dengan hati yang bersih, niscaya hatinya akan tersentuh hingga menangis ketika mengingat tragedi Karbala. Tangisan tersebut menjadi pertanda bahwa hati masih memiliki kesucian sehingga mampu berhubungan dengan alam malakut dan menerima pelajaran rohani dari Imam Husain as.
Syaikh Mohammad Sharifani juga mengisahkan riwayat tentang Nabi Adam as yang hatinya bergetar ketika menyebut nama Imam Husain as. Ketika bertanya kepada Malaikat Jibril mengenai nama tersebut, Nabi Adam as diberi tahu bahwa Imam Husain as adalah keturunannya yang kelak akan gugur sebagai syahid. Beliau menjelaskan bahwa kecintaan kepada Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat agung dalam perjalanan spiritual para nabi.
Pada bagian akhir khutbahnya, beliau menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan agar mata batin menjadi bersih dan mampu mengenal alam malakut. Menurut beliau, seseorang harus menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah swt, menjaga hati dari pikiran-pikiran buruk, serta menjaga pendengaran dari sesuatu yang dilarang untuk didengar. Selain itu, umat Islam harus membiasakan diri membaca Al-Qur’an, mendengarkan nasihat serta hadis-hadis ahlul bait as, dan menghadiri majelis-majelis Asyura maupun majelis azadari sebagai sarana membersihkan jiwa.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan pengalaman pribadi beliau selama kurang lebih lima belas tahun mendampingi Ayatullah Behjad. Beliau bersaksi bahwa Ayatullah Behjad merupakan seorang ulama yang saleh dan senantiasa berhubungan dengan Allah swt sehingga mata batinnya terbuka. Menurut beliau, hanya dalam beberapa menit bertemu dengan seseorang, Ayatullah Behjad mampu mengetahui keadaan batin, amal, dan kondisi rohani orang tersebut karena menyaksikan hakikat dirinya melalui alam malakut.
Beliau menjelaskan bahwa kebiasaan utama Ayatullah Behjad adalah selalu membaca Al-Qur’an, hidup berdampingan dengan Al-Qur’an, serta berusaha mengamalkan seluruh ajaran yang dipahaminya dari kitab suci tersebut. Kebiasaan itulah yang menjadi salah satu sebab terbukanya mata batin beliau.
Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak seluruh jemaah memohon kepada Allah swt agar diberikan taufik untuk membersihkan hati, menjauhkan diri dari keburukan, serta membuka mata batin sehingga mampu mengenal alam malakut. Beliau kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as. Menurut beliau, Nabi Musa as sempat merasa heran ketika Nabi Khidir as melubangi kapal dan membunuh seorang anak. Namun semua tindakan itu baru dipahami setelah Nabi Khidir as menjelaskan hikmah yang berada di balik peristiwa tersebut. Kisah itu menunjukkan bahwa ilmu yang berasal dari Allah swt dan mata batin yang bersih akan memperlihatkan hakikat yang tidak dapat dipahami hanya melalui pandangan lahiriah. Beliau berharap seluruh jemaah yang hadir dalam peringatan kesyahidan Imam Husain as senantiasa memperoleh taufik untuk menyucikan jiwa dan mengenal alam malakut.



