Majelis Doa Mujir dan Tahlil untuk Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026, diisi dengan ceramah oleh Ustaz Husain Shahab yang membahas tentang makna kesyahidan, kedudukan wali Allah, serta keteguhan para pemimpin agama dalam menghadapi ujian. Dalam ceramahnya, beliau menguraikan kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai bagian dari sunnatullah yang berlaku bagi para pejuang di jalan Allah, sekaligus menekankan pentingnya keteguhan umat dalam melanjutkan perjuangan para ulama dan syuhada.
Beliau menceritakan bahwa kebanyakan orang sulit memercayai kabar itu karena beberapa hari sebelumnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei masih tampak aktif—ceramah, pertemuan, dan tayangan di media sosial—hingga ketika berita musibah pada pagi 28 Februari sekitar pukul 09.30 waktu Iran tersebar, banyak yang tercengang; kabar kesyahidan baru tersebar luas keesokan harinya. Menyambung kenangan sejarah, beliau mengingatkan umat bahwa kejadian serupa pernah mengejutkan manusia ketika wafatnya Rasulullah saw. dan ketika syahidnya Imam Ali as. di Kufah, sehingga reaksi tak percaya merupakan hal yang manusiawi. Untuk meneguhkan sikap umat, beliau menghadirkan firman Allah swt.:
a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a‘qâbikum
“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali Imran [3]: 144)
Beliau menegaskan bahwa ketentuan ajal tidak dapat ditunda maupun dimajukan, sebagaimana Allah swt. berfirman:
fa idzâ jâ’a ajaluhum lâ yasta’khirûna sâ‘ataw wa lâ yastaqdimûn
“Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. Al-A‘raf [7]: 34)
Menurut beliau, kesyahidan yang menghampiri Ayatullah Sayyid Ali Khamenei adalah sesuatu yang telah lama menjadi harapan beliau; di berbagai kesempatan, termasuk dalam syair dan doa-doanya, beliau mengungkapkan kerinduan untuk berada bersama para syuhada di saf terdepan. Ustaz Husain Shahab menuturkan sebuah versi syair yang menggambarkan rasa sesak hati sang pemimpin ketika melihat banyak pemuda gugur di jalan Allah sementara beliau merasa “tertinggal di saf paling belakang”; perasaan itulah yang, menurut beliau, membuat keinginan kesyahidan menjadi doa yang tulus.
Beliau menggambarkan bahwa kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terjadi di tangan penguasa yang amat zalim menurut penilaian sang penceramah—sebuah realitas yang, dalam narasi ceramah, menempatkan peristiwa itu sejajar dengan syahidnya Imam Husain as. yang juga dibunuh oleh penguasa paling zalim di zamannya. Ustaz Husain Shahab menegaskan pandangannya itu sambil mengutip sifat para wali Allah:
alâ inna auliyâ’allâhi lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka pun tidak bersedih.” (QS. Yunus [10]: 62)
Dalam uraian berikut, beliau memaparkan kedudukan ilmiah dan spiritual Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menegaskan bahwa almarhum adalah seorang alim besar yang mencapai status marja‘—tempat rujukan bagi sebagian kaum Syiah—dan sekaligus seorang arif dengan ciri irfan amali, bukan sekadar irfan teoretis. Ustaz Husain Shahab menjelaskan perbedaan singkatnya: jika irfan teoretis bersifat pengetahuan atau wawasan tentang ketuhanan, maka irfan amali menampakkan pengamalan nyata dalam kehidupan. Beliau menggunakan istilah tajalli untuk menggambarkan bagaimana sifat-sifat Allah itu “memancar” atau tercermin dalam perilaku praktis seseorang. Menurut beliau, pada almarhum terpancar tajalli tersebut sehingga sifat-sifat Rasulullah saw. dan para imam as. tampak dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar menjadi teori di atas kertas.
Beliau juga membedah posisi wali fakih (wali faqih), menegaskan bahwa wilayatul faqih pada konteks Republik Islam Iran menempati tingkatan otoritatif yang sangat penting—sebuah kedudukan yang dalam penjelasan beliau memiliki peran kepemimpinan politik-keagamaan yang bersifat wakil umum dari Imam Mahdi as. Ustaz Husain Shahab menjelaskan bahwa dalam praktiknya wali fakih sering menjadi rujukan bahkan bagi para maraji‘ dalam soal-soal politik dan urusan umat yang berskala umum.
Untuk menguatkan gambaran kedudukan almarhum, beliau mengutip perkataan seorang ulama besar, Syekh Muhammad Taqi Misbah Yazdi, yang menurut beliau pernah menyatakan bahwa bertemu dengan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei adalah nikmat besar dan ia menasihatkan murid-muridnya untuk mengamati kedudukan beliau—kisah yang dipaparkan untuk menggambarkan penghormatan luar biasa dari kalangan ulama tinggi terhadap almarhum. Ustaz Husain Shahab menyampaikan kisah itu sebagai bukti bahwa bukan hanya massa biasa, tetapi para ulama agung juga mengakui ketinggian derajat almarhum.
Sepanjang ceramah, beliau berkali-kali menekankan ketenangan, keteguhan, dan keberanian Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam menghadapi tekanan dan ancaman; beliau mengulang bahwa raut wajah almarhum nyaris tak pernah terlihat gentar, dan itu menurut beliau adalah manifestasi dari makam (maqam) wilayah dan keimanan yang mendalam. Ustaz Husain Shahab lalu mengaitkan hal itu dengan tradisi Ahlulbait yang memandang kesyahidan sebagai kemuliaan—kemudian beliau menegaskan bahwa kesyahidan almarhum adalah pengabulan doa panjang beliau sendiri.
Di bagian penutup, beliau menyerukan agar jamaah menjadikan peristiwa ini sebagai momen pembaruan ikrar: bukan sekadar ratapan, melainkan penguatan komitmen untuk meneruskan perjuangan yang telah ditunjukkan almarhum. Beliau menyampaikan harapan bahwa janji almarhum terkait pembebasan Masjidil Aqsa akan tetap menjadi cita-cita yang diperjuangkan dan mendoakan agar umat yang setia menyaksikan kemajuan itu. Ustaz Husain Shahab menutup dengan permohonan doa agar Allah swt. menerima seluruh amal almarhum, menempatkannya bersama para syuhada dan orang-orang saleh, serta agar jamaah diberi kemampuan untuk melanjutkan jalannya dengan istiqamah.



