Sejarah

Sejarah Masjid

 

ICC Jakarta – Pada masa kini, masjid ada dimana-mana, baik masjid jami ataupun masjid biasa yang ada disetiap perkampungan-perkampungan masyarakat. Namun bagaimana sebenarnya sejarah masjid pada pertama kalinya? Kita akan menguraikannya.

Masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Quba. Ketika Nabi Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah beliau singgah di Quba selama seminggu. Atas permintaan masyarakat, Nabi Saw bersama kaum muslimin membangun masjid di sana. Sebagian menyebutkan, Masjid Quba dibangun atas saran Ammar Yasir.

Setelah berhijrah ke Madinah, Nabi Saw memilih sebuah tempat untuk salat dan berkumpul kaum muslimin. Lalu bersama para sahabatnya beliau membangun tempat sederhana yang kemudian dinamakan Masjid Nabawi. Dengan cepat Masjid Nabawi menjelma sebagai tempat terpenting bagi kaum muslimin. Masjid ini digunakan untuk keperluan pendidikan agama, aktifitas sosial, dan tempat pengambilan keputusan masalah-masalah penting. Memang sebelumnya, ketika di Mekkah, Nabi Saw sudah mendirikan salat jemaah bersama para sahabatnya, namun saat itu belum ada tempat khusus yang dijadikan sebagai masjid.

Setelah hijrahnya Nabi Saw ke Madinah, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah namun juga pusat pemerintahan, pendidikan dan dakwah Islam. Begitu Darul Imarah dan madrasah-madrasah berdiri, masjid lebih banyak difungsikan sebagai tempat ibadah.

Setelah kaum muslimin menaklukkan Irak dan Afrika Utara pada abad pertama hijriah, mereka meniru Rasulullah Saw ketika di Madinah dengan mendirikan masjid sebagai pusat pangkalan militer. Begitu pangkalan-pangkalan pasukan Islam berubah menjadi kota, sebagaimana Bashrah, Kufah, Fustat, dan Kairouan, masjid yang dibangun di sana pun menjadi bangunan masjid permanen. Hal yang sama juga terjadi di Baghdad pada abad ke-2 H dan di Kairo pada abad ke-4 H. Begitu juga di Damaskus, Baitul Maqdis, dan Madain.

Setelah pembangunan Masjid Quba dan Masjid Nabawi, kaum muslimin banyak membangun masjid di wilayah-wilayah Islam lainnya, di antaranya, Masjid Kufah (17 H), Masjid Fustat (21 H), dan Masjid Jami Bashrah (24 H).

Menurut Ibnu Khaldun, ada dua macam masjid kota: 1- Masjid agung yang dikelola pemerintah dan digunakan untuk Salat Jumat dan perkumpulan kaum muslimin, 2- Masjid kecil yang dibangun dan kelola warga. Di masa awal Islam biasanya para khalifah dan pejabatnya membangun kediaman mereka di dekat masjid jami, tujuannya adalah meneladani Rasulullah Saw di Madinah dan memelihara tradisi lama. Sedangkan masyarakat umum membangun masjid di lingkungan masing-masing kabilah mereka. Dengan bertambahnya kekuasaan dan makin banyaknya harta pemerintah Islam, masjid-masjid juga makin banyak didirikan. Ditunjang dana wakaf, biasanya masyarakat berperan serta dalam membangun dan mengelola masjid-masjid di lingkungan mereka.

Saat ini masjid lebih banyak difungsikan sebagai tempat ibadah sehari-hari dan Salat Jumat. Dalam salat atau acara-acara yang diselenggarakan di masjid biasanya perempuan berada di belakang laki-laki bersekat kain atau di ruang terpisah.

Jika kita ingin memasuki masjid, terdapat aturan dan adab yang harus dijaga oleh setiap orang yang memasukinya. Aturan dan adab tersebut banyak tertera dalam al-Qur’an dan hadis. Hal utama menyangkut aturan di masjid adalah kesucian dan kebersihan.

Di antara aturan di masjid adalah, disunnahkan mengenakan pakaian putih, makruh mengenakan pakaian hitam dan orang yang dalam keadaan junub dan perempuan haidh diharamkan memasukinya.

Dalam budaya Islam, tentunya berdasar al-Qur’an dan riwayat para pembesar agama, masjid memiliki keutamaan, kehormatan dan nilai istimewa. Al-Qur’an menilai bahwa menjaga dan memakmurkan masjid adalah pekerjaan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan hari kiamat. Salah satu sebab kenapa kaum muslimin selalu menjaga bangunan masjid adalah kesucian dan keutamaan yang dimiliki masjid. Dengan bekal agama mereka merasa bertanggung jawab dalam menjaga dan memakmurkannya. Masjid adalah basis kebudayaan Islam. Selama empat belas abad kaum muslimin telah menyalurkan bakat ketrampilan mereka di bidang pembangunan dan pendirian masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *