Mahdawiyah

Menjalin Hubungan Dengan Imam Mahdi As Di Masa-Masa Keghaiban – Bagian 3

ICC Jakarta – Terkait mengenai bagaimana cara seseorang menjalin hubungan dengan Imam Mahdi Afs, terdapat empat pandangan penting:

  1. Seseorang tidak akan dapat berjumpa dengan Imam Mahdi As secara mutlak
  2. Seseorang akan berjumpa dengan Imam As, akan tetapi ia tidak akan mengenalnya.
  3. Seseorang, disamping dapat berjumpa dengan Imam As, juga dapat mengenalnya. Akan tetapi, ia dilarang menceritakan kepada orang lain.
  4. Seseorang selain berjumpa dengan Imam As, juga dibolehkan menceritakan perjumpaannya kepada orang lain.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Penjelasan poin ke tiga adalah sebagai berikut: padaMenurut pendapat ini seseorang memiliki kemampuan untuk berjumpa dengan Imam Mahdi As. Hanya saja, dalam pertemuan dan perjumpaan tersebut, Imam As tidak akan dapat dikenal oleh manusia.

Menurut pendapat ini, Imam Mahdi As selain dapat ditemui, beliau juga dapat dikenal. Akan tetapi, setiap orang yang berhasil bertemu dengan Imam As tidak memiliki hak untuk menceritakannya kepada orang lain.

Pandangan ini timbul atas perintah Imam Mahdi As berdasarkan apa yang tertera di tawqi‘ yang ditujukan kepada Ali bin Muhammad Samari. Tawqi’ tersebut sampai ditangan duta khusus Imam As yang keempat enam hari sebelum ia meninggal dunia[1]. Bunyi tawqi’ tersebut adalah, “Bismillahirrahmanirahim. Wahai ‘Ali bin Muhammad Samari! Semoga Allah membalas perbuatan saudara-saudaramu yang mereka lakukan kepadamu. Enam hari lagi engkau akan meninggal dunia. Lakukan seluruh pekerjaan-pekerjaan yang masih tersisa. Jangan berwasiat kepada siapapun tentang siapakah yang akan menggantikanmu, karena sekarang telah tiba bagiku untuk memasuki masa ghaibah kubra. Aku tidak akan muncul selama keghaiban tersebut sehingga Allah Swt memberiku ijin untuk itu. Dan aku akan diberi ijin untuk itu setelah masa yang cukup lama, masa ketika hati manusia sudah keras dan bumi telah dipenuhi dengan penindasan. Sebentar lagi, ada beberapa orang dari syiahku yang mengaku telah berjumpa denganku. Ketahuilah, bahwa barang siapa yang mengaku telah berjumpa denganku sebelum keluarnya Al-Sufyâni wa al-Shaihat, maka ia adalah pembohong belaka. Walâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliy al-‘azhim[2].

Terdapat tiga poin penting dalam tawqi’ tersebut, diantaranya adalah;

  1. Perdutaan khusus Imam As yang diawali dengan diangkatnya ‘Utsman bin Sa’id Al-‘Amri dan akan berakhir dengan meninggalnya duta keempat Imam As, ‘Ali bin Muhammad Samari (wa lâ tûshi ilâ ahadin fayaqûma maqâmaka ba’da wafâtika).
  2. Pergantian periode keghaiban Imam As, dari ghaibah shughra kepada ghaibah kubra (Faqad waqa’at al-ghaibatu al-tâmmah).
  3. Orang yang mengaku bahwa dirinya pernah berjumpa dengan Imam Mahdi As adalah bohong (Alâ faman idda’a al-musyahadata qabla khurûj al-Sufyâni wa al-Shaihati fa huwa kadzâb muftar).

Yang dimaksud pembohong adalah pada kalanya orang itu sangat yakin bahwa yang di temuinya adalah Imam Mahdi As dan pada waktu  yang lain ia hanya menyangka bahwa yang ia temui adalah Imam Mahdi As dan bahkan iia hanya membual dan omong kosong belaka.

