Dalam Majelis Tahlil untuk syahadah Ayatullah Ali Khamenei yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidato yang menekankan makna kesyahidan serta pentingnya keberpihakan umat Islam dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung.
Mengawali pidatonya, Mohammad Boroujerdi membacakan firman Allah swt dari Surah Al-Ahzab yang menjelaskan tentang orang-orang beriman yang menepati janji mereka kepada Allah swt. Sebagian dari mereka telah gugur sebagai syuhada, sementara sebagian lainnya masih menunggu, namun tetap teguh dalam komitmen mereka tanpa mengubah janji sedikit pun.
Min al-mu’minīna rijālun ṣadaqū mā ‘āhadullāha ‘alaihi fa minhum man qaḍā naḥbahu wa minhum man yantaẓir, wa mā baddalū tabdīlā
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.
(QS. Al-Ahzab [33]: 23)
Ia kemudian mengaitkan ayat tersebut dengan kehidupan Ayatullah Ali Khamenei yang menurutnya telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam dan kaum muslimin. Karena itu, menurutnya, tidak ada balasan yang lebih layak bagi seorang pejuang seperti beliau selain kesyahidan. Ia juga menyinggung pernyataan yang sebelumnya disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani bahwa seorang yang telah mempersembahkan seluruh hidupnya di jalan Islam pantas memperoleh derajat syahid.
Mohammad Boroujerdi kemudian menukil sebuah riwayat tentang seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad saw dan berdoa agar diberikan sesuatu yang paling layak baginya. Nabi saw kemudian bersabda bahwa jika doa orang tersebut dikabulkan, maka ia akan wafat dalam keadaan syahid. Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda bahwa setiap kebaikan memiliki tingkatan yang lebih tinggi, kecuali kesyahidan, karena tidak ada lagi kebaikan yang melebihi derajat syahid.
Ia menegaskan bahwa kehidupan Ayatullah Ali Khamenei yang dipersembahkan sepenuhnya untuk Islam menjadikan beliau layak memperoleh kesyahidan. Ia juga menyebut bahwa generasi yang bersama Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei merupakan generasi yang banyak meraih kesyahidan dalam perjuangan mereka. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memanjatkan doa agar diberikan kesyahidan sebagaimana yang telah dianugerahkan kepada para syuhada.
Dalam bagian selanjutnya, Mohammad Boroujerdi menekankan bahwa bentuk perjuangan pada masa kini telah berubah dibandingkan dengan masa lalu. Menurutnya, peperangan modern tidak lagi selalu mengharuskan orang untuk turun langsung ke medan perang dengan senjata di tangan, karena teknologi telah mengubah bentuk peperangan menjadi perang jarak jauh. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa tugas utama kaum muslimin saat ini adalah memperjelas posisi dan keberpihakan mereka.
Ia menyatakan bahwa sepanjang sejarah selalu ada dua pihak yang saling berhadapan, yaitu pihak kebenaran dan pihak kebatilan. Karena itu, menurutnya, umat Islam perlu menegaskan keberpihakan mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung. Ia mempertanyakan apakah masih ada pihak yang ragu untuk menentukan posisi di antara pihak-pihak yang berhadapan dalam konflik tersebut.
Mohammad Boroujerdi menyatakan bahwa Iran merupakan salah satu kekuatan utama yang berdiri melawan zionisme Israel. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap darah yang tertumpah, mulai dari syahid Qasem Soleimani hingga Ayatullah Ali Khamenei serta anak-anak sekolah yang menjadi korban serangan. Menurutnya, Iran akan memberikan balasan atas serangan tersebut, dan umat Islam memiliki kewajiban untuk mendukung perjuangan tersebut dengan memperjelas sikap dan keberpihakan mereka.
Selain memperjelas posisi, ia juga mengajak kaum muslimin untuk mendoakan kemenangan Republik Islam Iran dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel. Ia menekankan pentingnya mengajak masyarakat luas untuk turut berdoa agar kemenangan diberikan kepada pihak yang berada di jalan kebenaran.
Dalam pidatonya, Mohammad Boroujerdi juga menyinggung pentingnya menghadapi propaganda media yang menurutnya sering memutarbalikkan fakta. Ia menyatakan bahwa musuh kerap menyebarkan informasi yang menggambarkan pihak yang bersalah sebagai korban dan sebaliknya. Karena itu, menurutnya, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk meluruskan informasi melalui media yang mereka miliki, termasuk media sosial.
Ia menegaskan bahwa Iran adalah negara yang kuat dan tidak mudah dilemahkan. Menurutnya, berbagai upaya propaganda tidak akan berhasil jika masyarakat terus berupaya menyampaikan kebenaran dan meluruskan informasi yang keliru. Ia juga menekankan bahwa perjuangan tersebut banyak dilakukan secara sukarela oleh para pendukung yang merasa terpanggil untuk membela kebenaran.
Di akhir pidatonya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan terima kasih kepada pimpinan ICC Jakarta dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan acara tersebut, serta kepada para hadirin yang hadir sebagai bentuk solidaritas. Ia menyatakan keyakinannya bahwa kemenangan pada akhirnya akan berada di pihak kebenaran, sebagaimana dijanjikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an. Ia menutup pidatonya dengan seruan dukungan terhadap perjuangan melawan Amerika Serikat dan Israel serta keyakinan akan datangnya kemenangan bagi pihak yang berada di jalan kebenaran.



