Kajian Hikmah Ramadhan yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada hari Rabu, 25 Februari 2026, menghadirkan Sayyid Jalal Faqih Imani yang menyampaikan pembahasan mengenai hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang harus ditinggalkan dalam kehidupan seorang mukmin, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Pada awal ceramahnya, Sayyid Jalal Faqih Imani menyampaikan puji dan syukur kepada Allah swt serta shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, kemudian beliau mengucapkan selamat atas datangnya bulan Ramadhan dan mendoakan agar seluruh amal ibadah kaum mukminin pada bulan tersebut diterima oleh Allah swt.
Dalam penjelasannya, Sayyid Jalal Faqih Imani menyampaikan bahwa setiap perkara dalam kehidupan manusia selalu memiliki hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang harus ditinggalkan. Menurut beliau, setiap perbuatan memiliki aturan tersendiri, dan apabila aturan tersebut tidak diikuti maka tujuan dari perbuatan tersebut tidak akan tercapai dengan baik. Beliau mencontohkan seorang tukang kayu yang ingin membuat kursi. Tukang kayu tersebut harus menyiapkan bahan yang baik seperti kayu yang kuat dan mur yang sesuai, serta harus menghindari kesalahan dalam proses pembuatannya. Apabila ia tidak mengikuti aturan tersebut, maka kursi yang dihasilkan tidak akan menjadi kursi yang baik. Dari contoh tersebut, beliau menjelaskan bahwa setiap tujuan memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus ditinggalkan.
Sayyid Jalal Faqih Imani kemudian menjelaskan bahwa tingkat kepentingan dari apa yang harus dilakukan dan ditinggalkan sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Semakin tinggi dan penting suatu tujuan, maka semakin besar pula perhatian yang harus diberikan dalam mempersiapkan hal-hal yang diperlukan serta dalam meninggalkan hal-hal yang merusaknya. Apabila tujuan seorang tukang kayu hanyalah membuat kursi, maka kesalahan dalam persiapan hanya akan menghasilkan kursi yang kurang baik. Namun apabila tujuan manusia adalah mencapai kedekatan kepada Allah swt dan berjalan di jalan-Nya, maka persiapan yang diperlukan menjadi jauh lebih penting, yaitu dengan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.
Menurut Sayyid Jalal Faqih Imani, kewajiban menjalankan perintah dan meninggalkan larangan dalam agama memiliki kedudukan yang sangat penting karena dua alasan utama. Pertama, kehidupan dunia tidak dapat diulang kembali. Beliau menjelaskan bahwa dunia merupakan tempat bercocok tanam bagi kehidupan akhirat, sehingga segala amal yang ingin dipetik hasilnya di akhirat harus dilakukan di dunia. Setelah kehidupan dunia berakhir, manusia tidak akan diberi kesempatan untuk kembali dan mengulang amalnya. Beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ketika orang-orang berdosa melihat akibat dari perbuatan mereka di akhirat, mereka meminta kepada Allah swt agar dikembalikan ke dunia, namun permintaan tersebut ditolak dan mereka tidak akan diberi kesempatan kedua.
Alasan kedua adalah besarnya kerugian yang akan dialami manusia apabila tidak menjalankan perintah Allah swt dan tidak meninggalkan larangan-Nya. Beliau membandingkan kembali dengan contoh tukang kayu yang hanya mengalami kerugian berupa kursi yang kurang baik apabila tidak mengikuti aturan. Namun apabila manusia melanggar aturan Allah swt, kerugian yang akan dialami adalah azab neraka, dan menurut beliau tidak ada kerugian yang lebih besar daripada itu.
Dalam penjelasannya, Sayyid Jalal Faqih Imani menegaskan bahwa menjalankan perintah Allah swt dan meninggalkan larangan-Nya dalam agama disebut sebagai takwa. Menurut beliau, takwa adalah jalan yang akan mengantarkan manusia kepada kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah swt. Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian orang beranggapan bahwa takwa merupakan sesuatu yang membatasi kehidupan manusia dan menghalangi manusia untuk menikmati hidup. Namun menurut beliau, anggapan tersebut keliru karena takwa justru merupakan jalan terbaik untuk mencapai tujuan hidup manusia.
Sayyid Jalal Faqih Imani mengutip perkataan Imam Ali as yang menyatakan bahwa tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada takwa. Beliau menjelaskan bahwa anggapan yang menyatakan takwa sebagai sesuatu yang membatasi manusia sama seperti anggapan yang mengatakan bahwa aturan seorang tukang kayu dalam memilih bahan yang baik adalah aturan yang menyulitkan. Padahal aturan tersebut justru memudahkan tukang kayu untuk mencapai tujuannya. Demikian pula takwa, menurut beliau, bukanlah aturan yang merugikan manusia, melainkan jalan yang memudahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya, yaitu menuju Allah swt.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Innallāha yuḥibbul-muttaqīn
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 76)
Melalui ayat tersebut, Sayyid Jalal Faqih Imani menjelaskan bahwa dengan takwa seorang hamba dapat meraih kecintaan Allah swt. Beliau kemudian menjelaskan batasan takwa sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Imam Ali as, yaitu bahwa takwa adalah keadaan di mana seseorang tidak merasa malu apabila seluruh amal perbuatannya diperlihatkan kepada orang lain. Menurut beliau, orang yang bertakwa adalah orang yang selalu menjaga perbuatannya sehingga ia tidak merasa malu apabila amalnya diketahui oleh orang lain.
Untuk menjelaskan makna takwa lebih lanjut, Sayyid Jalal Faqih Imani menyampaikan sebuah kisah tentang seseorang yang bertanya kepada seorang alim mengenai batasan takwa. Alim tersebut kemudian bertanya apakah orang itu pernah berjalan di jalan yang penuh duri. Ketika orang itu menjawab bahwa ia pernah melewati jalan seperti itu, alim tersebut bertanya apa yang ia lakukan ketika berjalan di jalan tersebut. Orang itu menjawab bahwa ia berhati-hati agar tidak terkena duri, baik duri kecil maupun duri besar. Menurut Sayyid Jalal Faqih Imani, kisah tersebut menggambarkan makna takwa, yaitu berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar.
Beliau menegaskan bahwa takwa bukan hanya meninggalkan dosa-dosa besar, tetapi juga meninggalkan dosa-dosa kecil. Sayyid Jalal Faqih Imani menyampaikan riwayat dari Imam Ridha as yang menjelaskan bahwa dosa kecil dapat menjadi jalan menuju dosa besar. Menurut beliau, seseorang yang tidak takut melakukan dosa kecil pada akhirnya juga tidak akan takut melakukan dosa besar. Karena itu, beliau menekankan pentingnya menjaga diri dari seluruh bentuk dosa sebagai bagian dari takwa, karena melalui takwa manusia dapat berjalan di jalan Allah swt dan mencapai tujuan penciptaannya.