Terdapat salah seorang ulama’ yang mempermasahkan tawqi’ tersebut dengan mengatakan, “Hadis itu, selain dha’if, juga disebut sebagai khabar al-wâhid. Khabar al-wâhid tidak menghasilkan sesuatu kecuali  zhan (tidak sampai pada tingkatan yakin) yang masih dapat diragukan kebenarannya. Oleh karenanya, hadis itu tidak dapat disejajarkan dengan hadis dan riwayat-riwayat yaqini (sampai pada tingkatan yakin) yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Sekalipun, dilihat dari kandungan yang tersirat dalam tawqi’ tersebut, tidak mungkin apabila hadis itu tidak berasal dari Imam As secara langsung. Karena dalam tawqi’ itu tersirat perkara ghaib (pengabaran akan kapan duta terakhir Imam akan meninggal).   ..[3]

Empat kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang ditulis oleh beliau yaitu;

  1. Tawqi’ tersebut adalah khabar al-wâhid yang tidak dapat di benarkan begitu saja.
  2. Tawqi’ tersebut juga salah satu khabar mursal serta dha’if.
  3. Syaikh Thusi, sebagai perawi tawqi’ itu, bahkan tidak mengamalkannya.
  4. Tawqi’ tersebut adalah tertolak dengan sendirinya (mu’radh ).  Hal itu karena banyak diantara sahabat Imam As yang mengkisahkan bahwa terdapat beberapa orang yang pernah berjumpa dengan Imam Mahdi As.

 

Jawaban atas Sanggahan di Atas

  1. Tawqi’ tersebut bukanlah khabar mursal

Hal itu karena Syaikh Shaduq dalam kitabnya, Kamâl al-Dîn menyebutnya dengan sanad yang lengkap. Selain itu, Syaikh Thusi dalam meriwayatkan hadis tersebut mengambil sumber dari Ibnu Babawaih dengan mengatakan, “Akhbaranâ jamâ’atun”. Dari sini maka kita dapat katakan bahwa tawqi’ itu tidak hanya bersumber dari satu orang saja melainkan juga berasal dari orang yang berbeda-beda. Dan, sekiranya tawqi’ ini disebutkan oleh Syaikh Thabarsi dalam kitabnya, Al-Ihtijâj sebagai riwayat dan hadis mursal, maka yang perlu diingat adalah bahwa dibagian awal-awal kitabnya, ia mengatakan, “aku tidak sebutkan sanad riwayat-riwayat yang ada, entah itu karena riwayat-riwayat tersebut telah masyhur adanya, atau karena tidak bertentangan dengan akal, ataukah telah disepakati (mujma’ ‘alaih) “.

  1. Tawqi’ tersebut juga tidak dapat dikatakan dha’if

Hal itu karena semua orang yang meriwayatkan tawqi’ dan hadis tersebut adalah muwatsaq. Sementara dalam ilmu Ushul, kita juga telah mengetahui bahwa khabar al-wâhid adalah tsiqah dan kita diperbolehkan untuk bersandar kepadanya[4].

Melihat dari banyaknya perawi yang telah meriwayatkan hadis tersebut, ditambah pula dengan adanya penekanan yang dari Ulama’ yang kemudian mencatat hal tersebut dalam kitab-kitab mereka, maka tidak salah sekiranya kita meyakini kebenaran hadis dan tawqi’ itu dan menjadikannya sebagai bukti akan kebenaran masalah tersebut.

  1. Apabila dikatakan bahwa Syaikh Thusi yang merupakan salah seorang perawi hadis itu justru tidak mengamalkan tawqi’ tersebut, maka perkataan seperti itu tidak dapat dibenarkan

Hal itu karena maksud Syaikh Thusi dari kata ghaibah dalam hadis tersebut adalah ghaibah pada masa keghaiban shughra. Sementara tawqi’ itu mengisyaratkan bahwa Imam Mahdi As tidak akan mungkin untuk dapat dilihat di masa ghaibah kubra (bukan di masa ghaibah kubra). Dan, siapa saja yang mengaku telah berjumpa dengan Imam Mahdi As pada masa ghaibah kubra, maka ia telah berkata bohong.

  1. Apabila dikatakan bahwa tawqi‘ tersebut mu’radz ‘anhu (tertolak dengan sendirinya), maka hal itu tidak dapat dibenarkan

Hal itu karena para ‘Alim dan Ulama’ yang datang setelah masa Syaikh Shaduq masih tetap meriwayatkan tawqi’ tersebut. Bahkan mereka juga sangat yakin akan kebenaran sanad dari tawqi’ itu.

Selain itu, tawqi’ itu baru dapat dapat dikatakan tertolak dengan sendirinya, apabila seluruh perawi tawqi’ itu percaya bahwa pengakuan seseorang yang dapat bertemu dengan Imam Mahdi As adalah benar. Sementara pada kenyataannya, kita tidak dapat mengatakan demikian. Adapun apabila terdapat sebagian sahabat yang menolak tawqi’ tersebut, maka penolakan sebagian mereka tidak dapat kita jadikan dalil bahwa bahwa tawqi’ tersebut tidak shahih.

Mungkin terdapat penasiran lain yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan tawqi’ tersebut adalah bahwa selain seseorang mengaku dapat berjumpa dengan Imam Mahdi As, ia juga mengaku sebagai duta atau utusan Imam As. Ia mengaku bahwa ia telah mendapat tugas sebagai perantara (penyampai surat-surat yang datang dari masyarakat kepada Imam dan menyampaikan kembali jawaban-jawabannya kepada mereka) antara kaum syiah dengan Imam As itu sendiri.

Sebagai jawaban, dapat kita katakan bahwa penafsiran semacam ini justru akan berseberangan dan memiliki makna yang kontradiksi dengan pesan dan kandungan yang ada dalam tawqi’ Imam As tersebut. Karena apabila demikian, maka Imam As akan mengatakan, “Alâ faman idda’â al-musyâhadata ma’a al-safârah au al-wikâlah fa huwa kadzâb.” Sementara dalam tawqi’ tersebut, Imam As menyebutnya secara mutlak dengan mengatakan, “Alâ faman idda’a al-musyahadata qabla khurûj al-Sufyâni wa al-Shaihati fa huwa kadzâb muftar.

Pada kesempatan kali ini, ada baiknya kita juga sedikit mengisyaratkan sebagian perkataan ulama’ yang menyatakan bahwa Imam Mahdi As dapat ditemui oleh seseorang, akan tetapi orang tersebut pasti tidak akan angkat bicara tentang perjumpaan dirinya dengan Imam Mahdi As.

Sayid Murtadha, selain tidak percaya bahwa Imam Mahdi As secara pasti dapat dilihat, ia juga tidak yakin secara pasti bahwa Imam As mustahil dapat dilihat. Dalam kitabnya, Sayid Murtadha mengatakan, “Aku tidak dapat memastikan akan kemustahilan seseorang untuk bertemu dengan Imam As. Hal itu karena perkara ini merupakan sebuah perkara yang tidak jelas dan mustahil dapat sampai pada keyakinan.[5]

Sayid Murtadha ketika menjawab sebuah pertanyaan tentang ‘apabila keghaiban Imam As hanya disebabkan karena ketakutannya kepada musuh-musuhnya’ mengatakan, “Tidak ada masalah sekiranya Imam As menampakkan dirinya kepada sebagian teman-temannya, atau kepada orang-orang yang dianggapnya tidak berbahaya. Karena sesungguhnya, perkara ini merupakan sebuah perkara, apabila seseorang ditanya apakah hal ini benar adanya ataukah tidak, maka ia akan berhenti dan tidak akan dapat menjawab “ya” ataukah “tidak”. Hendaknya, cukuplah bagi setiap orang syiah untuk mengetahui siapakah dirinya, tanpa harus mengutarakannya kepada orang lain.[6]

Terdapat beberapa poin penting yang dapat diambil dari perkataan yang disampaikan oleh Sayid Murtadha diantaranya adalah;

Pada awal perkataannya, ia hanya menolak tidak dapat memastikan apakah Imam As mustahil ditemui atakah tidak. Artinya ia tidak menerima pendapat yang mengatakan bahwa Imam As dapat ditemui. Karena apabila ia menerima pendapat yang mengatakan bahwa Imam As dapat ditemui, maka dengan jelas ia akan mengutarakannya.

Pada penghujung perkataannya, (hendaknya, cukuplah bagi setiap orang syiah untuk mengetahui siapakah dirinya, tanpa harus mengutarakannya kepada orang lain), ia juga menolak pengakuan seseorang yang mengklaim dirinya telah bertemu dengan Imam Mahdi As.

Syaikh Thusi ketika ditanya tentang apa maksud dari gurunya, ia mengatakan, “Petama, kita tidak yakin bahwa Imam Mahdi As  ghaib dari seluruh para pengikutnya. Akan tetapi, dapat saja beliau akan muncul dan nampak bagi sebagian lainnya. Sungguh, manusia tidak akan mengetahui selain dirinya sendiri.[7]

Dari penjelasan, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa menurut Syaikh Thusi, seseorang dapat saja berjumpa dengan Imam Mahdi As. Akan tetapi, ia tidak berhak untuk mengutarakannya kepada orang lain. Dan Syaikh Thusi juga sangat menolak pengakuan seseorang yang telah mengklaim dirinya telah berjumpa dengan Imam Mahdi As.

Sayid ibn Thawus juga mengatakan kepada anaknya sebagai berikut, “Sekarang, apabila Imam Mahdi As ghaib dari pandangan kaum syiah, bukan berarti bahwa tidak ada orang yang dapat berjumpa dengannya. Akan tetapi, mungkin saja ada diantara mereka yang dapat bertemu dan mengambil manfaat langsung dari Imam As dan tidak mengutarakannya kepada orang lain….[8]

Berdasarkan penjelasana itu dapat kita simpulkan bahwa Ibnu Thawus juga menyangkal dan tidak percaya kepada pengakuan seseorang yang mengklaim dirinya telah berjumpa dengan Imam Mahdi As.

Muhaqqiq Ardabeli, selepas menukil perkataan Thabarsi yang berbunyi; kami tidak dapat memastikan akan kemustahilan seseorang untuk bertemu dengan Imam As, berkata dengan penuh keheranan, “Mengapa Al-Marhum Thabarsi berkata demikian? Tidakkah seharusnya ia berkata bahwa perkara itu pasti adanya (bahwa Imam Mahdi As tidak akan dapat ditemui). Hal itu karena ia sendiri telah menyebut sebuah tawqi’ yang menyatakan bahwa seseorang mustahil dapat bertemu dengan Imam Mahdi As (fa man idda’a musyâhadata….).

Setelah itu, Muhaqqiq Ardabeli berusaha menjelaskan tentang maksud perkataan Al-Marhum Thabarsi dengan mengatakan, “Beliau ingin menyampaikan apabila seseorang dapat berjumpa dengan Imam Mahdi As, maka ia tidak akan mengutarakannya kepada siapapun. Dan barang siapa yang mengaku bahwa dirinya pernah berjumpa dengan Imam Mahdi As, maka ia tidak lain hanyalah seorang pembohong belaka.[9]

[1]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HQ, jil. 2, hal. 516, hadis 44; Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HQ, hal. 395; Rawandi. Quthub al-Din, Quthubuddin. Al-Kharâij wa al-Jarâih, Qum, Muassasah Imam Mahdi As, 1409 HQ, jil. 2, hal. 1128; Ahmad bin Ali Thabarsi. Ihtijâj, Masyhad, Murtadha, 1403 HQ, jil. 2, hal. 478; Ali bin Isa Arbali. Kasyf al-Ghimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, Tabriz, Maktabah Bani Hasyim, 1381 HS, jil. 2, hal. 538; Ali bin Abdul Karim Naili Najafi, Muntakhab al-Alwâr al-Madhiyah, Qum, Al-Hadi, 1401 HQ, hal. 130.

[2]. Ibid.

[3]. Mirza Husain Thabarsi. Najm al-Tsâqib, cetakan kedua, Qum, Masjid Jamkaran, 1377 HS, hal. 484.

[4]. Guruhi az Newisandegan, Fashlnameh-e Intizhar, Qum, Markaz-e Takhashushi-e Mahdawiyat, jil. 18, hal. 142.

[5]. Sayid  Murtadha, Tanzîh-u al-Anbiyâ’, hal. 235.

[6]. Ibid, hal. 238.

[7]. Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HS , hal. 99.

[8]. Sayid bin Thawûs, Al-Tharâif, hal. 185.

[9]. Ali bin Isa Arbali. Kasyf al-Ghimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, Tabriz, Maktabah Bani Hasyim, 1381 HS, jil. 2, hal. 538.

 (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

  1. Catatan Kaki

    [1]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HQ, jil. 2, hal. 516, hadis 44; Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HQ, hal. 395; Rawandi. Quthub al-Din, Quthubuddin. Al-Kharâij wa al-Jarâih, Qum, Muassasah Imam Mahdi As, 1409 HQ, jil. 2, hal. 1128; Ahmad bin Ali Thabarsi. Ihtijâj, Masyhad, Murtadha, 1403 HQ, jil. 2, hal. 478; Ali bin Isa Arbali. Kasyf al-Ghimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, Tabriz, Maktabah Bani Hasyim, 1381 HS, jil. 2, hal. 538; Ali bin Abdul Karim Naili Najafi, Muntakhab al-Alwâr al-Madhiyah, Qum, Al-Hadi, 1401 HQ, hal. 130.

    [2]. Ibid.

    [3]. Mirza Husain Thabarsi. Najm al-Tsâqib, cetakan kedua, Qum, Masjid Jamkaran, 1377 HS, hal. 484.

    [4]. Guruhi az Newisandegan, Fashlnameh-e Intizhar, Qum, Markaz-e Takhashushi-e Mahdawiyat, jil. 18, hal. 142.

    [5]. Sayid  Murtadha, Tanzîh-u al-Anbiyâ’, hal. 235.

    [6]. Ibid, hal. 238.

    [7]. Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HS , hal. 99.

    [8]. Sayid bin Thawûs, Al-Tharâif, hal. 185.

    [9]. Ali bin Isa Arbali. Kasyf al-Ghimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, Tabriz, Maktabah Bani Hasyim, 1381 HS, jil. 2, hal. 538.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *