ICC Jakarta
No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sambutan direktur
    • Sejarah Berdiri
  • Kegiatan
    • Berita
    • Galeri
  • Artikel
    • Akhlak
    • Alquran
    • Arsip
    • Dunia Islam
    • Kebudayan
    • Pesan Wali Faqih
    • Press Release
    • Sejarah
  • Hubungi kami
  • Login
ICC Jakarta
No Result
View All Result

Keris Menyambungkan Peradaban Santri Indonesia dan Iran

by admin
May 20, 2025
in Kebudayan
0 0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Khusnul Yaqin

Dalam sebuah perhelatan yang tampak sederhana namun sarat makna, terjadi peristiwa simbolik yang luput dari perhatian banyak orang. Di acara peringatan Maulid Imam Ali Ar-Ridha di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Direktur ICC, Prof. Dr. Syaikh Abdolmajid Hakimollahi, menyerahkan sebilah keris berwarangka ladrang Solo berlapis emas kepada tamu agung, Ketua Parlemen Iran, Dr. Mohammad Bagher Ghalibaf. Di mata sebagian orang, ini mungkin hanya seremoni biasa. Namun bagi mereka yang mengerti makna kebudayaan dan akar spiritualitas Nusantara, penyerahan keris itu adalah penyambung dua dunia: dunia santri Indonesia dan dunia santri Iran.

Tak banyak yang tahu bahwa keris adalah artefak budaya yang sangat tua—jauh lebih tua dari masuknya Hindu, Buddha, Islam, apalagi Kristen di kepulauan Nusantara. Ia kemungkinan besar adalah peninggalan masyarakat Kapitayan, sebuah sistem kepercayaan lokal monoteistik yang telah mengenal konsep Ketuhanan Yang Maha Esa sebelum agama-agama besar datang menyebar. Keris bukan sekadar senjata. Ia adalah teks, adalah doa, adalah filosofi yang ditempa di atas bara perenungan spiritual dan nilai-nilai hidup.

Dalam tangan para Wali Songo, keris tidak kehilangan makna lamanya—justru dimurnikan. Ia menjadi simbol kearifan Islam yang membumi dan berakar. Sunan Giri, misalnya, yang dikenal sebagai ulama sekaligus raja, memiliki keris pusaka bernama Kyai Kala Munyeng. Cicitnya, Sunan Prapen, bahkan merekonstruksi keris tersebut menjadi Suro Angon-Angon, sebuah keris yang menemani spiritualitas bulan Suro. Para santri tak sekadar belajar kitab; mereka juga menempa batin lewat simbol-simbol budaya seperti keris—yang pamornya tidak hanya indah, tetapi memuat kosmologi hidup: dari konsep kehambaan, cinta, kesetiaan, hingga kesatuan manusia dengan Tuhan.

Pamor dalam keris bukan sekadar hiasan. Ia adalah naskah tak bersuara yang mengguratkan ajaran, seperti ungkapan tua: “curiga manjing warangka, jumbuhing kawula lan Gusti.” Bilah keris sebagai manusia, warangka sebagai Tuhan. Keris adalah miniatur kosmos dalam genggaman. Maka ketika keris diberikan kepada Mohammad Bagher Qalibaf, seorang jenderal sekaligus murid Imam Khomeini, itu bukanlah pemberian biasa. Itu adalah salam dari tradisi batin para santri Indonesia kepada sesama santri di tanah Persia.

Qalibaf bukan hanya pejabat negara. Ia adalah simbol generasi Iran yang ditempa oleh madrasah revolusioner—madrasah spiritual, intelektual, dan politik yang digerakkan Imam Khomeini. Dalam dirinya menyatu semangat santri dan perlawanan, doa dan disiplin, keilmuan dan keberanian. Maka ketika keris Indonesia itu berpindah tangan ke Qalibaf, sejatinya yang berpindah bukan hanya logam, tetapi ingatan panjang tentang peradaban santri yang lintas batas.

Keris itu kini bukan hanya benda pusaka, tapi jembatan budaya. Ia menghubungkan Solo dan Qom, Giri dan Khomeini, pesantren dan hauzah, serta Indonesia dan Iran. Ia mengajarkan bahwa meski berbeda bahasa dan sejarah, santri di mana pun memiliki satu ruh: ruh ketulusan, perjuangan, dan pencarian hakikat.

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh identitas sempit, simbol seperti keris mampu merangkul kembali akar spiritualitas bersama yang universal. Di tengah riuh politik global, masih ada ruang untuk isyarat lembut yang mengikat kita sebagai sesama pencari kebenaran. Dan pada hari itu, di ICC Jakarta, sebilah keris menjadi saksi: bahwa peradaban santri tak mengenal batas negara. Yang ada hanyalah kesinambungan ruhani—dari bilah yang tajam menuju warangka yang setia. Dari Indonesia menuju Iran. Dari kita menuju mereka. Dalam damai. Dalam cahaya.

