Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhui ICC kembali digelar pada Kamis, 18 Desember 2025, dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah. Dalam kajian yang berlangsung pada malam itu, Syaikh Mohammad Sharifani membahas tema tentang hukuman dan pembalasan yang setimpal atas perbuatan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan riwayat, dengan penekanan bahwa setiap amal memiliki konsekuensi yang pasti di sisi Allah swt.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Al-Qur’an menegaskan pembalasan terhadap orang-orang yang berbuat jahat sebagai janji ilahi yang tidak akan pernah meleset. Allah swt memerintahkan Rasulullah saw untuk memperingatkan manusia tentang hari datangnya azab, saat orang-orang zalim memohon agar azab ditangguhkan walau hanya sebentar agar mereka dapat kembali ke dunia dan menaati perintah Allah serta mengikuti para rasul. Permohonan itu ditegaskan tidak akan dikabulkan karena sebelumnya mereka telah bersumpah bahwa kehidupan dunia tidak akan berakhir. Ayat tersebut dibacakan sebagaimana berikut:

Wa andzirin-nâsa yauma ya’tîhimul-‘adzâbu fa yaqûlulladzîna dhalamû rabbanâ akhkhirnâ ilâ ajaling qarîbin nujib da‘wataka wa nattabi‘ir-rusul, a wa lam takûnû aqsamtum ming qablu mâ lakum min zawâl
“Berikanlah (Nabi Muhammad) peringatan kepada manusia tentang hari (ketika) azab datang kepada mereka. Maka, (ketika itu) orang-orang yang zalim berkata, ‘Ya Tuhan kami, tangguhkanlah (azab) kami (dan kembalikanlah kami ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.’ (Kepada mereka dikatakan), ‘Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan beralih (dari kehidupan dunia ke akhirat)?’” (QS. Ibrahim [14]: 44)

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkan hal ini dengan firman Allah swt dalam Surah Az-Zukhruf yang menunjukkan bahwa pembalasan terhadap kaum yang ingkar tetap berlaku, baik Rasulullah saw telah wafat maupun masih hidup, karena Allah swt sepenuhnya berkuasa atas mereka.

Fa immâ nadz-habanna bika fa innâ min-hum muntaqimûn
“Maka, sungguh jika Kami benar-benar mewafatkanmu (sebelum engkau mencapai kemenangan), sesungguhnya kepada mereka Kami akan (tetap) memberikan balasan.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 41)

Au nuriyannakalladzî wa‘adnâhum fa innâ ‘alaihim muqtadirûn
“Atau, benar-benar Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Sesungguhnya Kami Maha Berkuasa atas mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 42)

Menurut beliau, ayat-ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah swt yang menentukan waktu turunnya azab dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menghalanginya. Ancaman pembalasan juga ditujukan kepada kaum musyrik Makkah, sebagaimana firman Allah swt dalam Surah Az-Zumar.

A laisallâhu bikâfin ‘abdah, wa yukhawwifûnaka billadzîna min dûnih, wa may yudllilillâhu fa mâ lahû min hâd
“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan) selain Dia. Siapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada satu pun yang memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar [39]: 36)

Wa may yahdillâhu fa mâ lahû mim mudlill, a laisallâhu bi‘azîzin dzintiqâm
“Siapa yang Allah tunjuki, tidak satu pun yang menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa lagi Maha Memiliki (kekuasaan) untuk membalas?” (QS. Az-Zumar [39]: 37)

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa apabila Allah swt menghendaki seorang hamba mendapatkan petunjuk, maka tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalanginya. Sebaliknya, ketika kaum musyrik menolak petunjuk tersebut, Allah swt Maha Kuasa untuk membalas perbuatan mereka.

Beliau kemudian menjelaskan posisi pembalasan dalam riwayat dan hadis. Salah satunya adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Allah swt akan membalas kezaliman yang dialami kaum mukminin. Disebutkan bahwa Allah swt mewahyukan kepada sebagian utusan-Nya, “Wahai Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah. Jika engkau mengingat-Ku, engkau tidak akan hancur. Dengan mengingat-Ku engkau akan selamat, dan dengan rida terhadap keputusan-Ku, bagimu kebaikan. Ketahuilah bahwa pertolongan-Ku bagimu lebih baik daripada engkau menolong dirimu sendiri.” Dari riwayat lain, beliau menjelaskan betapa dekatnya hukuman Allah swt kepada orang-orang yang jahat dan bahwa perbuatan buruk tidak akan dibiarkan berlalu tanpa balasan. Dalam hadis berikutnya, dijelaskan bahwa siapa saja yang mampu menahan amarahnya karena Allah swt, maka pada hari kiamat Allah swt akan memenuhi hatinya dengan rida-Nya.

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan jenis-jenis pembalasan. Pembalasan Allah swt kepada kaum yang ingkar di dunia disebutkan dalam firman-Nya:

Fantaqamnâ min-hum, wa innahumâ labi’imâmim mubîn
“Maka, Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya kedua (negeri) itu terletak di satu jalur jalan raya.” (QS. Al-Hijr [15]: 79)

Adapun pembalasan Allah swt di akhirat ditegaskan melalui firman-Nya:

Yauma nabthisyul-bathsyatal-kubrâ, innâ muntaqimûn
“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang besar. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 16)

Selain pembalasan dari Allah swt, beliau juga menjelaskan adanya pembalasan antarmanusia. Salah satunya adalah pembelaan diri yang dibenarkan setelah mengalami kezaliman, sebagaimana firman Allah swt:

Wa lamanintashara ba‘da dhulmihî fa ulâ’ika mâ ‘alaihim min sabîl
“Akan tetapi, sungguh siapa yang membela diri setelah teraniaya, tidak ada satu alasan pun (untuk menyalahkan) mereka.” (QS. Asy-Syura [42]: 41)

Beliau mencontohkan pula hukuman zalim yang dilakukan oleh manusia, seperti yang dilakukan Fir‘aun kepada orang-orang yang beriman. Fir‘aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang dan menyalib mereka semua. Ancaman tersebut diabadikan dalam firman Allah swt:

La’uqaththi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilâfin tsumma la’ushallibannakum ajma‘în
“Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya), kemudian sungguh akan aku salib kamu semua.” (QS. Al-A‘raf [7]: 124)

Para penyihir yang beriman menjawab dengan keteguhan bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Qâlû innâ ilâ rabbinâ mungqalibûn
“Mereka (para penyihir) menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya akan kembali kepada Tuhan kami.’” (QS. Al-A‘raf [7]: 125)

Mereka menegaskan bahwa hukuman tersebut dijatuhkan hanya karena keimanan mereka kepada ayat-ayat Allah swt.

Wa mâ tangqimu minnâ illâ an âmannâ bi’âyâti rabbinâ lammâ jâ’atnâ, rabbanâ afrigh ‘alainâ shabraw wa tawaffanâ muslimîn
“Engkau (Fir‘aun) tidak menghukum kami, kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).’” (QS. Al-A‘raf [7]: 126)

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan adab yang benar dalam membalas suatu perbuatan. Yang pertama adalah membalas dengan adil, sebagaimana ketentuan Allah swt bahwa balasan atas keburukan adalah keburukan yang setimpal. Namun, beliau menekankan bahwa memaafkan dan berbuat baik memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah swt.

Wa jazâ’u sayyi’atin sayyi’atum mitsluhâ, fa man ‘afâ wa ashlaḫa fa ajruhû ‘alallâh, innahû lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura [42]: 40)

Beliau menegaskan bahwa ayat ini menjadi dasar utama adab membalas, yaitu keadilan yang disertai dengan anjuran untuk memaafkan sebagai jalan menuju pahala dan rida Allah swt.

Syaikh Mohammad Sharifani menekankan penyebab mengapa Allah swt menghukum manusia. Penyebab pertama adalah kekufuran terhadap petunjuk ilahi sebelum turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman bagi manusia. Allah swt menurunkan Al-Furqân sebagai pembeda antara hak dan batil, dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah akan mendapat azab yang sangat keras. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah swt:

Ming qablu hudal lin-nâsi wa anzalal-furqân, innalladzîna kafarû bi’âyâtillâhi lahum ‘adzâbun syadîd, wallâhu ‘azîzun dzuntiqâm
“Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, dan Kami menurunkan Al-Furqân (pembeda yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 4)

Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan bahwa mendustakan ayat-ayat ilahi dan mengabaikan perintah-Nya juga menjadi penyebab hukuman. Allah swt membalas kaum yang mendustakan ayat-Nya dengan berbagai cara, termasuk menenggelamkan mereka di laut karena kelalaian dan kekufuran mereka:

Fantaqamnâ min-hum fa aghraqnâhum fil-yammi bi’annahum kadzdzabû bi’âyâtinâ wa kânû ‘an-hâ ghâfilîn
“Maka, Kami membalas mereka (dengan siksa yang lebih berat). Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadapnya.” (QS. Al-A‘raf [7]: 136)

Beliau juga menekankan bahwa berpaling dari mengingat Allah swt merupakan bentuk kesalahan besar. Orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Allah namun memilih berpaling akan mendapat balasan dari Allah swt:

Wa man adhlamu mim man dzukkira bi’âyâti rabbihî tsumma a‘radla ‘an-hâ, innâ minal-mujrimîna muntaqimûn
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada para pendosa.” (QS. As-Sajdah [32]: 22)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan pula bahwa taqlid buta terhadap nenek moyang juga menjadi sebab hukuman. Allah swt menurunkan pemberi peringatan kepada suatu negeri, namun orang-orang mewah di negeri itu tetap mengikuti jejak nenek moyang mereka dan menolak kebenaran yang dibawa Rasul:

Wa kadzâlika mâ arsalnâ ming qablika fî qaryatim min nadzîrin illâ qâla mutrafûhâ innâ wajadnâ âbâ’anâ ‘alâ ummatiw wa innâ ‘alâ âtsârihim muqtadûn
“Demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Nabi Muhammad) ke suatu negeri. Orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf [43]: 23)

Pemberi peringatan menegaskan bahwa petunjuk yang dibawa lebih baik daripada ajaran nenek moyang mereka, namun mereka tetap mengingkari. Allah swt pun membinasakan mereka sebagai balasan atas kedurhakaan mereka:

Qâla a walau ji’tukum bi’ahdâ mimmâ wajattum ‘alaihi âbâ’akum, qâlû innâ bimâ ursiltum bihî kâfirûn
“Dia (pemberi peringatan) berkata, ‘Masihkah kamu (mengikuti jejak nenek moyangmu), sekalipun aku membawa (agama) yang lebih baik panduannya daripada apa yang kamu peroleh dari nenek moyangmu itu?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami tetap mengingkari kerasulanmu.’” (QS. Az-Zukhruf [43]: 24)

Fantaqamnâ min-hum fandhur kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn
“Lalu Kami membinasakan mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 25)

Selain itu, dosa dan penyimpangan juga menjadi sebab hukuman. Fir‘aun yang menyesatkan kaumnya mendapatkan balasan karena mereka tunduk kepadanya dan melakukan kezaliman. Allah swt menurunkan azab berupa tenggelamnya mereka di laut:

Fastakhaffa qaumahû fa athâ‘ûh, innahum kânû qauman fâsiqîn
“Maka, dia (Fir‘aun) telah memengaruhi kaumnya sehingga mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 54)

Fa lammâ âsafûnantaqamnâ min-hum fa aghraqnâhum ajma‘în
“Ketika mereka telah membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 55)

Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung pula hukuman bagi penyimpangan seksual, seperti kaum Nabi Luth as yang melakukan hubungan sesama jenis. Allah swt menyelamatkan pengikut Nabi Luth dan menghukum kaumnya:

Qâlû innâ ursilnâ ilâ qaumim mujrimîn
“Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (untuk menyiksanya).’” (QS. Al-Hijr [15]: 58)

Illâ âla lûth, innâ lamunajjûhum ajma‘în
“Kecuali para pengikut Luth. Sesungguhnya kami pasti menyelamatkan mereka semua.” (QS. Al-Hijr [15]: 59)

Beliau menekankan bahwa pembalasan Allah swt juga berlaku atas dosa-dosa yang dilakukan manusia secara umum. Rasul-Rasul diutus dengan bukti-bukti yang cukup, dan Allah swt membalas orang-orang durhaka serta menolong orang-orang mukmin:

Wa laqad arsalnâ ming qablika rusulan ilâ qaumihim fa jâ’ûhum bil-bayyinâti fantaqamnâ minalladzîna ajramû, wa kâna ḫaqqan ‘alainâ nashrul-mu’minîn
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang durhaka. Merupakan tanggung jawab Kami menolong orang-orang mukmin.” (QS. Ar-Rum [30]: 47)

Mengenai bentuk pembalasan, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt mampu menimpakan hukuman melalui suara yang menggelegar di dunia, seperti yang menimpa kaum Nabi Luth as, hancurnya bangunan yang terbuat dari batu, masa paceklik untuk mengingatkan nikmat Allah swt, hingga azab di akhirat berupa ikatan dan rantai bagi orang-orang berdosa. Sebagai contoh, firman Allah swt:

Fa akhadzat-humush-shaiḫatu musyriqîn
“Maka, mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari terbit.” (QS. Al-Hijr [15]: 73)

Fa ja‘alnâ ‘âliyahâ sâfilahâ wa amtharnâ ‘alaihim ḫijâratam min sijjîl
“Kala itu, Kami menjungkirbalikkan (negeri itu) dan menghujani mereka dengan batu yang membatu.” (QS. Al-Hijr [15]: 74)

Fa lâ taḫsabannallâha mukhlifa wa‘dihî rusulah, innallâha ‘azîzun dzuntiqâm
“Oleh karena itu, jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan.” (QS. Ibrahim [14]: 47)

Wa taral-mujrimîna yauma’idzim muqarranîna fil-ashfâd
“Pada hari itu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa diikat dengan belenggu.” (QS. Ibrahim [14]: 49)

Dengan uraian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa segala bentuk pembalasan, baik di dunia maupun di akhirat, adalah wujud keadilan Allah swt yang tidak pernah meleset dan menjadi peringatan bagi setiap manusia untuk senantiasa patuh dan bertakwa kepada-Nya.

Leave a Reply