Usai pembacaan doa Ziarah Jamiah Kabirah yang rutin diselenggarakan setiap Sabtu di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan penjelasan mendalam pada Sabtu, 20 Desember 2025. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah satu penggalan ungkapan salam yang ditujukan kepada Ahlulbait as, yaitu: Assalâmu ‘alaikum yâ Awliya’ an-Ni’am yang berarti “Salam atas kalian wahai para wali kenikmatan.” Beliau menguraikan bahwa yang dimaksud dengan Awliya’ an-Ni’am adalah sosok yang memiliki, memberikan, menjaga, mengawal, menyampaikan, serta mengarahkan bagaimana menggunakan kenikmatan tersebut secara tepat sesuai dengan kehendak Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa ungkapan Awliya’ an-Ni’am mengandung tiga hal yang tersembunyi di baliknya: pertama adalah pihak yang mendatangkan kenikmatan tersebut, kedua adalah yang menjaganya supaya tidak sia-sia, dan ketiga adalah yang mengarahkan bagaimana memanfaatkan nikmat itu. Beliau kemudian membagi jenis nikmat menjadi dua macam, yakni nikmat zahir yang bersifat sementara dan nikmat batin yang bersifat abadi. Nikmat zahir mencakup kekayaan, kedudukan, strata sosial, bahkan kehadiran istri dan anak. Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa sebagian besar kenikmatan zahir di dunia ini batinnya adalah bencana, seperti halnya memperebutkan kekayaan dan kekuasaan. Allah swt sendiri mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
yâ ayyuhalladzîna âmanû inna min azwâjikum wa aulâdikum ‘aduwwal lakum faḫdzarûhum, wa in ta‘fû wa tashfaḫû wa taghfirû fa innallâha ghafûrur raḫîm “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghabun [64]: 14)
Beliau melanjutkan bahwa nikmat zahir bergantung sepenuhnya pada bagaimana kita menggunakannya. Selain itu, terdapat pula nikmat yang hakiki dengan dua ciri utama: pertama, nikmat tersebut bersifat murni tanpa ada unsur ketidaknikmatan di dalamnya. Berbeda dengan nikmat duniawi yang menuntut pengorbanan—seperti mengejar harta hingga kelelahan atau jatuh sakit—nikmat hakiki tidak demikian. Ciri kedua adalah bersifat langgeng dan lestari. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip riwayat Imam Ali as mengenai kondisi manusia di penghujung usianya. Saat itu, harta menjawab bahwa ia hanya bisa menemani sebatas kain kafan, sementara anak-anak menyatakan hanya sanggup mengantar sampai ke liang kubur lalu menutupinya dengan tanah. Hanya amal perbuatanlah yang menjawab dengan setia bahwa ia akan menemani manusia di kubur sampai hari kiamat hingga bertemu dengan Tuhan dan mendapatkan hisab, meskipun sepanjang hidup amal tersebut sering kali kurang diperhatikan.
Dalam pembahasan inti mengenai kriteria Awliya’ an-Ni’am, Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan tiga poin utama. Pertama, mereka tidak akan menimbulkan gangguan, rasa sakit, atau kerugian bagi penerima nikmat tersebut karena Ahlulbait as tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau mencontohkan bagaimana Imam Ali as menunda peperangan demi memberikan kesempatan bagi lawan untuk sadar melalui nasihat, hingga tidak ada celah lagi bagi mereka. Kedua, mereka akan selalu bersama kita. Rasulullah saw dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa cinta kepada beliau dan Sayyidah Fatimah sa akan bermanfaat saat sakaratul maut, di alam kubur, di jembatan sirath, hingga saat pembagian catatan amal. Hal senada disampaikan Imam Ridha as yang berjanji mendatangi peziarahnya di tiga tempat paling kritis di akhirat.
Kriteria ketiga adalah mereka adalah nikmat itu sendiri sekaligus pihak yang mendatangkan nikmat. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
tsumma latus’alunna yauma’idzin ‘anin-na‘îm “Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur [102]: 8)
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa berdasarkan riwayat Ahlulbait, merekalah “nikmat” yang dimaksud dalam ayat tersebut. Dalam Ziarah Jamiah Kabirah disebutkan bahwa dengan wasilah Ahlulbait as, Allah swt menurunkan hujan, mencegah langit agar tidak runtuh, dan menghilangkan kegundahan hati manusia. Allah swt menurunkan semua kenikmatan demi menunjukkan kepada seluruh makhluk kemuliaan insan-insan suci tersebut. Menutup kajian di ICC Jakarta tersebut, beliau mengajak jamaah menyambut bulan Rajab, Syakban, dan Ramadhan sebagai momentum mulia—yang di dalamnya terdapat milad dan syahadah para Imam as—dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada yang bisa diharapkan kecuali menyandarkan diri kepada para Maksumin as.