 

admin

admin

Related Posts

Kiai Saleh Darat: Ulama Visioner, Guru Para Kiai, dan Inspirasi RA Kartini
Islam Nusantara

Kiai Saleh Darat: Ulama Visioner, Guru Para Kiai, dan Inspirasi RA Kartini

August 28, 2025

Pendahuluan Sejarah Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga membangun basis...

Karawitan Jawa: Nada-Nada Abadi Penjaga Jiwa dan Budaya
Kebudayan

Karawitan Jawa: Nada-Nada Abadi Penjaga Jiwa dan Budaya

August 26, 2025

  Di tengah derasnya arus musik digital dan tren global, karawitan Jawa hadir sebagai suara yang lembut, menenangkan, dan penuh...

Epistemologi Rasa: Membandingkan Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dan KPPH Mustopa dalam Tradisi Jawa dan Sunda
Islam Nusantara

Epistemologi Rasa: Membandingkan Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dan KPPH Mustopa dalam Tradisi Jawa dan Sunda

August 25, 2025

Pendahuluan Indonesia memiliki kekayaan intelektual dan budaya yang lahir dari para pujangga, ulama, dan budayawan yang tidak hanya berkarya dalam...

Bagaimana Kebudayaan Berkembang? Perspektif Filsafat Muhammad Taqi Ja‘fari
Kebudayan

Bagaimana Kebudayaan Berkembang? Perspektif Filsafat Muhammad Taqi Ja‘fari

August 22, 2025

Pendahuluan Kata kebudayaan mungkin terdengar akrab di telinga kita, apalagi di era globalisasi dan media sosial yang begitu cepat membentuk...

Tirakat dalam Budaya Jawa: Pendekatan Filsafat Perennial
Islam Nusantara

Tirakat dalam Budaya Jawa: Pendekatan Filsafat Perennial

August 20, 2025

Pendahuluan Budaya Jawa dikenal kaya dengan simbol, laku spiritual, dan filosofi hidup yang sarat makna. Salah satu aspek penting dari...

Filsafat Stoa dan Relevansinya dengan Pandangan Ronggowarsito III
Islam Nusantara

Filsafat Stoa dan Relevansinya dengan Pandangan Ronggowarsito III

August 19, 2025

Filsafat Stoa dan Relevansinya dengan Pandangan Ronggowarsito III Pendahuluan Filsafat adalah refleksi mendalam tentang kehidupan, kebahagiaan, dan makna eksistensi. Sejak...

Next Post

Menikah & Menikahkan Dalam Anjuran Islam

Diplomasi Selatan: Indonesia dan Iran Menata Ulang Solidaritas Dunia

Majelis Taklim Ahlulbait Zainab Al-Kubra Resmi Dimulai, ICC Hadirkan Kajian Tematik Rutin Setiap Pekan

Majelis Taklim Ahlulbait Zainab Al-Kubra Resmi Dimulai, ICC Hadirkan Kajian Tematik Rutin Setiap Pekan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ICC Jakarta

Jl. Hj. Tutty Alawiyah No. 35, RT.1/RW.7, Pejaten Barat.
Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510

Telepon: (021) 7996767
Email: iccjakarta59@gmail.com

Term & Condition

Agenda

[tribe_events_list]

HUBUNGI KAMI

Facebook
Telegram

Jadwal Salat Hari Ini

sumber : falak-abi.id
  • Lintang: -6.1756556° Bujur: 106.8405838°
    Elevasi: 10.22 mdpl
Senin, 26 Desember 2022
Fajr04:23:34   WIB
Sunrise05:38:32   WIB
Dhuhr11:53:01   WIB
Sunset18:07:31   WIB
Maghrib18:23:39   WIB
Midnight23:15:32   WIB
  • Menurut Imam Ali Khamenei, diharuskan berhati-hati dalam hal waktu salat Subuh (tidak berlaku untuk puasa) dengan menambah 6-7 menit setelah waktu diatas

© 2022 ICC - Jakarta

No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sambutan direktur
    • Sejarah Berdiri
  • Kegiatan
    • Berita
    • Galeri
  • Artikel
    • Akhlak
    • Alquran
    • Arsip
    • Dunia Islam
    • Kebudayan
    • Pesan Wali Faqih
    • Press Release
    • Sejarah
  • Hubungi kami

© 2022 ICC - Jakarta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist