Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) menyelenggarakan peringatan Milad Imam Muhammad al-Baqir as pada Selasa, 23 Desember 2025. Acara dibuka dengan sambutan oleh Ustaz Arif Mulyadi yang menekankan bahwa pertemuan malam tersebut bukanlah sekadar perkumpulan biasa, melainkan sebuah upaya mengenang sosok agung yang hadir sebagai fajar penyingkap kegelapan saat dunia Islam diliputi kabut kebodohan dan penyimpangan. Dalam penjelasannya, Ustaz Arif Mulyadi menyampaikan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as adalah pribadi yang ilmunya mengalir laksana mata air, memiliki akhlak yang menenangkan jiwa, bahkan diamnya pun mengandung pelajaran berharga bagi umat. Beliau menegaskan bahwa peringatan ini merupakan bentuk kesadaran bahwa Islam hidup dengan ilmu dan iman tumbuh melalui pemahaman, di mana kecintaan kepada ahlul bait as harus menjelma menjadi keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai jalan kebangkitan intelektual.

Setelah pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ustaz Ikrom Muzadi dan penampilan hadrah oleh Tim Haidar sebelum memasuki sesi ceramah utama. Syaikh Mohammad Sharifani, dengan terjemahan oleh Ustaz Hafidh Alkaf, mengawali ceramahnya dengan memberikan ucapan selamat atas milad Imam Muhammad al-Baqir as sekaligus menyambut bulan Rajab. Beliau mengingatkan jamaah untuk memaksimalkan kesempatan besar di bulan ini demi meraih anugerah spiritual dari Allah swt. Dalam membedah keutamaan Imam Muhammad al-Baqir as, Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada pemikiran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam buku Manusia 250 Tahun, yang memandang kehidupan dua belas imam maksum as sebagai satu kesatuan pribadi yang utuh dari masa Imam Ali bin Abi Thalib as hingga awal kegaiban Imam Muhammad al-Mahdi as. Beliau mengumpamakan hal ini seperti seorang manusia yang hidup selama ratusan tahun, di mana setiap fase usianya memiliki aktivitas berbeda namun tetap memperlihatkan kepribadian yang sama. Meskipun Imam Ali bin Abi Thalib as memilih diam selama 25 tahun, Imam Hasan al-Mujtaba as menempuh jalan damai, Imam Husain bin Ali as melakukan gerakan bersenjata, dan Imam Ali Zainal Abidin as menyibukkan diri dengan ibadah, semuanya berada dalam satu garis keutamaan yang sama.

Secara khusus, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja’far ash-Shadiq as memiliki keistimewaan sejarah karena hidup di masa transisi antara akhir kekuasaan Bani Umayyah dan awal Bani Abbasiyah. Lemahnya rezim pada periode tersebut menjadi kesempatan emas bagi kedua imam untuk menyampaikan ilmu-ilmu suci Rasulullah Muhammad saw secara luas. Sebagai perbandingan, jika dari Imam Husain bin Ali as hanya diperoleh sekitar 100 hadis karena tekanan politik, murid-murid Imam Muhammad al-Baqir as justru berhasil menyerap lebih dari 30.000 hadis. Berkah dari ajaran ini mencakup tiga hal besar, yang pertama adalah dibukanya pintu bagi masyarakat untuk mendengar kalam nurani dari Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw. Imam Ja’far ash-Shadiq as sendiri menegaskan bahwa hadis-hadis mereka saling berkaitan dan memberikan jaminan keselamatan serta kemajuan bagi siapa saja yang mengamalkannya, sementara yang meninggalkannya akan tersesat dan binasa.

Poin kedua dari ajaran mereka adalah penerapan spesialisasi dalam bidang keilmuan, yang mencakup bidang Al-Qur’an, sastra Arab, fikih, ilmu kalam, tauhid, hingga ilmu fisika. Selain itu, poin ketiga menekankan pentingnya budaya bertanya dalam menuntut ilmu. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah swt dalam Surah An-Nahl ayat 43 yang memerintahkan umat untuk bertanya kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika tidak mengetahui: “fas’alû ahladz-dzikri ing kuntum lâ ta‘lamûn” (Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui). Hal ini dipraktikkan secara nyata oleh murid-murid Imam yang sangat haus akan ilmu, salah satunya dibuktikan dengan adanya murid yang memberikan hingga 500 pertanyaan kepada Imam Muhammad al-Baqir as saat berada di Mina. Namun, beliau menyayangkan kecenderungan zaman sekarang di mana orang lebih fokus menimbun ilmu tanpa mengindahkan akhlak, padahal akhlak merupakan pondasi yang sangat penting.

Dalam mendidik akhlak, para Imam mengajarkan sifat tawadhu, di mana seorang guru harus menghormati muridnya karena keberadaan guru tidak terlepas dari adanya murid. Imam Ja’far ash-Shadiq as memperingatkan agar seseorang tidak menjadi ulama sombong yang ingin dihormati namun enggan menghormati orang lain. Selain itu, diajarkan pula etika berbicara untuk selalu mengatakan hal baik dengan kemasan atau penyampaian yang terbaik. Syaikh Mohammad Sharifani mencontohkan bahwa ucapan salam yang baik bisa menjadi tidak baik jika disampaikan dengan cara yang kasar atau keras. Rasulullah Muhammad saw dan para imam juga mengajarkan agar pembicaraan disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan akal lawan bicara, serta bagi para penceramah untuk menghindari kata-kata yang tidak perlu dan lebih memilih kalimat ringkas yang bermakna luas. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah bahwa para nabi diperintahkan Allah swt untuk berbicara kepada manusia seukuran pemahaman dan akal mereka.

Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa selain pendidikan keilmuan dan akhlak, para imam juga membukakan pintu spiritual bagi murid-muridnya. Hal ini digambarkan melalui riwayat seorang murid Imam Ja’far ash-Shadiq as yang hendak bergabung dalam majelis di hari Ghadir Khum namun dalam keadaan junub. Imam Ja’far ash-Shadiq as yang memiliki pandangan batin tajam langsung mengetahui hal tersebut dan mengingatkannya melalui Surah Al-Ahzab ayat 33: “innamâ yurîdullâhu liyudz-hiba ‘angkumur-rijsa ahlal-baiti wa yuthahhirakum tath-hîrâ” (Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya). Imam Ja’far ash-Shadiq as menekankan bahwa siapapun yang ingin bertemu dengan mereka harus dalam keadaan suci, karena keadaan tidak suci dapat meredupkan nur atau cahaya dalam diri seseorang. Rangkaian majelis ini kemudian diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ustaz Umar Shahab.

Leave a Reply