Skip to main content

Pada Khutbah Jumat ICC Jakarta tanggal 19 Desember 2025, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan ceramah yang diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf, membahas kunci kebahagiaan dan kesuksesan yang berlandaskan iman kepada yang ghaib. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an memuat 40 ayat yang menyinggung faktor-faktor kesuksesan, dan pada khutbah sebelumnya, jamaah telah membahas dasar pertama, yaitu iman kepada yang ghaib. Pada khutbah kali ini, beliau menekankan manfaat yang dapat diperoleh dari keimanan tersebut.

Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa manfaat pertama dari keimanan kepada yang ghaib adalah ketakwaan seseorang akan semakin kuat. Takwa merupakan kekuatan dalam diri manusia yang mencegahnya berbuat dosa. Beliau mengutip ayat:

“Dzâlikal-kitâbu lâ raiba fîh, hudal lil-muttaqîn” – Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah · Ayat 2)

Beliau menekankan hubungan erat antara keimanan pada yang ghaib dengan ketakwaan seseorang, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:

“A lam tara annallâha ya‘lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, mâ yakûnu min najwâ tsalâtsatin illâ huwa râbi‘uhum wa lâ khamsatin illâ huwa sâdisuhum wa lâ adnâ min dzâlika wa lâ aktsara illâ huwa ma‘ahum aina mâ kânû, tsumma yunabbi’uhum bimâ ‘amilû yaumal-qiyâmah, innallâha bikulli syai’in ‘alîm” – Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan kepada mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Mujadilah · Ayat 7)

Manfaat kedua yang disampaikan adalah komitmen seseorang terhadap nilai-nilai moral, khususnya kejujuran. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang yang tidak mengimani yang ghaib cenderung berkata dusta, namun tidak mungkin membohongi Allah SWT. Beliau menyinggung contoh sejarah di mana Imam Ali AS menutupi kebenaran kepada Talhah dan Zubair untuk meredam fitnah Perang Jamal, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Manfaat ketiga adalah keyakinan terhadap kebenaran janji-janji Allah SWT. Syaikh Mohammad Sharifani merujuk ayat:

“Man jâ’a bil-ḫasanati fa lahû ‘asyru amtsâlihâ, wa man jâ’a bis-sayyi’ati fa lâ yujzâ illâ mitslahâ wa hum lâ yudhlamûn” – Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan). (Al-An‘am · Ayat 160)

“Matsalulladzîna yunfiqûna amwâlahum fî sabîlillâhi kamatsali ḫabbatin ambatat sab‘a sanâbila fî kulli sumbulatim mi’atu ḫabbah, wallâhu yudlâ‘ifu limay yasyâ’, wallâhu wâsi‘un ‘alîm” – Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah · Ayat 261)

Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung sejumlah riwayat Rasulullah SAW dan para Imam AS. Beliau menjelaskan bahwa jika seorang mukmin mengetahui besarnya kenikmatan akhirat yang telah Allah siapkan, ruhnya akan bergejolak untuk meraihnya. Beliau juga menyebut riwayat mengenai para malaikat yang letih menulis pahala ketika mukminin mengucapkan salawat kepada Rasulullah SAW. Selain itu, beliau menuturkan riwayat membaca Surah Al-Waqi‘ah pada bulan Hijriah yang dimulai pada hari Senin, dari hari pertama hingga hari keempat belas, yang diyakini membuka pintu rezeki. Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa iman kepada yang ghaib adalah landasan semua kunci kesuksesan.

Beliau menyampaikan kisah sejarah, di antaranya Rasulullah SAW yang mengirim surat kepada penguasa Persia, dan konsekuensi dosa yang akan menimpa jika surat tersebut tidak diindahkan, serta reaksi penguasa Persia dan gubernur Yaman. Beliau juga menceritakan Perang Mutah, di mana Rasulullah SAW menggambarkan Jafar bin Abu Thalib gugur dengan kedua tangannya terlepas, sementara Rasul tetap berada di Madinah. Syaikh Mohammad Sharifani menuturkan riwayat mengenai Imam Ali AS dan Imam Husain AS yang dapat mengetahui peristiwa yang akan terjadi, serta para Imam Maksum AS, termasuk Imam Shadiq AS dan Imam Hadi AS, yang dapat mengetahui kejadian sebelum ditanyakan oleh orang lain.

Khutbah kedua menekankan unsur tempat dan waktu sebagai kunci kesuksesan. Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa setiap hari Asyura dianggap sebagai Karbala, dan jamaah diajak memanfaatkan waktu dengan tepat. Beliau menekankan tiga bulan mendatang sebagai periode penting untuk beribadah, dengan contoh Imam Khomeini yang mengurangi aktivitas pertemuan untuk fokus ibadah pada bulan-bulan ini.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan keutamaan bulan Rajab. Rasulullah SAW menyebut Rajab sebagai nama sungai di surga yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Berpuasa pada bulan ini memungkinkan seseorang mencicipi air sungai tersebut dan mendapatkan penghapusan dosa. Tradisi i’tikaf juga ditekankan, di mana jamaah yang melaksanakan i’tikaf bersama Allah SWT akan memperoleh pahala yang berkesinambungan. ICC Jakarta berencana menyelenggarakan program i’tikaf bagi jamaah yang berminat mengikuti tradisi tersebut.

Leave a Reply