Skip to main content

Khutbah Jumat ICC Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026 disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani dengan membahas faktor-faktor yang dapat melahirkan perbuatan dosa dalam diri manusia. Setelah pada beberapa pekan sebelumnya membahas dosa, beliau menjelaskan bahwa pembahasan kali ini dan beberapa pekan berikutnya akan diarahkan pada sebab-sebab munculnya perbuatan dosa. Pada khutbah kali ini, beliau secara khusus membahas faktor-faktor yang bersifat alami dalam diri manusia, yaitu tiga daya utama yang Allah swt berikan kepada setiap manusia: daya berpikir (al-quwwah al-‘aqilah), daya amarah (al-quwwah al-ghadabiyah), dan daya syahwat (al-quwwah asy-syahwaniyah).

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ketiga daya tersebut pada dasarnya merupakan nikmat dari Allah swt. Daya berpikir memungkinkan manusia mengetahui, memahami, membandingkan, dan mengambil keputusan. Daya amarah membuat manusia mampu mempertahankan diri, melakukan perlawanan, berjuang, serta berusaha menghindari berbagai bahaya. Sementara itu, daya syahwat mendorong manusia untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkannya, seperti makanan, minuman, kedudukan, dan jabatan.

Menurut beliau, ketiga daya tersebut tidak diberikan Allah swt untuk menjadi sumber keburukan. Justru, semuanya merupakan karunia yang memungkinkan manusia memperoleh berbagai manfaat dalam kehidupannya. Persoalan muncul ketika daya-daya tersebut tidak dikendalikan, digunakan secara tidak tepat, atau tidak ditempatkan secara seimbang. Dalam kondisi seperti itu, sesuatu yang pada dasarnya merupakan nikmat dapat berubah menjadi sumber petaka.

Untuk menjelaskan hal tersebut, beliau memberikan contoh air. Air merupakan nikmat Allah swt yang sangat besar dan menjadi sumber kehidupan manusia serta alam semesta. Namun, ketika air tidak dapat dikendalikan dengan baik, misalnya ketika hujan turun deras dan aliran air tidak diarahkan melalui jalur yang semestinya, air dapat meluap dan menimbulkan banjir. Dengan demikian, sesuatu yang pada dasarnya merupakan nikmat dan memberikan manfaat dapat berubah menjadi bencana apabila tidak dikelola dengan baik.

Hal yang sama berlaku pada tiga daya yang terdapat dalam diri manusia. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan satu per satu bagaimana ketiganya dapat menjadi sumber persoalan apabila tidak dikendalikan.

Pertama adalah al-quwwah al-‘aqilah, yaitu daya berpikir. Menurut beliau, kemampuan berpikir merupakan karunia yang luar biasa. Namun, orang yang memiliki kemampuan berpikir sangat tinggi pun dapat terjebak melakukan keburukan apabila kemampuan tersebut tidak digunakan secara tepat. Seseorang dapat menggunakan kecerdasannya untuk melakukan kelicikan atau berbagai tindakan yang merugikan orang lain.

Beliau juga memberikan contoh dalam kehidupan rumah tangga. Menurut beliau, manusia tidak dapat sepenuhnya memperlakukan anak, istri, atau anggota keluarga hanya berdasarkan pertimbangan rasional. Dalam kehidupan keluarga diperlukan pula sikap toleransi dan pertimbangan kemanusiaan. Tidak semua persoalan kehidupan dapat diselesaikan hanya dengan rasio. Karena itu, meskipun daya berpikir memiliki fungsi yang sangat positif, penggunaan rasio yang tidak terkendali dan menjadikan segala sesuatu semata-mata harus tunduk kepada ukuran rasional dapat menimbulkan persoalan.

Kedua adalah al-quwwah al-ghadabiyah, yaitu daya amarah. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa amarah juga merupakan sesuatu yang positif apabila digunakan secara tepat. Dengan daya tersebut manusia dapat mempertahankan dirinya, menegakkan keadilan, dan mendorong seseorang untuk membawa orang lain kepada jalan yang benar.

Namun, apabila amarah tidak dikendalikan, daya tersebut dapat berubah menjadi sumber bencana. Seseorang dapat menjadi mudah tersulut emosi dan cepat marah. Apabila kondisi seperti ini terjadi secara luas dalam kehidupan manusia, yang muncul adalah pertengkaran, konflik, bahkan perang di berbagai tempat karena manusia tidak mampu mengendalikan dirinya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa dalam penggunaan daya amarah terdapat dua bentuk penyimpangan, yaitu ifrath dan tafrith. Ifrath terjadi ketika seseorang menggunakan daya amarah secara berlebihan, sedangkan tafrith terjadi ketika daya tersebut seharusnya digunakan tetapi justru tidak digunakan.

Sebagai contoh tafrith, beliau menyinggung situasi ketika suatu kejahatan seharusnya dicegah tetapi dibiarkan. Beliau mencontohkan tindakan pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap masyarakat yang menurut beliau seharusnya dicegah oleh pemerintahnya. Ketika kekuatan yang semestinya digunakan untuk mencegah kezaliman tidak digunakan, kondisi tersebut termasuk bentuk tafrith dalam penggunaan daya amarah.

Daya ketiga adalah al-quwwah asy-syahwaniyah, yaitu daya syahwat yang mendorong manusia untuk memperoleh berbagai hal yang diinginkannya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, apabila daya ini tidak dikontrol dan tidak diseimbangkan, dampaknya juga dapat menjadi bencana bagi kehidupan sosial.

Beliau menggambarkan kondisi tersebut dengan istilah haraj wa maraj, yaitu keadaan kacau ketika aturan tidak lagi dihormati. Jika setiap orang mengambil apa saja yang diinginkannya, bahkan mencuri karena menginginkan sesuatu, maka kehidupan sosial akan berubah menjadi kekacauan. Demikian pula apabila keinginan terhadap lawan jenis tidak dikendalikan, akan muncul perzinaan dan berbagai perbuatan yang tidak terkendali.

Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa yang harus dilakukan manusia bukanlah menghilangkan ketiga daya tersebut, melainkan menyeimbangkannya. Dengan keseimbangan itu, manusia dapat bertindak secara bijaksana dan mewujudkan kebaikan serta kedamaian dalam kehidupannya.

Di antara ketiga daya tersebut, beliau menekankan bahwa daya yang paling utama adalah daya berpikir atau al-quwwah al-‘aqilah. Karena itu, Al-Qur’an banyak memberikan perintah kepada manusia untuk menggunakan akal, berpikir, melakukan pengamatan, belajar, dan merenungkan berbagai tanda kebesaran Allah swt. Menurut beliau, semua itu dimaksudkan agar daya berpikir dalam diri manusia dapat diaktifkan semaksimal mungkin.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa apabila daya berpikir menjadi dominan dalam diri seseorang, insyaallah daya tersebut dapat mengendalikan dua daya lainnya, yaitu daya amarah dan daya syahwat. Karena itu, manusia perlu terus mengaktifkan kemampuan berpikirnya agar tidak mudah dikuasai oleh kemarahan ataupun keinginan yang tidak terkendali.

Beliau kemudian membawa tiga contoh dari Al-Qur’an untuk menunjukkan pentingnya berpikir sekaligus buruknya akibat yang muncul ketika manusia tidak menggunakan akalnya. Orang yang tidak menggunakan pikirannya dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai orang yang tajhalun, yaitu orang-orang yang tidak menggunakan pengetahuan dan akalnya dengan semestinya.

Contoh pertama adalah kisah umat Nabi Musa as. Dalam Surah Al-A’raf ayat 138, kaum Nabi Musa as meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah tuhan sebagaimana orang-orang yang mereka lihat memiliki sesembahan.

Wa jāwaznā bi banī Isrā’īlal-baḥra fa ataw ‘alā qaumin ya‘kufūna ‘alā aṣnāmil lahum qālū yā Mūsaj‘al lanā ilāhan kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun tajhalūn.

“Kami menyeberangkan Bani Israil ke seberang laut, lalu mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala-berhala mereka. Mereka berkata, ‘Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 138)

Menurut beliau, permintaan tersebut menunjukkan bagaimana manusia dapat kehilangan kemampuan berpikir ketika mengikuti sesuatu tanpa mempertimbangkan kebenarannya. Mereka melihat orang lain menyembah berhala, kemudian menginginkan hal yang sama tanpa memahami hakikat ketuhanan.

