Skip to main content

Kajian Tafsir Surah Al-Fath yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026 kembali dilanjutkan bersama Syaikh Mohammad Sharifani dengan pembahasan seputar peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dan sikap kaum mukhallafun, yaitu orang-orang yang tidak mengikuti perintah Rasulullah saw. Kajian ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yang mengulas sikap sebagian kelompok yang menolak bergabung bersama Rasulullah saw dalam perjalanan menuju Makkah.

Dalam pembukaan kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kelompok mukhallafun adalah kelompok yang kerap berseberangan dengan perintah Rasulullah saw. Mereka tidak mengikuti perintah beliau dan mengemukakan berbagai alasan untuk membenarkan sikap mereka. Di antara alasan yang mereka kemukakan adalah kesibukan keluarga dan berbagai urusan duniawi. Namun, menurut penjelasan Al-Qur’an, alasan-alasan tersebut hanyalah dalih yang menutupi sebab yang sebenarnya, yaitu kelemahan iman dan prasangka buruk kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Sikap kaum mukhallafun ini dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai sikap orang-orang yang suka mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Mereka tidak jujur terhadap apa yang mereka ucapkan dan tidak sungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, akar dari sikap tersebut adalah kelemahan iman dan sikap suuzan kepada Allah swt, yaitu berprasangka buruk terhadap janji dan pertolongan Allah kepada kaum mukminin.

Beliau menjelaskan bahwa kebiasaan mencari-cari alasan untuk menolak kebenaran merupakan sifat yang telah ada sejak dahulu dan disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satunya adalah alasan mengikuti tradisi nenek moyang sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt:

innâ wajadnâ âbâ’anâ ‘alâ ummatin wa innâ ‘alâ âtsârihim muqtadûn
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami sekadar mengikuti jejak mereka.”
(QS. Az-Zukhruf: 22)

Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang yang menolak kebenaran dengan alasan mengikuti tradisi para pendahulu mereka. Menurut penjelasan Syaikh Mohammad Sharifani, sikap seperti ini menunjukkan ketundukan kepada otoritas manusia, bukan kepada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Alasan lain yang sering digunakan oleh orang-orang yang menolak kebenaran adalah menyandarkan kesalahan mereka kepada takdir Allah swt. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

lau syâ’allâhu mâ asyraknâ
“Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 148)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat ini menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan takdir sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan mereka. Padahal, sikap tersebut merupakan bentuk penghindaran dari tanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan.

Selain itu, Al-Qur’an juga menyebutkan alasan lain yang digunakan untuk menghindari kewajiban, yaitu alasan keamanan rumah. Sebagian orang beralasan bahwa mereka tidak dapat mengikuti perintah Rasulullah saw karena rumah mereka tidak aman dan tidak memiliki penjaga. Hal ini disebutkan dalam firman Allah swt:

yaqûlûna inna buyûtanâ ‘aurah wa mâ hiya bi‘aurah in yurîdûna illâ firârâ
“Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka. Mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.
(QS. Al-Ahzab: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa alasan tersebut hanyalah dalih untuk menghindari tanggung jawab. Menurut penjelasan Syaikh Mohammad Sharifani, pada hakikatnya mereka hanya ingin melarikan diri dari kewajiban yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.

Alasan lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah ketakutan terhadap godaan dunia. Sebagian orang meminta izin untuk tidak ikut berjihad dengan alasan takut terjerumus ke dalam fitnah. Hal ini disebutkan dalam firman Allah swt:

wa min-hum may yaqûlu’dzan lî wa lâ taftinnî alâ fil-fitnati saqathû wa inna jahannama lamuḥîthatum bil-kâfirîn
“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin dan janganlah engkau menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Sesungguhnya neraka Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir.”
(QS. At-Taubah: 49)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, alasan-alasan seperti ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya telah jatuh ke dalam fitnah, yaitu ketidaktaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam penjelasannya, beliau juga mengaitkan sikap kaum mukhallafun dengan kisah Iblis yang menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Iblis mengemukakan alasan kesombongan dengan mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Hal ini disebutkan dalam firman Allah swt:

qâla ana khairum min-hu khalaqtanî min nârin wa khalaqtahû min thîn
“Ia (Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”
(QS. Al-A‘raf: 12)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah ini menunjukkan bahwa membuat alasan untuk menolak perintah Allah merupakan sifat setan yang kemudian diikuti oleh manusia yang menolak kebenaran.

Beliau menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia kepada Allah tidak akan mengurangi kemuliaan Allah swt sedikit pun. Allah adalah pemilik langit dan bumi dan tidak membutuhkan ibadah manusia. Ibadah yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, penolakan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya hanya akan merugikan pelakunya sendiri.

Di bagian akhir kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh. Namun, tobat tersebut harus dilakukan dengan kejujuran dan kesungguhan, bukan sekadar ucapan di lisan. Allah swt Maha Pengampun dan Maha Penyayang, serta Maha Penerima tobat bagi hamba-hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan tulus.