Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan salat Jumat pada Jumat, 19 Juni 2026, dengan khutbah disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam khutbah pertamanya, beliau mengawali penjelasan dengan mengingatkan makna takwa sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Imam Sadiq as, yakni bahwa seorang hamba jangan sampai berada di tempat yang dilarang Allah swt dan jangan sampai ditinggalkan dalam keadaan melanggar perintah-Nya. Menurut beliau, orang yang melaksanakan seluruh perintah Allah swt dan meninggalkan seluruh larangan-Nya adalah orang yang bertakwa. Dari pengantar itu, Syaikh Mohammad Sharifani kemudian melanjutkan pembahasan tentang dosa dan pengaruh dosa dalam mendatangkan bala, menghilangkan nikmat, atau mengubah nikmat yang telah ada pada manusia.

Beliau menjelaskan bahwa pada kesempatan itu dirinya ingin menguraikan beberapa dosa yang dapat mengakibatkan kefakiran bagi manusia. Dosa pertama, menurut beliau, adalah su’ut tadbīr, yakni keliru dalam mengelola atau memanajemen sesuatu. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis Rasulullah saw yang menyatakan bahwa beliau tidak paling mengkhawatirkan kefakiran atas umat, melainkan kekhawatiran bahwa umat tidak mampu mengendalikan dan mengurusi sesuatu dengan baik, karena hal itu akan berujung pada kefakiran. Untuk menegaskan hal tersebut, beliau mengisahkan seorang yang datang kepada Rasulullah saw dan meminta wasiat. Rasulullah saw bertanya tiga kali apakah orang itu benar-benar akan mendengarkan dan melaksanakan nasihat yang diberikan, dan setelah mendapat jawaban yang sama sebanyak tiga kali, beliau bersabda bahwa apabila seseorang hendak melakukan suatu urusan, maka ia harus memikirkannya dengan baik; jika ternyata mendatangkan kebaikan, barulah dikerjakan, tetapi jika tidak baik, maka jangan dikerjakan. Bila masih ragu, maka harus berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Syaikh Mohammad Sharifani lalu mengaitkannya dengan doa Arafah Imam Husain as yang memohon agar Allah swt mencukupkan beliau dengan tadbir dan pengendalian-Nya, bukan dengan pengelolaan dirinya sendiri, sebab menurut beliau manusia sering kali justru mengelola urusannya dengan cara yang tidak baik, sedangkan jika Allah swt yang mengurus maka semuanya akan menjadi yang terbaik.

Beliau kemudian menyebut faktor kedua yang dapat mendatangkan kefakiran, yaitu kelemahan tekad dan kurangnya kehendak untuk berusaha. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa manusia hanya akan memperoleh apa yang ia kerjakan dan ia upayakan. Ayat itu, menurut beliau, menegaskan bahwa seseorang yang tidak bekerja dan tidak berupaya tidak boleh menunggu hasil. Dalam sebuah riwayat, seorang lelaki datang kepada Imam Sadiq as dan mengeluhkan kelemahannya dalam mencari rezeki. Imam Sadiq as lalu bertanya apakah ia lebih lemah daripada seekor semut yang pada musim dingin keluar untuk mengumpulkan makanan bagi kebutuhan musim berikutnya. Dalam riwayat lain, seorang lelaki mengaku tangannya tidak bisa digerakkan dengan baik, dan Imam menjawab bahwa jika tangan tidak bisa digunakan, maka ia harus membawa beban di atas kepala dan tetap berusaha bekerja. Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan doa-doa Nabi saw yang memohon perlindungan kepada Allah swt dari sifat malas dan menunda-nunda pekerjaan. Menurut beliau, kemalasan menyebabkan seseorang tidak berbuat, dan ketika tidak berbuat, ia tidak akan memperoleh hasil, yang akhirnya membawa kepada kefakiran.

Faktor ketiga yang beliau soroti adalah kebodohan, yakni tidak memiliki ilmu dan wawasan yang diperlukan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, setiap urusan harus dikerjakan dengan pengetahuan yang memadai, sebab jika tidak, yang didapat hanyalah rasa lelah dan hilangnya energi tanpa hasil yang baik. Beliau menegaskan bahwa dengan ilmu orang dapat berkembang, sedangkan dengan kebodohan seseorang tidak akan pernah maju. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwa orang yang berbuat tanpa ilmu akan mendapatkan keburukan yang lebih besar daripada kebaikan, karena perbuatannya dilakukan tanpa pengetahuan. Beliau juga mengutip pesan agar berpikir sebelum melakukan sesuatu. Sebagai contoh, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung kisah Nabi Ibrahim as yang mengajak pamannya mengikuti dirinya karena Nabi Ibrahim as memiliki ilmu yang tidak dimiliki pamannya. Bagi beliau, pelajaran yang dapat diambil dari kisah itu adalah bahwa jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, maka ia harus mengikuti orang-orang yang berilmu dan berwawasan.

Faktor keempat yang dapat mendatangkan kefakiran adalah israf, yaitu membuang-buang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan dan menggunakan sesuatu secara berlebihan tanpa kebutuhan. Syaikh Mohammad Sharifani menyayangkan kenyataan bahwa israf dapat ditemukan di berbagai masyarakat di dunia. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an menjelaskan banyak dosa besar seperti zina, riba, dan pembunuhan, tetapi Al-Qur’an juga memberikan peringatan khusus terhadap orang-orang yang melakukan israf. Menurut beliau, dalam Al-Qur’an orang yang melakukan israf digambarkan sebagai saudara-saudara setan. Beliau menjelaskan bahwa pemborosan terhadap nikmat Allah swt merupakan perilaku yang sangat merusak dan dapat membawa manusia kepada kefakiran.

Faktor kelima adalah tidak berinfak dengan harta yang dimiliki. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa justru dengan berinfak, harta seseorang akan bertambah dan memperoleh berkah. Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an lebih dari tiga puluh kali menyebut perintah salat atau sifat orang yang menegakkan salat, lalu langsung menyebut perintah zakat. Hal itu menunjukkan bahwa Allah swt tidak hanya memerintahkan ibadah individual, tetapi juga ibadah sosial. Ketika Allah swt memberi harta, manusia diperintahkan untuk mensyukurinya sekaligus membagikan sebagian kepada orang-orang yang membutuhkan. Menurut beliau, di tengah masyarakat selalu ada orang kaya dan orang miskin, bahkan di antara para nabi pun ada yang kaya seperti Nabi Sulaiman as dan ada yang hidup dalam kesulitan seperti Nabi Ayyub as. Karena itu, orang-orang yang memiliki kelebihan harta harus mengayomi dan membantu mereka yang fakir, agar masyarakat menjadi masyarakat yang baik. Beliau menutup khutbah pertama dengan menegaskan bahwa lima hal tersebut, jika diperhatikan, akan mendatangkan rezeki, sedangkan mengabaikannya akan mendatangkan kefakiran, baik pada tingkat individu maupun sosial.

Dalam khutbah kedua, setelah memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah swt serta berselawat kepada Rasulullah saw, keluarga suci beliau, dan para imam maksum as, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mewasiatkan takwa kepada dirinya sendiri dan kepada seluruh mukminin dan mukminat. Beliau mengutip perkataan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bahwa orang yang mampu mengendalikan syahwatnya adalah orang yang bertakwa. Syaikh Mohammad Sharifani lalu memohon agar Allah swt menggolongkan semua yang hadir ke dalam kelompok orang-orang bertakwa.

Beliau kemudian beralih pada pesan-pesan yang berhubungan dengan hari-hari bulan Muharram. Syaikh Mohammad Sharifani mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para rekan di Islamic Kultur Center yang telah menyelenggarakan berbagai acara duka Abu Abdillah al-Husain as, termasuk kepada para pihak dari luar ICC yang ikut membantu terselenggaranya acara-acara tersebut. Beliau juga mengapresiasi para hadirin yang dengan kehadiran mereka membuat majelis menjadi semarak dan penuh nuansa spiritual. Menurut beliau, hadir di majelis-majelis Imam Husain as akan memberi cahaya pada hati, mengubah jiwa, dan memperbaiki perilaku manusia menjadi lebih baik.