Contoh kedua adalah umat Nabi Lut as. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kaum Nabi Lut as melakukan perbuatan yang sangat tercela karena mengikuti dorongan syahwat yang tidak semestinya. Al-Qur’an menggambarkan perkataan Nabi Lut as kepada kaumnya:

A-innakum lata’tūnar-rijāla syahwatan min dūnin-nisā’, bal antum qaumun tajhalūn.

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan mendatangi perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. An-Naml [27]: 55)

Menurut beliau, ayat tersebut kembali menunjukkan persoalan manusia yang tidak menggunakan akal dan membiarkan dorongan syahwat menguasai dirinya. Ketika daya syahwat tidak lagi dikendalikan oleh daya berpikir, manusia dapat terjerumus ke dalam berbagai perbuatan yang menyimpang.

Contoh ketiga adalah kisah saudara-saudara Nabi Yusuf as. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf as pernah diliputi rasa iri dan dengki sehingga berusaha mencelakakan Nabi Yusuf as. Mereka kemudian menyadari kesalahan tersebut setelah Allah swt menunjukkan kebenaran Nabi Yusuf as.

Dalam Surah Yusuf ayat 89, Nabi Yusuf as mengingatkan mereka tentang apa yang pernah mereka lakukan:

Qāla hal ‘alimtum mā fa‘altum bi Yūsufa wa akhīhi idz antum jāhilūn.

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Tahukah kamu apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui?’” (QS. Yusuf [12]: 89)

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa ketiga contoh tersebut menunjukkan betapa pentingnya manusia mengaktifkan daya berpikirnya. Daya berpikir harus menjadi penyeimbang bagi daya amarah dan daya syahwat agar manusia tidak terjebak dalam perbuatan dosa.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan jemaah bahwa bulan Safar telah berada di penghujung. Beliau menyampaikan bahwa pada akhir bulan tersebut terdapat sejumlah peristiwa penting yang berkaitan dengan wafat dan kesyahidan tokoh-tokoh utama serta para kekasih Allah swt.

Beliau menyebut wafatnya Rasulullah saw pada 28 Safar sebagai peristiwa yang paling utama. Pada waktu yang berdekatan juga diperingati kesyahidan Imam Hasan as, putra Imam Ali as, cucu Rasulullah saw, yang menurut beliau merupakan saudara Imam Husain as dan putra Imam Ali as serta Sayidah Fatimah Az-Zahra as.

Setelah selama Muharam dan Safar umat Islam memperingati kesyahidan Imam Husain as, penghujung bulan Safar menjadi kesempatan untuk memperingati kesyahidan Imam Hasan as. Selain itu, terdapat pula kesyahidan Imam Ali ar-Ridha as, Imam kedelapan, yang makamnya berada di Masyhad. Beliau menggambarkan Imam Ridha as sebagai imam yang penuh kasih dan penyayang.

Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan rencana penyelenggaraan sebuah majelis pada malam Jumat pekan berikutnya untuk memperingati ketiga peristiwa tersebut. Majelis tersebut akan diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, doa Kumail, serta peringatan wafat Rasulullah saw dan kesyahidan Imam Hasan as serta Imam Ridha as.

Beliau mengajak kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, khususnya para pecinta ahlul bait as, untuk memberikan perhatian khusus dan menghadiri majelis tersebut. Menurut beliau, majelis itu diharapkan menjadi majelis yang memberikan pencerahan dan keberkahan bagi seluruh yang hadir.

Pada kesempatan yang sama, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa malam Jumat tersebut juga bertepatan dengan hari ke-40 pemakaman almarhum Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau mengajak jemaah untuk sekaligus mengenang sosok yang menurut beliau memiliki kedudukan besar dalam sejarah.

Beliau menyampaikan bahwa tidak pernah dalam sejarah terdapat seorang tokoh yang pemakamannya diantar oleh puluhan juta manusia. Menurut beliau, hal tersebut menggambarkan tingginya posisi dan kedudukan tokoh tersebut. Karena itu, beliau menilai sudah semestinya kaum muslimin senantiasa memberikan takzim dan penghormatan kepada beliau.