Skip to main content

Kajian tafsir Surah Al-Fath di Islamic Cultural Center Jakarta kembali dilanjutkan bersama Syaikh Mohammad Sharifani dengan pembahasan lanjutan tentang peristiwa Perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Dalam kajian ini dijelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah, beliau mengajak kaum muslimin di berbagai tempat yang dilalui untuk turut serta dalam perjalanan tersebut. Namun perjalanan itu berakhir dengan terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, sebuah peristiwa yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai fathan mubînan, kemenangan yang nyata, meskipun pada saat itu kaum muslimin belum memasuki Makkah.

Perjanjian Hudaibiyah disebut sebagai kemenangan karena menjadi jalan pembuka bagi kemenangan-kemenangan berikutnya, termasuk pembebasan Kota Makkah. Akan tetapi pada saat itu tidak semua kaum muslimin menerima kebijakan Rasulullah. Sebagian dari mereka merasa keberatan dan menolak keputusan untuk berdamai dengan kaum musyrikin. Hal seperti ini, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani, merupakan sesuatu yang hampir selalu terjadi dalam sejarah umat manusia, di mana selalu ada sebagian pengikut yang tidak sepenuhnya patuh kepada pemimpin atau nabinya.

Dalam kehidupan masyarakat, biasanya terdapat dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah mayoritas yang cenderung mencari alasan dan pembenaran untuk menghindari tanggung jawab. Kelompok kedua adalah minoritas yang tetap setia, bertanggung jawab, dan bersedia berjuang di jalan kebenaran. Kelompok minoritas inilah yang sering kali menjadi penopang perjuangan para nabi dan pemimpin Ilahi.

Fenomena penolakan terhadap perintah Rasulullah pada masa Hudaibiyah digambarkan oleh Allah swt dalam Surah Al-Fath ayat 11: sayaqûlu lakal-mukhallafûna minal-a‘râbi syaghalatnâ amwâlunâ wa ahlûnâ fastaghfir lanâ, yang berarti, “Orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan (karena tidak mau ikut ke Hudaibiah) akan berkata kepadamu, ‘Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’” (Al-Fath: 11).

Alasan yang mereka kemukakan adalah kesibukan dengan harta dan keluarga. Namun menurut penjelasan Al-Qur’an, alasan tersebut bukanlah alasan yang sebenarnya. Permintaan mereka agar Rasulullah memohonkan ampunan pun bukanlah tanda tobat yang tulus, melainkan hanya alasan yang dibuat-buat. Karena itu Allah swt berfirman, yaqûlûna bi’alsinatihim mâ laisa fî qulûbihim, yang berarti, “Mereka mengucapkan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya.” (Al-Fath: 11). Ayat ini menggambarkan adanya ketidaksesuaian antara ucapan dan isi hati mereka.

Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa akar persoalan mereka sebenarnya terletak pada lemahnya iman dan buruknya prasangka kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Fath ayat 13, wa man lam yu’min billâhi wa rasûlihî fa innâ a‘tadnâ lil-kâfirîna sa‘îrâ, yang berarti, “Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang menyala-nyala.” (Al-Fath: 13). Lemahnya iman membuat mereka tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap janji Allah dan kerasulan Nabi Muhammad.

Selain itu, mereka juga berprasangka buruk kepada Allah swt dan meragukan kemenangan yang telah dijanjikan kepada kaum mukminin. Padahal Allah telah menegaskan bahwa agama Islam akan dimenangkan di atas agama-agama lainnya sebagaimana firman-Nya, huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḥaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullih, wa kafâ billâhi syahîdâ, yang berarti, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28).

Keraguan mereka terhadap janji Allah juga disebutkan dalam Surah Al-Fath ayat 12: bal dhanantum al-lay yangqalibar-rasûlu wal-mu’minûna ilâ ahlîhim abadâ, yang berarti, “Bahkan, kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sama sekali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya.” (Al-Fath: 12). Mereka menyangka bahwa Rasulullah dan kaum mukminin akan binasa dan tidak akan kembali dari perjalanan tersebut.

Melalui ayat-ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa ujian kesetiaan merupakan bagian dari perjalanan iman. Tidak semua orang mampu bertahan dalam ujian tersebut. Ada yang tetap setia dan ada pula yang mencari alasan untuk menghindar. Karena itu seorang mukmin dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan tidak berprasangka buruk terhadap janji-Nya.

Sebagai penutup kajian, beliau mengingatkan pentingnya kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran dan kesabaran dalam menghadapi ujian perjuangan. Orang-orang yang tetap istiqamah dalam membela kebenaran merupakan kelompok yang sedikit jumlahnya, tetapi memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan risalah Ilahi dari masa ke masa.