Untuk menegaskan hal itu, beliau mengisahkan riwayat Imam Shadiq as ketika berbicara dengan Fudhail tentang majelis-majelis yang membicarakan Ahlul Bait as. Imam Shadiq as, menurut beliau, menjelaskan bahwa majelis-majelis seperti itu akan mendapatkan pahala besar dari Allah swt, dan bila ada setetes air mata yang jatuh dalam majelis semacam itu, Allah swt akan mengampuni dosa-dosa orang tersebut. Dengan demikian, hadir di majelis duka Imam Husain as, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, dapat menggugurkan dosa-dosa seorang hamba. Beliau juga menegaskan bahwa majelis-majelis Imam Husain as mendapat perhatian khusus dari Sahibul Asr az-Zaman ajjalallahu ta‘ala farajahusyarif dan dari Sayidah Fatimah az-Zahra as, sehingga majelis semacam itu harus dijaga dan dihormati.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengisahkan sejumlah teladan para ulama besar yang menunjukkan adab luar biasa terhadap majelis Imam Husain as. Beliau menyebut Ayatullah al-‘Uzma Sayid Buruji yang, walaupun merupakan tokoh besar di dunia Syiah, tetap duduk bersama masyarakat biasa dalam majelis Imam Husain as dan bahkan mengambil tanah dari bekas pijakan kaki mereka untuk ditabarruk. Beliau juga menyinggung Syaikh Muhammad Bahjat yang pernah menjadi pelayan di Haramain dan menyimpan sepatu para peziarah, lalu mengambil debu dari sepatu itu untuk diusapkan ke wajah sebagai bentuk tabarruk. Bagi beliau, keagungan Ahlul Bait as menjadikan para ulama besar itu tidak merasa diri mereka besar.

Beliau juga mengisahkan Alamah Muhammad Taqi Ja’fari yang, meskipun merupakan filosof, mufassir, dan pensyarah Nahjul Balaghah terkemuka, tetap bersedia datang ke majelis duka yang sederhana dan tampak kecil secara lahiriah, karena itu adalah majelis Imam Husain as. Menurut beliau, sesuatu yang dinisbatkan kepada Imam Husain as tetap agung meski secara fisik tampak sederhana. Sebagai peringatan lain, beliau menyampaikan kisah seorang ulama yang pernah merasa enggan minum teh dari gelas yang kotor di majelis Ahlul Bait as. Pada malam harinya, beliau bermimpi didatangi Sayidah Fatimah az-Zahra as yang menegurnya karena membuang teh yang disuguhkan di majelis Husain. Dari kisah itu, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa majelis Imam Husain as harus dihormati, dan kekurangan-kekurangan kecil dalam jamuan tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan majelis tersebut atau memviralkannya di media sosial demi merusak citra pengikut Ahlul Bait as.

Di akhir khutbah, beliau kembali menegaskan pentingnya menjaga adab terhadap majelis Imam Husain as, termasuk dalam penyelenggaraan acara-acara Muharram di ICC Jakarta. Beliau mengapresiasi panitia acara Sayid Ali al-Asghar yang akan digelar setelah salat Jumat serta majelis untuk Ali al-Akbar yang akan dilaksanakan keesokan harinya, dan juga mengucapkan terima kasih kepada para saudari yang membantu mengawasi anak-anak dan memberikan pelajaran kepada mereka. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, semua yang hadir, bekerja, dan berkhidmat dalam majelis-majelis tersebut adalah orang-orang yang bermimpi untuk menjadi daulat pada dirinya masing-masing, bertanggung jawab terhadap lingkungannya, dan memperoleh semangat untuk melawan kezaliman di luar diri serta hawa nafsu di dalam diri.